Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Banjarbaru Edition: Ketika Warga Ingin Terlibat

admin • Jumat, 21 November 2025 | 18:54 WIB

Kalilla Lousaninda Erisandy
Kalilla Lousaninda Erisandy

             Oleh: Kalilla Lousaninda Erisandy
             Mahasiswi Ilmu Pemerintahan,
             Staff Kajian Aksi Strategis BEM ULM 2025.

Banjarbaru sekarang sedang cepat sekali berubah. Rasanya setiap saya lewat jalan yang sama dalam beberapa minggu, pasti ada saja hal baru, ruko baru, perumahan baru, jalan yang diperbaiki, atau proyek yang tiba-tiba muncul. Dari luar, semuanya kelihatan seperti tanda kemajuan. Tapi jujur, di tengah kota yang makin sibuk ini, saya sering mikir, apakah warga sebenarnya dikasih tempat untuk bicara?

        Soalnya kalau ngobrol dengan orang-orang, dari pekerja toko, ojek online, mahasiswa, sampai bapak-bapak nongkrong di warung, pendapat mereka tuh sebenarnya banyak sekali. Mulai dari soal air yang kadang susah, banjir dadakan, panasnya kota yang makin nyelekit, sampai soal ruang hijau yang makin dikit. Tapi, pendapat itu kebanyakan cuma berhenti di obrolan santai. Tidak semua tahu harus disampaikan ke mana, dan bahkan kadang mereka merasa “ah percuma juga ngomong”.

        Padahal, forum-forum yang katanya untuk menampung aspirasi warga itu sebenarnya ada. Cuma… seringnya informasinya tidak merata. Ada warga yang tahu dari grup RT, ada yang tidak tahu sama sekali. Ada yang diumumin mepet, ada yang cuma beredar di lingkaran tertentu yang itu-itu aja. Jadinya banyak orang yang sebenarnya pengen terlibat malah ketinggalan info dan akhirnya merasa forum itu bukan untuk mereka.

         Masalah kedua, waktunya. Banyak kegiatan partisipasi dibikin di jam kerja. Jam sembilan pagi, jam dua siang,  siapa yang bisa hadir selain orang yang senggang atau memang punya jabatan tertentu? Sementara warga biasa yang justru ngerasain langsung dampak pembangunan malah susah muncul. Akhirnya forum yang harusnya representatif jadi timpang, diisi orang-orang yang itu-itu aja.

        Kalau mau jujur, semua masalah Banjarbaru itu menyangkut keseharian warganya. Soal banjir misalnya, banyak daerah yang dulu aman sekarang mulai langganan air naik. Atau panas kota yang makin parah karena pohon-pohon makin kalah sama bangunan. Ruang hijau yang dulunya bisa jadi tempat warga istirahat atau main sama anak, sekarang terdesak proyek-proyek baru yang katanya untuk kepentingan bersama, padahal tidak semua warga merasakannya.

        Urusan transportasi juga tidak kalah pelik. Jalan raya makin padat, tapi transportasi publik belum berkembang secara signifikan. Banyak orang yang ingin  Banjarbaru jadi kota yang lebih manusiawi, lebih ramah pejalan kaki, punya banyak tempat teduh, dan ada ruang publik yang nyaman untuk berhenti sebentar tanpa harus jajan atau bayar. Tapi mau mengajukan masukan juga bingung, mesti ke mana?

        Memang, hal-hal begitu bisa muncul kalau forum publik benar-benar terbuka. Warga punya pengalaman, punya cerita, punya perspektif real-time yang tidak ada di laporan teknis. Warga tahu jalan mana yang sering macet, tahu titik genangan, tahu area yang rawan kecelakaan, tahu mana ruang terbuka yang sebenarnya dibutuhkan. Tapi susah kalau ruang dialognya terasa kaku, terlalu formal, atau cuma jadi ajang laporan sepihak para pejabat.

        Kadang forum publik itu terasa kayak acara seremonial. Ada ruangan, ada pembawa acara, ada proyektor, tapi atmosfernya tidak membuat warga nyaman untuk bicara. Bahasannya teknis, istilahnya ribet, dan nada komunikasinya top-down. Warga akhirnya cuma jadi pendengar, bukan peserta. Mereka duduk, mendengar, pulang. Aspirasi tidak benar-benar tersampaikan.

        Saya pernah lihat sendiri, ada forum yang dibuka untuk umum,  tapi ketika warga mencoba menyampaikan keluhan, mereka malah diarahkan untuk membuat surat resmi atau koordinasi lewat jalur tertentu. Lah, kalau prosesnya ribet, siapa yang mau ikut? Kadang orang cuma punya waktu 10 menit untuk  ngomong langsung, bukan untuk ngurus birokrasi mini.

       Menurut saya, yang Banjarbaru butuh itu ruang partisipasi yang gampang diakses dan manusiawi. Informasi kegiatan disebar luas, tidak cuma lewat satu kanal. Jam kegiatannya disesuaikan biar orang bisa datang. Bahasannya dibuat sederhana, tidak perlu bahasa teknis yang bikin pusing. Moderatornya juga harus paham cara memfasilitasi warga, bukan cuma membaca susunan acara.

       Dan setelah forum selesai, hasilnya dipublikasikan. Bukan cuma laporan-laporan teknis, tapi juga poin-poin yang benar-benar disuarakan warga. Biar warga tahu apa yang ditindaklanjuti dan apa yang belum. Karena kadang orang cuma butuh kepastian bahwa suara mereka tidak hilang di tengah meja rapat.

      Karena pada dasarnya, warga itu mau terlibat kalau mereka dikasih ruang yang jelas. Orang suka cerita, suka dengar, suka diskusi. Tapi mereka butuh rasa dihargai. Butuh bukti bahwa pendapat mereka punya efek. Dan kalau partisipasi ini beneran dibuka, warga tidak bakal ragu muncul, bahkan yang biasanya cuek sekalipun.

      Banjarbaru sekarang lagi tumbuh, iya. Tapi kota yang tumbuh tanpa mendengar warganya bakal kehilangan arah. Semua pembangunan, seberapa megah pun, bakal terasa hampa kalau tidak nyambung sama kebutuhan masyarakat. Sementara kalau warga diajak bicara, dilibatkan, dan didengar, perkembangan kota bisa jadi lebih relevan, lebih grounded, dan lebih terasa manfaatnya.

      Kota itu bukan cuma soal bangunan. Kota itu tentang orang-orang yang hidup di dalamnya. Tentang bagaimana mereka bergerak, bekerja, beristirahat, bersuara. Dan selama ruang warga untuk bersuara masih samar-samar, Banjarbaru mungkin akan terus berkembang, tapi belum tentu berkembang bareng-bareng.

        Jadi ya, pertanyaannya masih sama, warga sebenarnya sudah siap untuk terlibat. Tapi ruangnya, kapan benar-benar mau dibuka dengan serius? Kapan warga bisa bicara tanpa merasa kecil  atau tidak penting? Kapan forum publik benar-benar jadi ruang bersama, bukan cuma formalitas?

       Kalau ruang itu akhirnya ada, saya yakin warga Banjarbaru punya banyak hal untuk dikatakan dan banyak hal itu sebenarnya sangat berharga untuk masa depan kota.

Editor : Arief
#Opini