Oleh: Muhamad Yusuf, S.Pd
Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin
“Hari Guru bukan hanya perayaan, tetapi pengingat bahwa masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh ketulusan orang-orang yang mengajar dengan hati.”
Hari Guru selalu menjadi ruang refleksi: apakah profesi yang mulia ini masih diperlakukan dengan kemuliaan yang sama? Di balik perayaan, para guru terus menanggung beban yang tak terlihat, tekanan, tuntutan, serta stigma yang kian kompleks seiring perubahan zaman dan perkembangan teknologi.
Mesin dan kecerdasan buatan hadir sebagai alat bantu, tetapi justru menambah ruang salah paham terhadap peran guru. Banyak yang menganggap teknologi mampu menggantikan proses mengajar. Padahal, di balik angka nilai, presensi, dan administrasi, ada sisi emosional dan perjuangan yang tak pernah bisa dibaca oleh algoritma. Guru bekerja dengan hati, dan hati tak dapat digantikan mesin.
Guru yang Kian Sering Direndahkan
Perubahan sosial membuat otoritas guru yang dulu disegani kini makin sering dipertanyakan. Di banyak sekolah, guru diperlakukan bukan sebagai pendidik, tetapi sebagai penyedia jasa yang harus memenuhi standar dan keinginan orang tua. Ketika perilaku siswa bermasalah, guru dituding tidak becus mendidik. Ketika nilai rendah, guru dianggap tidak mampu mengajar. Ketika guru memberi hukuman edukatif, malah dituduh melakukan kekerasan.
Lebih menyakitkan lagi, sebagian orang tua kini lebih cepat menghakimi sebelum memahami. Mereka langsung marah tanpa menelusuri perilaku anak. Dalam situasi seperti ini, guru seolah berdiri sendirian, memilih menjaga martabat profesi sambil menghadapi penilaian yang tidak adil.
Guru tidak meminta pujian berlebihan. Mereka hanya ingin dihargai sewajarnya. Pendidikan adalah kerja bersama, bukan beban yang diletakkan di pundak satu pihak. Hilangnya rasa hormat terhadap guru bukan hanya pukulan bagi profesi pendidikan, tetapi ancaman bagi masa depan bangsa.
Siswa yang Semakin Sulit Dididik
Generasi yang tumbuh dengan kemudahan digital dan ekspresi tanpa batas membawa tantangan baru bagi guru. Kesantunan bukan lagi nilai yang otomatis hadir; ia perlu diajarkan ulang.
Di kelas, guru kerap mendapati jawaban yang tidak sopan, tingkah yang tidak menghargai, serta sikap acuh terhadap proses belajar. Bagi sebagian siswa, sekolah hanyalah ruang untuk bersosialisasi dan bermain gawai. Peringatan dianggap menyebalkan, tugas dianggap memberatkan, nasihat sering ditertawakan.
Guru tidak hanya menghadapi persoalan akademik, tetapi juga persoalan karakter. Pengaruh gawai dan konten media sosial membuat siswa makin sulit dibentuk secara emosional dan moral. Banyak dari mereka tidak hanya sulit dididik, tetapi juga semakin sulit disentuh hatinya.
Kejujuran yang Memudar di Era AI
Di masa lalu, kejujuran dibangun melalui proses. Kini, teknologi memberi celah bagi kemudahan instan. Tugas-tugas dapat diselesaikan dengan satu klik melalui generator teks, gambar, atau presentasi. Dampaknya, banyak siswa kehilangan motivasi untuk berpikir dan berproses.
Guru sering menemukan jawaban serupa di antara banyak siswa. Ciri khas pekerjaan yang sepenuhnya dibuat oleh mesin. Lebih menyedihkan ketika siswa menyangkalnya.
Ini bukan masalah teknologi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah hilangnya nilai tekun, jujur, dan bangga terhadap usaha sendiri. Bagi guru, ini adalah luka baru: melihat anak didiknya menjadi “pintar” secara instan, tetapi tidak bertumbuh secara intelektual maupun moral.
Keteladanan Guru Tersisihkan oleh Publik Figur
Tantangan lain datang dari budaya populer. Banyak publik figur yang memamerkan perilaku tidak mendidik seperti konflik, ujaran provokatif, dan gaya hidup berlebihan. Konten-konten sensasional lebih cepat viral dibanding nilai-nilai karakter yang setiap hari diajarkan guru di sekolah.
Remaja meniru idola mereka di media sosial: gaya bicara, gaya interaksi, bahkan gaya menyerang orang lain. Pengaruh teladan buruk ini membuat suara guru tenggelam. Akibatnya, guru harus bekerja dua kali lebih berat, mengoreksi perilaku digital siswa sekaligus membangun karakter mereka sejak awal.
Air Mata Guru yang Tak Terlihat
Di balik kesibukan mengajar, ada air mata yang tidak pernah disuarakan.
Air mata ketika difitnah.
Air mata ketika siswa yang paling dibantu justru paling sering mengeluh.
Air mata ketika orang tua marah tanpa mencari tahu kebenaran.
Air mata ketika kerja keras dianggap tidak berarti.
Air mata ketika melihat siswa gagal karena malas berusaha.
Air mata ketika merasa tidak ada yang memahami.
Guru menangis bukan karena rapuh, tetapi karena terlalu kuat menahan banyak hal. Dalam kebanyakan kasus, mereka memilih diam dan tetap tersenyum di depan kelas. Mereka tetap mengajar meski hati mereka terluka.
Dunia sering lupa bahwa guru adalah manusia. Mereka bisa lelah, kecewa, salah, dan terluka. Namun dalam diamnya, mereka tetap berdiri sebagai penopang masa depan bangsa.
Mengembalikan Martabat Guru, Menguatkan Masa Depan Bangsa
Hari Guru bukan sekadar perayaan seremonial. Ia adalah saat untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah guru diberi penghormatan yang layak? Apakah mereka merasa aman untuk bekerja? Apakah suara mereka didengar dalam pengambilan kebijakan? Teknologi tidak akan pernah menggantikan peran guru, karena guru membangun karakter, bukan sekadar menyampaikan materi.
Mengembalikan martabat guru berarti menjaga fondasi bangsa. Tidak akan lahir dokter yang hebat, insinyur yang visioner, atau pemimpin yang bijaksana tanpa guru yang dihormati. Guru adalah akar yang menumbuhkan pohon peradaban.
Guru Harus Bersatu Membangun Karakter Bangsa
Tantangan pendidikan hari ini sangat kompleks: budaya instan, melemahnya nilai dasar, rendahnya literasi, tekanan administratif, hingga kurangnya dukungan orang tua. Guru tidak mungkin menghadapi semua itu sendirian.
Persatuan antarguru menjadi benteng penting. Melalui kolaborasi, guru dapat saling menguatkan, berbagi praktik terbaik, dan menyuarakan aspirasi bersama. Dengan visi dan solidaritas yang sama, guru bukan hanya pengajar, tetapi penjaga moral bangsa.
Ketika guru bersatu, mereka mampu memastikan bahwa pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan berijazah, tetapi manusia yang berkarakter kuat, dan itu adalah fondasi yang dibutuhkan bangsa untuk melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Editor : Arief