Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Demokrasi Inklusif untuk Kota Banjarmasin

admin • Senin, 24 November 2025 | 20:39 WIB
Kristo Meidi
Kristo Meidi

              Oleh: Kristo Meidi
              Mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan,
              Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
              Universitas Lambung Mangkurat

Demokrasi Indonesia tengah berada dalam fase yang menuntut penguatan dari berbagai sisi. Di tingkat nasional, muncul sejumlah tantangan seperti polarisasi sosial, ketimpangan politik, dan merosotnya kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara. Namun, denyut demokrasi yang sebenarnya tidak hanya berdenyut di pusat kekuasaan; ia tumbuh dan diuji setiap hari di tingkat lokal, di kota, kabupaten, dan lingkungan tempat masyarakat berinteraksi langsung. Banjarmasin, sebagai salah satu kota besar di Kalimantan, menjadi contoh penting bagaimana demokrasi lokal menghadapi dinamika yang unik sekaligus penuh potensi.

Kota ini merupakan ruang perjumpaan beragam kelompok masyarakat. Identitas Banjar menjadi karakter dominan, tetapi denyut kehidupan kota juga dihidupkan oleh warga Madura, Jawa, Dayak, Bugis, dan berbagai kelompok minoritas lainnya. Keberagaman ini adalah modal sosial yang besar. Namun tanpa pengelolaan yang inklusif, keberagaman dapat berubah menjadi sumber kecemburuan sosial, prasangka, dan kesenjangan partisipasi. Oleh sebab itu, demokrasi yang berkeadilan menjadi kebutuhan mendesak bagi Banjarmasin agar pembangunan tidak hanya bergerak maju, tetapi juga merangkul semua.

Membaca Realitas Demokrasi dalam Keberagaman

Keberagaman di Banjarmasin bekerja pada dua sisi. Di satu sisi, ia menjadi kekuatan yang memperkaya dinamika sosial. Masyarakat dari latar belakang berbeda berinteraksi melalui aktivitas ekonomi, budaya, hingga kegiatan keagamaan. Di sisi lain, keberagaman menciptakan jarak dan potensi gesekan jika tidak dikelola oleh kebijakan publik yang adil dan sensitif terhadap kebutuhan tiap kelompok.

Kesenjangan ekonomi, misalnya, masih dirasakan sebagian warga terutama kelompok minoritas. Tidak sedikit yang menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan layak, layanan kesehatan, maupun kesempatan untuk berpartisipasi dalam forum-forum publik. Ketika akses ini tidak merata, maka ruang demokrasi menjadi timpang: ia hanya menjadi milik kelompok-kelompok tertentu yang memiliki modal sosial dan ekonomi lebih besar.

Ruang dialog multikultural di tingkat kota pun belum terbangun secara sistematis. Padahal, dalam masyarakat majemuk, komunikasi menjadi jembatan utama untuk meredam prasangka. Minimnya wadah dialog yang mempertemukan berbagai komunitas membuat potensi konflik tidak terkelola sejak dini. Dalam konteks demokrasi, hal ini dapat menghambat terbentuknya kepercayaan antarkelompok yang sangat diperlukan untuk memastikan kebijakan publik berjalan efektif.

Mengapa Demokrasi yang Berkeadilan Krusial?

Demokrasi bukan sekadar alat memilih pemimpin lima tahun sekali. Demokrasi yang sehat ditandai oleh lima unsur: keberlanjutan partisipasi, pemerataan akses politik, perlindungan hak-hak minoritas, transparansi kebijakan, dan kehadiran negara yang responsif. Jika salah satu unsur itu timpang, maka demokrasi kehilangan makna substantifnya.

Di Banjarmasin, gagasan demokrasi berkeadilan sangat relevan karena kota ini menyimpan dinamika multikultural yang terus berkembang. Ketika satu kelompok merasa tertinggal, maka rasa kepemilikan terhadap kota pun ikut melemah. Akibatnya, partisipasi politik menurun dan ruang publik semakin mudah didominasi oleh kelompok mayoritas. Padahal, demokrasi yang sehat justru tumbuh melalui keberagaman suara yang saling menguatkan, bukan saling menyingkirkan.

Keadilan demokratis juga berarti pemerintah hadir dengan pendekatan yang setara. Misalnya, saat menyusun kebijakan pembangunan, pemerintah harus mempertimbangkan kebutuhan berbagai kelompok warga, bukan hanya mayoritas. Layanan publik harus mudah diakses oleh semua kelompok, tanpa diskriminasi baik secara halus maupun terang-terangan. Ketika itu berjalan, warga merasa dihargai dan didengar, sehingga hubungan antara pemerintah dan masyarakat menjadi lebih kokoh.

Tantangan Nyata yang Perlu Diatasi

Beberapa tantangan demokrasi di Banjarmasin perlu dicermati secara serius:

  1. Ketimpangan akses politik. Tidak semua warga memiliki kesempatan yang sama untuk ikut dalam diskusi kebijakan. Forum publik seringkali hanya dihadiri kelompok-kelompok tertentu.
  2. Keterbatasan literasi politik. Sebagian masyarakat masih kesulitan memahami hak-haknya dalam proses demokrasi, sehingga partisipasi sering berhenti pada level formal, bukan substantif.
  3. Minimnya ruang dialog multikultural. Kegiatan lintas budaya belum terkoordinasi dengan baik sehingga tidak menjadi kekuatan sosial yang mampu memperkuat kohesi masyarakat.
  4. Kerentanan kelompok minoritas. Beberapa kelompok masih menghadapi hambatan ekonomi dan sosial yang membuat mereka tidak mampu tampil dalam ruang publik.

Tantangan-tantangan ini tidak bisa dibiarkan karena melemahkan kualitas demokrasi kota. Jika dikelola dengan buruk, kesenjangan sosial dapat berkembang menjadi konflik horizontal atau ketidakpercayaan terhadap pemerintah.

Menguatkan Demokrasi Melalui Kebijakan Inklusif

Untuk membangun demokrasi yang berkeadilan, pemerintah kota harus memulai dengan memperluas akses partisipasi. Forum-forum warga bisa diperbanyak di tingkat kelurahan, didorong menjadi ruang dialog yang aman, terbuka, dan terstruktur. Selain itu, kebijakan inklusif harus dirancang melalui konsultasi publik yang melibatkan berbagai komunitas, bukan hanya kelompok dominan.

Program literasi politik juga perlu ditingkatkan. Perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, serta komunitas lokal dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memperkenalkan hak-hak demokratis kepada warga. Ketika warga memahami haknya, partisipasi yang muncul bukan hanya bersifat formalitas, tetapi juga lebih kritis dan berkualitas.

Pemerintah juga wajib mendorong program-program pengurangan kesenjangan, seperti peningkatan akses pendidikan, kesehatan, serta bantuan ekonomi bagi kelompok rentan. Keadilan sosial tidak mungkin terbangun jika ketimpangan ekonomi terus dibiarkan.

Demokrasi Sebagai Ruang Kebersamaan

Di tengah keberagaman, demokrasi seharusnya menjadi ruang kebersamaan, bukan perebutan dominasi. Kota seperti Banjarmasin memiliki modal sosial yang besar jika keberagaman dikelola dengan baik. Interaksi antarkelompok akan melahirkan kepercayaan, dan kepercayaan melahirkan kerja sama. Dengan demikian, demokrasi bukan sekadar sistem politik, tetapi juga ekosistem sosial yang memungkinkan warga hidup berdampingan secara setara.

Penutup

Membangun demokrasi yang berkeadilan di Banjarmasin adalah tugas bersama. Pemerintah memiliki peran sebagai pengarah kebijakan, tetapi masyarakat, komunitas budaya, tokoh agama, dan akademisi juga menjadi pilar penting dalam menciptakan ruang dialog yang sehat. Ketika setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan mendapatkan layanan publik secara adil, kota ini dapat tumbuh sebagai contoh bagaimana demokrasi lokal mampu merangkul keberagaman tanpa meminggirkannya.

Demokrasi yang berkeadilan bukan hanya cita-cita, melainkan kebutuhan yang mendesak. Dan Banjarmasin memiliki semua prasyarat untuk mewujudkannya, asal keberagaman dirangkul, kesenjangan dibereskan, dan suara setiap warga dihargai dalam proses pengambilan keputusan. Dengan cara itu, demokrasi akan benar-benar hidup dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat.

Editor : Arief
#Opini #banjarmasin #demokrasi