Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perwujudan Pustakawan Pahlawan Informasi Bangsa

admin • Senin, 10 November 2025 | 21:19 WIB

 

 

Ahmad Syawqi
Ahmad Syawqi

            Oleh : Ahmad Syawqi
              Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

     Di tengah gelombang informasi yang tak henti dan laju teknologi yang kian menggila, akses terhadap informasi yang akurat dan relevan menjadi krusial bagi kemajuan suatu bangsa. Namun, ironisnya, di era kemudahan akses ini, masyarakat justru rentan terhadap disinformasi, hoaks, dan misinterpretasi. Di sinilah, profesi pustakawan mengambil panggung, bukan lagi sebagai penjaga buku semata, melainkan sebagai "Pahlawan Informasi Bangsa". Mereka adalah garda terdepan dalam memerangi kebodohan informasi, mengawal kecerdasan kolektif, dan memastikan setiap individu memiliki bekal literasi yang mumpuni untuk menghadapi tantangan zaman. Mengapa peran ini begitu penting, dan bagaimana pustakawan menghadapi kompleksitas era digital dan AI? Terlebih lagi, di momentum Hari Pahlawan 10 November 2025, yang jatuh pada hari Senin, dan diperingati sebagai hari nasional tanpa libur, peran pustakawan semakin relevan sebagai pewaris semangat perjuangan intelektual para pahlawan.

Pustakawan di Tengah Badai Informasi

     Stigma "penjaga buku tua" telah usang. Pustakawan masa kini adalah navigator ulung di samudera data yang tak terbatas. Mereka adalah filter, kurator, dan fasilitator yang esensial. Data dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menunjukkan bahwa Indeks Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) masyarakat Indonesia menunjukkan tren peningkatan positif. Pada 2023, TGM mencapai 66,77. Naik menjadi 72,44 pada 2024, tergolong dalam kategori tinggi. Bahkan, Perpusnas menargetkan peningkatan kecakapan literasi pada tahun 2025, melalui tiga program prioritas, termasuk penguatan budaya membaca. Angka-angka ini adalah kabar baik, namun tidak dapat dimungkiri bahwa tantangan literasi, terutama literasi digital, masih sangat besar.

     Survei yang dilakukan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pada tahun 2025 juga bertujuan untuk mengukur kondisi dan perkembangan tingkat gemar membaca secara nasional. Ini menunjukkan komitmen serius negara dalam memantau dan meningkatkan kegemaran membaca. Namun, di sisi lain, masyarakat Indonesia dinilai masih rentan terhadap hoaks dan penipuan daring karena tingkat literasi digital yang belum memadai, meskipun jumlah pengguna internet sangat tinggi. Isu ini semakin diperparah dengan maraknya disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian di media sosial yang mengancam persatuan masyarakat. Deepfake, manipulasi informasi, dan serangan siber adalah ancaman nyata yang membutuhkan benteng pertahanan berupa literasi digital yang kuat. Di sinilah Pustakawan menjelma menjadi "pahlawan" yang membimbing masyarakat menemukan kebenaran di tengah kekacauan informasi.

Pustakawan di Era Digital dan AI

     Era digital dan perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah lanskap informasi secara fundamental. AI dengan kemampuannya memproses data besar dan menganalisis pola, memang menawarkan banyak kemudahan. Namun, ia juga memiliki keterbatasan karena bergantung pada algoritma dan data pembelajaran yang diberikan. Di titik inilah peran pustakawan menjadi semakin relevan. Kepala Perpusnas, E Aminudin Aziz, bahkan menekankan pentingnya redefinisi peran pustakawan di era AI dalam Kongres XVI Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) dan Seminar Ilmiah Nasional 2025. Pustakawan harus menjadi garda terdepan inovasi di era AI.

     Pustakawan tidak lagi hanya sekadar menata buku; mereka adalah "Research Librarian" di era digital. Mereka membantu pengguna menavigasi kompleksitas database digital, mengidentifikasi sumber yang kredibel, serta membedakan antara fakta dan opini. Literasi informasi berbasis kecerdasan buatan kini menuntut pustakawan untuk tidak hanya mampu mencari dan mengevaluasi informasi, tetapi juga memahami sistem algoritmik dan etika bermedia. Pustakawan adalah pilar literasi, inovasi, dan transformasi sosial. Mereka memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak justru memperlebar jurang pengetahuan, melainkan menjadi alat untuk meningkatkan kecerdasan bangsa.

Pustakawan Solusi untuk Kecerdasan Bangsa

     Kontribusi pustakawan terhadap kecerdasan bangsa terwujud dalam beberapa aspek krusial seperti halnya dalam peningkatan kualitas pendidikan. Pustakawan membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik, mendukung penelitian, dan menyediakan akses terhadap sumber daya pendidikan. Mereka mengajari siswa dan mahasiswa cara mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif, sebuah keterampilan fundamental di era pengetahuan.

     Dalam aspek pengembangan literasi digital kritis terutama dengan maraknya hoaks, pustakawan berperan sebagai benteng pertahanan. Mereka membimbing masyarakat untuk memilah informasi yang valid, membangun budaya berpikir kritis, dan etika dalam bermedia. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas dan tidak mudah termakan isu menyesatkan.

     Penyedia Akses Informasi yang Adil: Di daerah-daerah terpencil atau komunitas yang kurang terlayani, pustakawan adalah satu-satunya jembatan menuju dunia informasi. Mereka memperluas akses pengetahuan, mengurangi kesenjangan informasi, dan memastikan setiap warga negara, tanpa memandang latar belakang, memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkembang.

     Penjaga Kemerdekaan Intelektual: Melalui koleksi yang beragam dan program yang inklusif, pustakawan mempromosikan kebebasan berpikir, keragaman pandangan, dan dialog konstruktif. Peran ini diakui dengan ditetapkannya 7 Juli sebagai Hari Pustakawan Indonesia, sebagai pengakuan terhadap profesi yang melekat dalam jantung kemerdekaan intelektual.

     Penggerak Literasi Sepanjang Hayat: Pustakawan mendorong konsep pembelajaran berkelanjutan, di mana perpustakaan bukan hanya untuk pelajar, tetapi untuk semua usia. Mereka menyelenggarakan workshop, seminar, dan komunitas baca yang menumbuhkan minat belajar seumur hidup. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2025 yang mengukur upaya pengembangan literasi di Indonesia, menunjukkan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat.

Pustakawan Pelanjut Perjuangan Intelektual

     Hari Pahlawan 10 November 2025, dengan tema "Pahlawanku Teladanku Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan", menjadi penguat sempurna bagi peran pustakawan sebagai pahlawan informasi. Tema ini menegaskan bahwa perjuangan pahlawan bukan berhenti di masa lalu, melainkan harus diteruskan melalui aksi nyata, termasuk dalam ranah literasi dan informasi. Peringatan ini, yang diatur dalam Keppres No. 316 Tahun 1959 dan bukan hari libur nasional, mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk merefleksikan jasa para pejuang, termasuk yang berjuang melalui pengetahuan dan literasi.

     Pustakawan, dalam konteks ini, adalah pewaris langsung semangat intelektual para pahlawan. Kisah-kisah seperti R.A. Kartini, yang dikenal sebagai pahlawan penggiat literasi melalui surat-suratnya yang membangkitkan emansipasi perempuan, atau Soekarno yang memanfaatkan buku sebagai senjata perjuangan, menunjukkan bahwa literasi adalah bentuk perjuangan tak berdarah. Para pahlawan ini memiliki literasi tinggi, dengan budaya membaca yang luar biasa, seperti yang diungkapkan peneliti BRIN Suherman. Pustakawan hari ini melanjutkan itu dengan mengelola arsip sejarah, digitalisasi dokumen perjuangan, dan program literasi yang menginspirasi generasi muda.

     Di Banjarmasin, misalnya, peringatan Hari Pahlawan 2025 dirayakan dengan ziarah pemimpin daerah ke Monumen 9 November dan Tugu Pahlawan, diikuti upacara bertema semangat perjuangan. Kegiatan perpustakaan lokal, seperti Bamara Book Fair 2025 yang memadukan literasi dengan hiburan, menjadi wadah untuk mengaitkan tema Hari Pahlawan dengan literasi sejarah. Refleksi seorang pustakawan menekankan bahwa Hari Pahlawan bukan hanya tentang kemerdekaan fisik, tapi juga intelektual, di mana pustakawan berjuang mempertahankan nilai-nilai dan ide-ide bangsa.

     Ide kegiatan seperti 50 tema inspiratif untuk peringatan Hari Pahlawan 2025 bisa diadaptasi oleh pustakawan: bedah buku biografi pahlawan, pameran digital arsip perjuangan, atau workshop literasi sejarah. Ini bukan hanya memperingati, tapi juga membangun kecerdasan bangsa dengan menjadikan kisah pahlawan sebagai teladan untuk melawan isu hangat seperti hoaks pemilu atau polarisasi sosial. Dengan demikian, pustakawan tidak hanya menjaga informasi, tapi juga mengobarkan semangat "Terus Bergerak" tema 2025, memastikan perjuangan pahlawan hidup melalui literasi yang inklusif dan berkelanjutan.

     Pustakawan adalah pahlawan tanpa tanda jasa di garis depan perjuangan melawan kebodohan dan disinformasi. Di tengah kompleksitas era digital dan AI, peran mereka tidak hanya relevan, tetapi semakin krusial bagi masa depan bangsa, terutama di momentum Hari Pahlawan 10 November 2025 yang mengajak kita "Melanjutkan Perjuangan". Dengan dedikasi, adaptasi, dan inovasi, pustakawan bertransformasi menjadi arsitek kecerdasan bangsa. Mereka adalah navigator yang membimbing kita melewati badai informasi, kurator yang menyaring mutiara pengetahuan dari tumpukan sampah digital, dan fasilitator yang mengobarkan semangat belajar sepanjang hayat.

     Mari kita apresiasi dan dukung profesi ini, karena pada pundak para pustakawanlah, sebagian besar harapan akan terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas, kritis, dan berdaya saing global diemban. Mereka adalah denyut nadi literasi, penjaga akal sehat, dan pahlawan sejati di era informasi pewaris teladan yang terus bergerak untuk bangsa.

Editor : Arief
#pahlawan #Opini