Oleh : Dr. Mahpolah M.Kes
Dosen Poltekkes Kemenkes Banjarmasin
Di sebuah desa yang asri di tepian Sungai Martapura, para lansia kini memiliki semangat baru untuk tetap sehat dan aktif. Desa Melayu Tengah di Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, bukan hanya dikenal dengan lahan suburnya, tetapi kini juga menjadi contoh bagaimana masyarakat bisa berdaya melawan risiko Alzheimer lewat kekayaan pangan lokal mereka sendiri.
Seiring bertambahnya usia, banyak lansia yang mulai mengalami penurunan daya ingat. Sayangnya, sebagian besar masyarakat menganggap hal itu sebagai sesuatu yang wajar, padahal bisa menjadi tanda awal penyakit Alzheimer — gangguan otak yang perlahan merenggut kemampuan berpikir dan mengenali orang terdekat.
Kondisi ini semakin diperparah dengan kebiasaan makan yang kurang bergizi dan rendahnya pemahaman tentang pentingnya nutrisi bagi kesehatan otak. Padahal, bahan-bahan lokal seperti daun kelor, singkong, dan kunyit yang mudah ditemukan di sekitar rumah menyimpan zat gizi yang berperan penting dalam menjaga fungsi otak.
Melihat potensi besar ini, tim pengabdian masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Banjarmasin melaksanakan program “Pemberdayaan Lansia Melalui Gizi Berbasis Pangan Lokal untuk Mencegah Risiko Alzheimer.” Kegiatan ini melibatkan lansia, keluarga pendamping, serta kader posyandu di Desa Melayu Tengah.
Melalui pendekatan partisipatif, para lansia dan kader tidak hanya diberikan penyuluhan tentang gizi seimbang dan kesehatan otak, tetapi juga dilatih membuat olahan pangan fungsional seperti cookies singkong jahe, teh kelor, dan minuman kunyit hangat. Semua bahan berasal dari kebun dan pekarangan warga sendiri.
Hasilnya luar biasa. Berdasarkan evaluasi sederhana sebelum dan sesudah kegiatan, pengetahuan peserta tentang hubungan antara makanan dan kesehatan otak meningkat hingga 30%. Kader posyandu pun semakin percaya diri memberikan edukasi kepada masyarakat.
Program ini berjalan berkat kolaborasi erat antara Pemerintah Desa Melayu Tengah, Puskesmas Martapura Timur, PKK, dan Kelompok Wanita Tani. Pemerintah desa menyediakan tempat dan dukungan logistik, sementara kader posyandu menjadi ujung tombak keberlanjutan kegiatan.
Kini, posyandu lansia di desa ini tidak hanya fokus pada pengukuran tekanan darah dan berat badan, tetapi juga menjadi pusat edukasi tentang gizi dan kesehatan otak. Para lansia aktif mengikuti kegiatan demo masak sehat dan diskusi ringan seputar gaya hidup seimbang.
Langkah kecil di Desa Melayu Tengah membuktikan bahwa pencegahan Alzheimer tidak harus mahal. Dengan memberdayakan masyarakat dan memanfaatkan pangan lokal, kita bisa memperpanjang usia sehat lansia dan memperkuat ketahanan keluarga.
Program ini sejalan dengan semangat Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang dicanangkan pemerintah, sekaligus menjadi contoh nyata penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam kehidupan masyarakat.
“Mencegah Alzheimer bisa dimulai dari dapur sendiri. Mari kembali ke pangan lokal, ajak lansia kita hidup sehat, makan bergizi, dan tetap bahagia di usia senja.
Editor : Nurhidayat