Oleh: Edwin Yulisar
Pengajar Madrasah dan Pesantren di Kabupaten HST
Beberapa hari yang lalu, penulis berkunjung di perpustakaan dan tiba-tiba ada alumni madrasah kelas 12 yang bersalaman. Saya kemudian bertanya apa yang dia kerjakan. Dia menjawab mencari referensi dan belajar bersama untuk mempersiapkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang akan diadakan pada bulan November nanti. Suasana seperti inilah yang sangat diharapkan. Siswa rasanya kembali pada fitrahnya yaitu meramaikan perpustakaan dan kembali belajar bukan hanya menerangi wajah dengan cahaya biru dari gawai canggih mereka.
Beberapa puluh tahun lalu, baik siswa tingkat Pertama ataupun Atas wajib mengikuti Ujian Nasional (UN). Ujian bentuk ini menciptakan atmosfer positif untuk belajar kepada seluruh siswa. Durasi tiga tahun belajar di sekolah maupun madrasah ditentukan dengan nilai kelulusan Ujian Nasional yang dilaksanakan selama tiga hari dengan ketentuan mampu mencapai batas kelulusan (Passing Grade) yang sudah ditentukan. Dalam hal ini, siswa belajar karena didominasi rasa takut dan malu ketika tidak lulus ujian.
Berbeda dengan UN, walaupun TKA tidak menentukan kelulusan siswa di sekolah, tes ini sangat berpengaruh pada pendidikan lanjutan kepada siswa. Bagi siswa kelas 12 di Sekolah Menengah Atas (SMA) ataupun Madrasah Aliyah (MA), nilai TKA akan berpengaruh kepada pendidikan lanjutan mereka di tingkat perkuliahan. Tes ini memberikan animo asli seorang pembelajar yang memiliki antusiasme tinggi untuk melanjutkan sekolah selanjutnya agar mendapatkan layanan pendidikan yang lebih baik.
Meningkatnya intensitas belajar siswa harus menjadi perhatian di kalangan civitas pendidikan baik guru, ustadz dan ustadzah yang mengajari anak didik di sekolah, madrasah ataupun pondok pesantren. Kobaran api antusiasme siswa dalam persiapan menghadapi TKA ini harus mampu dirawat oleh pendidik dengan beberapa usaha agar tidak redup dan terus menyala untuk meneruskan di sekolah lanjutan.
Pertama, guru harus mengaktualisasikan perencanaan serta realisasi program bimbingan TKA dengan matang. Tingkat kematangan perencanaan program hingga pelaksanaan program harus berkelindan dengan tingkat semangat siswa dimana lembaga pendidikan bukan hanya memperhatikan kuantitas tetapi kualitas.
Kedua, kemampuan literasi guru dalam mengelaborasi kisi-kisi soal TKA menggunakan metode dan teknik yang dikuasainya. Kelihaian guru dalam melakukan cross-check serta telaah segala indikator soal yang akan diujikan sangat dibutuhkan untuk mempermudah siswa menjawab soal tes tersebut.
Kolaborasi bersama rekan sejawat dan organisasi se-profesi harus ditingkatkan sebagai usaha pengelaborasian indikator dari kisi-kisi soal yang akan diujikan. Dengan begitu, tingkat kesulitan dalam pengerjaan soal akan berkurang. Misalnya guru mengoptimalkan penggunaan teknik jembatan keledai atau akronim juga dalam menghafal nama-nama unsur kimia yang ada di tabel periodik unsur. Atau menggunakan teknik scanning dan skimming untuk mencari ide pokok dari sebuah wacana pada soal bacaan untuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dengan tepat dan cepat.
Yang terakhir, dari segala aspek akademik yang sudah dipaparkan, akan lebih baik jika guru harus memperhatikan kemampuan resiliensi dan konsistensi siswa dalam menghadapi bimbingan TKA nanti. Apakah siswa mampu Pantang Menyerah ketika mendapatkan suatu soal yang sangat sulit dipahami? Atau malah sebaliknya? Dengan memperhatikan aspek ini, daya juang siswa terkontrol tanpa merasa tertekan apalagi sampai mengganggu kesehatan mental mereka. Koordinasi dengan konselor, guru bimbingan konseling hingga para ahli juga penting setelah beberapa kali melakukan bimbingan dari guru mata pelajaran untuk memetakan kelebihan dan kelemahan siswa.
Belajar yang terlalu diforsir tidak baik untuk kesehatan mental. Orang tua di rumah harus menjaga keseimbangan siswa dalam proses persiapan dalam menghadapi TKA ini. Mereka harus memberikan motivasi serta nasihat-nasihat ketika terjadi fluktuasi antusiasme dari anak-anak mereka.
Oleh karena itu, tren positif antusiasme dan animo belajar siswa untuk menghadapi Tes Kemampuan Akademik harus menjadi perhatian kita bersama. Pendidik sebagai fasilitator pembelajar harus mampu mengikuti perkembangan zaman dengan mengimplementasikan perencanaan program dengan realisasi yang berkelindan dengan hasil yang kompetitif bagi siswa memilih sekolah lanjutan. Daya resiliensi siswa juga harus terpantau kondusif dengan bantuan para konselor, guru BK dan para ahli agar terhindarnya siswa dari depresi dan stress menghadapi tes. Jika kedua usaha ini sudah optimal dilakukan, kemungkinan tidak akan ada kesenjangan harapan dan kenyataan untuk mendapatkan pendidikan lanjutan yang lebih baik.
Jadi, sudah siapkah kita melakukan perencanaan program bimbingan belajar dan penguatan mental untuk mempersiapan TKA demi kelanjutan pendidikan anak didik? Atau hanya memberikan motivasi lisan tanpa melakukan usaha kedepannya?
Selamat mengikuti TKA tahun 2025. Semoga sukses dan mendapatkan sekolah lanjutan sesuai dengan keinginan.
Editor : Arief