Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Politik, Negara, dan Organisasi (Refleksi Milad ke-113 Muhammadiyah)

admin • Kamis, 13 November 2025 | 10:59 WIB
TEGUH PAMUNGKAS
TEGUH PAMUNGKAS

             Oleh: TEGUH PAMUNGKAS
             Warga Muhammadiyah Kalimantan Selatan

Organisasi Muhammadiyah didirikan KH Ahmad Dahlan pada 8 Zulhijah 1330 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 di Yogyakarta. Berangkat dari keprihatinan dan keresahan sosial, menjadikan Islam sebagai jalan kehidupan. Pemikirannya dianggap bisa merespons kondisi zaman.

Pada tanggal 18 November 2025, organisasi Muhammadiyah merayakan milad. Perserikatan Muhammadiyah berdiri pada 113 tahun yang lalu. Memasuki tahun 1923, atau sebelas tahun kemudian, pada bulan April, Muhammadiyah cabang Alabio berdiri. Tokoh pendiri Muhammadiyah di Alabio adalah M Japeri. Ia bersama temannya yang bernama Usman Amin membesarkan organisasi di sana (Kalimantan Selatan).

Di masa-masa perkembangan selanjutnya, seorang mualaf asal Tiongkok bergabung dengan Muhammadiyah di Rantau pada tahun 1940. Mualaf ini juga punya andil besar dalam memajukan organisasi. Namanya, Liem Ho Ho. Perjalanan panjang Muhammadiyah yang dilandasi dengan ketulusan dan keteguhan untuk meraih hidup lebih baik. Kisah Liem Ho Ho diangkat oleh Radar Banjarmasin pada edisi 18/11/2022.

Di tahun 2025, Milad ke-113 Muhammadiyah diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Bandung, Jawa Barat. Dengan mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”. Mengutip dari Muhammadiyah.or.id, tema tersebut dijelaskan oleh Ketua Umum Haedar Nashir, yaitu;

Pertama, Muhammadiyah melalui gerakannya semakin memperkuat dan memperluas usaha dalam memajukan kesejahteraan masyarakat yang berorientasi pada kesejahteraan sosial-ekonomi yang memiliki tumpuan pada kesejahteraan rohaniah (sejahtera spiritual dan moral), sehingga melahirkan kesejahteraan yang utuh lahir dan batin.

Kedua, Muhammadiyah terus mendorong dan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan umum sebagaimana perintah UUD 1945 yang semakin nyata dan merata, lebih khusus bagi kesejahteraan rakyat dalam pondasi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia sejalan sila kelima Pancasila.

Sementara, dalam perpolitikan Indonesia, ketika memasuki tahun politik di 2024—menjelang Pemilu dan Pilkada—organisasi Muhammadiyah menyatakan tidak terlibat dalam politik praktis. Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa dalam menghadapi tahun politik, Muhammadiyah memberikan kebebasan bagi warganya dalam berdemokrasi.

Pada kehidupan berbangsa, negara telah mengatur kebebasan berekspresi bagi individu yang tertuang dalam UUD 1945. Kebebasan berpendapat dan berekspresi merupakan amanat undang-undang, tertera pada pasal 28E ayat 3 yang menyatakan “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat”.

Hingga Pemilu dan Pilkada usai, Muhammadiyah tetap menjaga silaturahmi dari perbedaan-perbedaan yang ada dalam hal pilihan dan selera politik. Dalam artian mengikuti proses demokrasi tetap dengan hati nurani, yang rasional dan membela kemaslahatan umum.

Muhammadiyah jika dilihat secara organisasi tidak terlibat dalam politik praktis. Meskipun demikian, tak sedikit kader yang berkhidmat mengabdikan diri untuk bangsa dan negara dalam legislatif, eksekutif maupun yudikatif. Mereka adalah kader terbaik dari Muhammadiyah untuk bangsa.

Prof Azyumardi Azra (1999) menuangkan perkembangan politik dan ekonomi pascareformasi dalam bukunya “Menuju Masyarakat Madani”, sumbangsih pemikiran sebagai usaha membangun masyarakat sipil Indonesia. Jangan sampai atribut hidup kebangsaan dan harga diri nasionalisme kita rela dirampas oleh nafsu-nafsu. Lepaskan dan jauhkanlah tradisi keserakahan, penindasan, dan kebodohan seperti di zaman penjajah. Sebab kita merasakan sendiri bagaimana rasanya dijajah tiga setengah abad lebih. Karena itu, tidak sepatutnya apa yang kita rasakan menimpa orang lain dan generasi muda yang akan datang.

Buya Syafii pun berpesan untuk menjaga keutuhan negara Indonesia. Mari kita merajut kembali anyaman kehidupan berbangsa. Kita sama-sama berbenah kembali agar kita tetap siap dan bisa menyongsong masa depan bangsa semakin cerah. Secara tulus dan ikhlas menjaga erat pedoman bangsa. Menurut Buya Syafii sebuah bangsa dapat mengalami kehancuran bila toleransi sosial, agama dan budaya tak mantap dimiliki.

Organisasi

Menurut James D Mooney, organisasi adalah setiap bentuk perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama. Muhammadiyah merupakan suatu organisasi yang memiliki rupa kerja sama yang sistematis dan rasional, secara terpimpin dan terkendali. Dengan memiliki tujuan yaitu memanfaatkan sumber daya yang ada guna kesejahteraan umat dan masyarakat Indonesia.

Peran Muhammadiyah dalam membangun bangsa Indonesia umumnya, dengan kegiatan yang beragam, seperti kegiatan keagamaan, pelayanan kesehatan, pendidikan, pelayanan sosial, hingga pada pemberdayaan ekonomi. Melalui bidang pendidikan dan sosial menjadi titik pijak untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang handal di masa kini dan akan datang. Adanya kesatupaduan antara pengetahuan umum dan agama, ada komposit antara moral dan ilmu dalam membangun kehidupan bernegara.

Dalam perjalanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, pemerintah tidak bisa jalan sendiri tanpa ada kebersamaan dengan organisasi masyarakat. Menapaki perjalanan menuju cita-cita bangsa dan mengisi pembangunan nasional, pemerintah melangkah bersama Muhammadiyah dan organisasi Islam dan organisasi agama-agama lainnya.

Muhammadiyah menjawab tantangan dengan gerakan, yaitu produktif dan menjaga kebersamaan internal organisasi dan eksternal organisasi (pemerintah). Mengapa demikian? Dalam wadah organisasi sudah semestinya rukun dan solid membangun bangsa, serta bisa membersamai masyarakat dalam bernegara merupakan cita-cita luhur.

Tiada lain tetap pada sesuatu yang bermakna sekaligus memberikan manfaat bagi orang lain. Menyelamatkan regenerasi bangsa dan kehidupan sosial, seperti yang digambarkan pendiri organisasi Muhammadiyah

 

Editor : Arief
#Opini #Muhammadiyah