Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ketahanan Pangan di Lahan Bekas Tambang

admin • Sabtu, 8 November 2025 | 22:00 WIB
Anton Kuswoyo
Anton Kuswoyo

          Oleh: Anton Kuswoyo
          Kandidat Doktor Ilmu Nutrisi dan Pakan IPB University,
          Dosen Politeknik Negeri Tanah Laut.

Ketahanan pangan merupakan isu strategis dan masuk dalam prioritas pembangunan nasional. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto menempatkannya sebagai salah satu program utama dalam Asta Cita. Dalam berbagai kesempatan, Presiden menegaskan bahwa kemandirian produksi pangan dalam negeri adalah kunci bagi masa depan Indonesia.

Namun, ketersediaan lahan menjadi tantangan utama dalam mewujudkan hal tersebut. Setiap tahun, Indonesia kehilangan lahan pertanian akibat alih fungsi lahan. Data Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) menunjukkan bahwa sekitar 320.000 hektare lahan sawah hilang dalam satu dekade terakhir. Rata-rata, 16.000 hektare sawah hilang per tahun pada 2019–2024.

Penyebab utama penyusutan ini adalah ekspansi permukiman, pembangunan infrastruktur, serta perubahan tata ruang yang tidak ramah terhadap sektor pertanian. Wilayah-wilayah seperti Pulau Jawa, Sumatera bagian utara, dan Bali menjadi contoh kawasan yang paling terdampak karena tekanan pembangunan dan kenaikan harga tanah.

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah. Salah satunya adalah program cetak sawah sejuta hektare di Papua. Namun, program tersebut menuai kritik karena dikhawatirkan merusak hutan adat, memicu deforestasi, dan mengabaikan hak masyarakat adat. Di Kalimantan Selatan (Kalsel), Pemerintah provinsi (Pemprov) juga menargetkan pembukaan 30.000 hektare sawah baru di lahan rawa dan gambut pada 2025. Sayangnya, program serupa pernah gagal saat peringatan Hari Pangan Sedunia tahun 2018, dan hingga kini belum menunjukkan hasil nyata.

Melihat tantangan tersebut, penulis sejak 2023 meneliti potensi lahan bekas tambang batubara sebagai alternatif lahan pertanian di Kalsel. Lahan bekas tambang yang selama ini terbengkalai memiliki luasan yang besar, bahkan bisa mencapai ribuan hektare. Namun, pemanfaatannya membutuhkan pendekatan khusus karena kondisi tanah yang telah rusak secara fisik, kimia, dan biologi.

Lahan pascatambang umumnya memiliki struktur tanah yang padat, pH rendah, miskin unsur hara, serta terganggunya sistem hidrologi. Vegetasi alami juga hilang, menjadikan lahan tersebut tidak produktif secara alami. Maka diperlukan upaya pemulihan, antara lain dengan menaikkan pH tanah, menambah bahan organik, serta memperbaiki kandungan karbon dan unsur hara seperti nitrogen, fosfor, dan kalium.

Berdasarkan hasil penelitian penulis, penggunaan pembenah tanah seperti dolomit, kompos organik, dan asam humat telah terbukti mampu memperbaiki kualitas tanah pascatambang. Selain itu, penting untuk memilih jenis tanaman pionir yang cocok tumbuh di kondisi lahan marginal. Salah satu tanaman yang sangat potensial dikembangkan adalah sorgum (Sorghum bicolor).

Sorgum adalah tanaman serelia yang tahan kekeringan, mudah dibudidayakan, dan memiliki banyak fungsi. Tanaman ini bisa dipanen berulang kali, serta bisa digunakan untuk pangan, pakan ternak, dan bahan bakar alternatif. Sebagai pangan, biji sorgum bisa menjadi pengganti beras. Kandungan gulanya lebih rendah dibandingkan beras, sementara proteinnya lebih tinggi. Sorgum juga kaya serat dan bebas gluten, sehingga cocok untuk penderita diabetes dan diet sehat.

Dari sisi pakan ternak, sorgum juga sangat menjanjikan. Berdasarkan hasil penelitian penulis, satu hektare lahan pascatambang yang ditanami sorgum dapat menghasilkan 40,84 ton biomassa hijauan, cukup untuk memenuhi pakan sekitar 15 ekor sapi secara kontinyu. Kandungan nutrisinya pun tinggi: protein kasar 14%, lemak 6,72%, dan serat 35,16%, melebihi nilai gizi rumput gajah atau rumput odot.

Lebih jauh lagi, batang sorgum memiliki kandungan nira tinggi dengan kadar Brix hingga 15%. Ini menjadikan sorgum berpotensi diolah menjadi bioethanol, salah satu bentuk energi terbarukan. Maka sorgum tak hanya relevan dalam konteks ketahanan pangan, tapi juga dalam transisi menuju energi bersih.

Pengembangan sorgum di lahan bekas tambang membawa dampak ganda. Secara ekonomi, ini membuka peluang bagi masyarakat sekitar tambang untuk beralih ke sektor pertanian yang berkelanjutan, mengurangi ketergantungan terhadap pekerjaan tambang yang bersifat musiman dan tidak stabil. Secara sosial, hal ini mendorong pemberdayaan petani lokal dan memperkuat ketahanan pangan komunitas.

Dari sisi lingkungan, penanaman sorgum dapat membantu merehabilitasi lahan yang rusak. Akar tanaman membantu mengikat tanah, mengurangi erosi, dan menambah kandungan karbon organik tanah. Selain itu, keberadaan tanaman di lahan terbuka mengurangi polusi debu dan meningkatkan kualitas udara sekitar.

Dengan kata lain, sorgum adalah tanaman masa depan yang dapat mengubah wajah lahan rusak menjadi produktif kembali. Di Kalsel, peluang ini terbuka lebar. Pemanfaatan lahan bekas tambang sebagai lahan pertanian sorgum dapat menjadi solusi konkret untuk mengatasi krisis lahan, memperkuat ketahanan pangan daerah, dan menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan pelestarian lingkungan.

Pemerintah daerah, perusahaan tambang, akademisi, dan masyarakat perlu bersinergi dalam mendorong transformasi ini. Melalui dukungan kebijakan, insentif pertanian, riset berkelanjutan, serta pelatihan bagi petani lokal, sorgum bisa menjadi ikon baru pertanian pascatambang di Kalimantan Selatan.

Editor : Arief
#pangan