Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ketika Anak Pintar Menolak Jadi Guru

admin • Kamis, 6 November 2025 | 21:13 WIB
Photo
Photo

           Oleh: Muhammad Fitrianto, S.Pd.Gr, Lc, M.A, M.Pd. C.ISP, C.LQ
           Pendidik di SMAIT Ar Rahman Banjarbaru

Keprihatinan atas masa depan pendidikan Indonesia kian tajam ketika profesi guru tidak lagi dipandang sebagai cita-cita mulia oleh generasi muda yang berbakat dan berprestasi. Jika anak-anak terbaik enggan menjadi guru, siapakah yang akan membimbing generasi mendatang menuju kemajuan?

Fenomena dan Data Mengkhawatirkan

Survei Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tahun 2025 melaporkan hanya 11 persen anak muda yang berminat menjadi guru. Data Badan Pusat Statistik mencatat jurusan pendidikan hanya dipilih oleh 9 persen pendaftar universitas dalam lima tahun terakhir. Generasi muda cenderung menganggap profesi guru kurang menjanjikan, baik dari sisi finansial maupun status sosial.

Di Banua maupun daerah lain, realita kesejahteraan guru sungguh memprihatinkan. Gaji guru PNS berkisar Rp 1,6—Rp 6,3 juta per bulan, sedangkan guru honorer hanya menerima Rp 540 ribu—Rp 2 juta. Bahkan, mayoritas guru honorer menerima gaji di bawah upah minimum, jauh di bawah negara tetangga. Singapura membayar guru minimal Rp 46 juta per bulan, Malaysia Rp 10—25 juta, sementara Vietnam pun memberikan Rp 4 jutaan untuk guru baru. Selain itu, status kerja guru sering tidak jelas, tanpa jaminan sosial seperti pensiun ataupun jenjang karier yang pasti. Tak sedikit guru yang akhirnya harus mencari pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Kejayaan Guru dalam Sejarah Islam

Sejarah peradaban Islam menampilkan apresiasi tertinggi kepada profesi guru. Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah dan era Khalifah Umar bin Khattab, guru digaji 15 dinar emas per bulan, setara Rp 63 juta dengan harga emas saat ini. Negara menjamin fasilitas kesehatan, tempat tinggal, hingga pendidikan gratis bagi para pendidik. Guru menjadi pilar utama kemajuan peradaban, dihormati dan didambakan oleh generasi muda.

Realitas inilah yang seolah menjadi dongeng di Indonesia modern, ketika guru harus berjibaku antara idealisme pendidikan dan tuntutan ekonomi yang berat. Ironi ini telah membuat minat generasi muda terhadap profesi guru semakin surut.

Inspirasi dari Jepang: Guru Pilar Kebangkitan Bangsa

Kisah Jepang setelah Perang Dunia II adalah pelajaran berharga. Kala itu, Kaisar Hirohito menempatkan harapan kebangkitan bangsa justru di tangan para pendidik. Setelah kehancuran Hiroshima dan Nagasaki, sang Kaisar bertanya, “Berapa guru yang masih hidup?” Guru dikumpulkan, bukan tentara atau insinyur, dan dijadikan fondasi utama pemulihan negeri.

Kebijakan memuliakan guru membawa Jepang pulih dengan sangat cepat; prediksi dunia yang menyatakan Jepang akan lambat bangkit, terbukti keliru. Dalam dua dekade, Jepang menjadi negara kuat, cerdas, dan modern—dengan pendidikan sebagai pilar utama. Guru di Jepang memperoleh status sosial terhormat, gaji memadai, serta pelatihan dan penghargaan berkelanjutan. Bangsa yang hebat selalu memuliakan guru sebagai arsitek peradaban.

Meski dalam arus besar sistem pendidikan, harapan masih tumbuh di Banua. Beberapa guru muda alumni pondok pesantren menunjukkan semangat mendidik sejak SMA. Mereka tidak hanya mengajar, namun juga menulis, meneliti, dan membimbing murid secara total. Pengalaman mereka membuktikan, mendidik bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses membentuk kebijaksanaan, karakter, dan mental baja. Guru seperti mereka adalah agen perubahan, meski jumlahnya masih sangat terbatas.

Sudah saatnya Banua dan Indonesia mengambil langkah konkret mengangkat marwah guru. Perbaikan sistem gaji, jaminan sosial, jalur karier, dan penghargaan sosial harus menjadi prioritas. Apresiasi terhadap guru harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar slogan di baliho sekolah.

Masyarakat dan pemerintah harus bersinergi mendorong anak-anak terbaik agar bangga menjadi guru. Guru adalah jiwa pendidikan, pembangun peradaban, sekaligus pemandu masa depan. Bangsa yang besar selalu dimulai dari kelas-kelas kecil, dari tangan pendidik yang tulus dan sejahtera.

Peluang besar menanti jika profesi guru benar-benar dimuliakan sebagaimana sejarah Islam dan pengalaman Jepang. Saatnya Banua dan Indonesia menulis babak baru pendidikan, di mana guru menjadi profesi kebanggaan anak muda. Dengan aksi nyata pemerintah, masyarakat, dan para pendidik, guru bisa kembali menjadi pejuang peradaban yang mendidik bangsa secara bermartabat. ()

Editor : Arief
#Opini #Guru #Pendidikan