Teringat kenangan di masa kecil, ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), saya diajarkan untuk menabung. Hal tersebut menjadi kebiasaan yang berdampak bagi kehidupan di masa sekarang ini. Yaitu, memiliki prinsip hemat dalam membelanjakan uang.
Walaupun saat itu, tujuan utama menabung hanya untuk membeli barang yang disukai, seperti kotak pensil lucu, buku dengan kualitas premium, ataupun sekadar membeli majalah untuk bahan bacaan di kala senggang. Barang-barang tersebut bukanlah sekadar kebutuhan, tetapi menjadi barang impian yang diusahakan untuk mendapatkannya.
Dari cerita tersebut terselip pembelajaran bahwa segala yang kita impikan, akan diraih selama berusaha maksimal. Di sisi lain, ada satu pesan moral, yaitu memiliki sikap hidup hemat, efisien dan sesuai kebutuhan. Ada sebuah pepatah lama, namun sangat penting diterapkan di dalam kehidupan, agar di situasi apapun, jangan sampai terjadi “besar pasak daripada tiang”.
Keuangan yang sehat, di skala apapun itu, apakah skala kecil seperti halnya uang jajan sekolah, anggaran belanja rumah tangga, ataupun di skala besar seperti APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara), sudah sepatutnya diatur untuk bisa seimbang antara pendapatan dan pengeluaran.
APBN dirancang sedemikian rupa, dengan tetap memperhatikan rasio utang yang wajar di setiap tahun anggarannya, sehingga kestabilan ekonomi negara dapat terjaga. Kebijakan Pemerintah dalam hal pengaturan keuangan semata-mata ditujukan untuk keperluan pembangunan fasilitas umum yang memadai dan merata di seluruh penjuru Indonesia.
Efisiensi anggaran dilakukan dengan memangkas anggaran yang skala prioritasnya lebih rendah seperti pos-pos belanja barang dan modal seperti alat tulis kantor (ATK), perjalanan dinas, rapat dan seminar serta pengadaan peralatan dan mesin.
Ada begitu banyak kebijakan fiskal dari Pemerintah yang diprioritaskan seperti pembangunan jalan, jembatan, rumah sakit, sekolah, pelabuhan, bandara, listrik, penyediaan air bersih, layanan internet sampai ke pelosok desa dan keperluan dasar yang penting untuk masyarakat lainnya. Diharapkan dengan adanya pembangunan fasilitas umum ini dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sehingga menjadikan rakyat kuat dan berdikari. Dan dengan adanya hal tersebut, akan didapat sumber daya manusia yang sehat, berpendidikan dan siap menghadapi tantangan, serta menjadi manusia produktif yang berhasil di bidang nya masing-masing, untuk menjadi penggerak roda ekonomi bangsa.
Di dalam anggaran keuangan negara, terutama pada sektor pendidikan, terdapat banyak manfaat yang telah dirasakan, dan itu berdampak positif baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Saya adalah salah satu contoh, yang menjadi sarjana pertama kalinya di dalam keluarga. Sewaktu kuliah, di awal tahun 2000-an, saya adalah penerima beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik). Beasiswa tersebut adalah penolong bagi sayasehingga akhirnya saya bisa lulus kuliah. Ini adalah salah satu bentuk nyata perhatian pemerintah dan masyakarat, dari pengelolaan keuangan negara, yang saya sendiri merasakan dampak yang berarti.
Program KIP (Kartu Indonesia Pintar) dan Bidik Misi bagi siswa kurang mampu, program satu keluarga satu sarjana adalah contoh lainnya program keberhasilan pendidikan. Kita percaya dengan modal pendidikan, akan mengubah nasib dan ekonomi yang lebih baik, seperti sebuah kutipan dari Kofi Annan berikut: “Pengetahuan adalah kekuatan, informasi membebaskan. Pendidikan adalah premis kemajuan, di setiap masyarakat, di setiap keluarga”.
Anggaran keuangan negara sebanyak 20 persen dari total APBN, digelontorkan demi peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Tugas kita sekarang adalah mengawal dan juga mendukung sepenuhnya anggaran tersebut demi kemajuan pendidikan generasi penerus bangsa. Dana BOS (Bantuan Operasiona Sekolah) yang dianggarkan untuk sekolah, kita kawal agar benar-benar dibelanjakan untuk upaya peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah.
Tentunya segala sesuatu akan menjadi baik jika diperuntukkan sesuai dengan kebutuhan dan skala prioritas sekolah. Prioritas untuk pengadaan Personal Computer (PC) baru untuk keperluan ujian dan praktik informatika, serta coding akan menjadi skala prioritas yang baik. Anggaran BOS juga diutamakan untuk pengembangan akademik dan non akademik siswa seperti kegiatan lomba-lomba ataupun kegiatan ekstrakurikuler.
Hal lainnya yaitu, untuk guru dengan adanya pelatihan dan lokakarya untuk peningkatan kompetensi pedagogik dan profesional guru. Hal ini dilakukan demi meningkatkan performa guru di dalam kelas, yang pastinya akan berdampak pada proses belajar-mengajar.
Lalu bagaimana cara kita mendukung Pemerintah di dalam menjalankan program-programnya? Tidak lain adalah dengan taat membayar pajak. Jangan pernah merasa berat, padahal setiap saat kita merasakan dampak pajak tersebut.
Adapun Penerimaan keuangan negara yang lain adalah dari pajak perusahaan/ badan usaha, pajak panjualan barang mewah, cukai, bea masuk dan bea keluar, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berasal dari pengelolaan kekayaan Sumber daya Alam (SDA), pendapatan dari Badan Layanan Umum (BLU) dan lainnya seperti pengelolaan pengurusan SIM, paspor, dan hasil Lelang barang tindak pidana korupsi.
Melihat banyaknya sumber penerimaan negara, dan dari sumber tersebut, keuangan negara dijadikan sebagai investasi masa depan bangsa. Begitu banyak Pembangunan yang dirasakan dari penggunaan keuangan negara tersebut. Visi Indonesia Emas 2045, yang akan bertepatan dengan peringatan kemerdekaan negara Republik Indonesia yang ke-100, yaitu gagasan yang menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, maju, adil, dan makmur dan berlandaskan empat pilar utama yaitu resiliensi, kemakmuran, inklusivitas dan keberlanjutan dengan fokus kepada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan tranformasi ekonomi untuk menjadi salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia.
Layaknya slogan demokrasi yang berbunyi: “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”, slogan ini pun sama halnya dengan penggunaan keuangan negara. Sudah sepatutnya lah kita sebagai warga negara yang baik, taat dalam membayar pajak dan tetap mengawal penggunaan pajak tersebut agar sesuai dengan kebutuhan, sehingga cita-cita Indonesia emas 2045 bukanlah sekadar angan, tetapi menjadi kenyataan.
PENULIS: MARLINA, GURU BAHASA INGGRIS SMKN 4 BANJARMASIN
Editor : Fauzan Ridhani