Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Taman Nasional, Meratus, dan Alam Bawah Sadar

admin • Kamis, 23 Oktober 2025 | 19:06 WIB
David Breckenridge
David Breckenridge

           Oleh: David Breckenridge
           Mahasiswa Antropologi, UofT, Canada

Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan adalah ruang hidup yang kini menjadi korban dua bentuk kekuasaan: konsolidasi sejarah yang didominasi kajian-kajian tetang Dayak Iban di Sarawak, dan konsolidasi sumber daya. Yang pertama mulai ketika budaya Iban di utara Borneo secara perlahan menghapus tradisi ramalan mimpi purba, menggantikannya dengan tradisi baca rasi-rasi burung yang kemudian menjadi norma etnografis pulau ini. Bentuk kedua konsolidasi tengah berlangsung hari ini, ketika negara dan korporasi berupaya mengkonsolidasikan hutan Meratus di bawah proyek Taman Nasional Meratus—sebuah rencana yang secara paradoks juga membuka jalan bagi pertambangan. Dalam kedua bentuk gerakan konsolidasi ini, yang dikonsolidasikan bukan hanya tanah dan batubara, tetapi juga alam bawah sadar kolektif: cara manusia bermimpi, budaya, cara orang Meratus menafsirkan tanda, kemurnian masa depan, semua demi mempertahankan kebebasan dari tatanan yang menindas.

Charles Hose (1912) etnografer Inggris akhir abad ke-19, mencatat bahwa di Sarawak dan sekitarnya terdapat budaya ramalan mimpi sebelum dominasi tradisi ramalan burung. Namun, lama-lama sistem mimpi ini terpinggirkan. Derek Freeman pada 1960-an melanjutkan warisan Hose, tetapi menegaskan augury burung Iban sebagai “agama” yang lengkap—sebuah penutupan intelektual terhadap kemungkinan tafsir lain di Borneo. Melalui langkah-langkah ini, lahir Ibanologi: konsolidasi pengetahuan akademik yang menjadikan budaya Iban sebagai model tunggal untuk memahami seluruh pulau serta 200+ budaya lainnya. Sejarah tersebut mencerminkan bentuk pertama konsolidasi: penyeragaman tafsir dan simbol, di mana mimpi sebagai wilayah ketidaktahuan dan kebetulan digantikan oleh sistem tanda yang lebih hierarkis dan dapat diatur. Padahal suku-bangsa Iban dan masyarakat Meratus sudah sepakat menjadi kawan-kawan seperjuangan di pulau Borneo, dalam sejarah, saya spekulasi ada kemungkinan orang Meratus menganggap burung-burung tertentu sebagai mata-mata Iban yang menyebarkan budaya Iban dan menguasai ramalan lain sampai habis.

Michael Dove pada 1970-an hingga 1990-an membuka kembali ruang bagi kebetulan dan kerendahan hati dalam pengetahuan akademik. Melalui studinya tentang masyarakat Kantu Iban, ia menunjukkan bahwa ramalan burung Iban bukanlah takhayul, melainkan mekanisme kultural untuk menghindari “monokultur pikiran" (Vandana Siva). Bagi Dove, peramal burung menolak sistematisme yang mengira alam dapat diprediksi sepenuhnya, padahal tidak. Pesan yang sama bisa didapat dari kajian tentang ramalan mimpi di pergunungan Meratus. Namun, Dove masih bekerja dalam bayangan tradisi Iban yang telah menyingkirkan mimpi sebagai medium utama. Dari sikap sejarah Borneo dan konsolidasi ini, masyarakat Meratus menjadi anomali berharga: mereka mempertahankan bentuk lama ramalan mimpi (batanung-batirau) di mana tanah, mimpi, dan Roh saling berinteraksi di umbun-umbun dan di ladang untuk menolak konsolidasi eksternal—baik politik, ekonomi, maupun epistemik.

Anna Tsing, dalam In the Realm of the Diamond Queen (1993), memusatkan perhatian pada Meratus sebagai masyarakat yang mampu “menawar kekuasaan” dengan humor, lelucon, dan kesadaran diri. Ia menunjukkan bahwa Meratus tidak sekadar korban pembangunan, melainkan aktor yang menunda dan memelintir intervensi negara. Dalam istilah James Scott, strategi mereka bukan perlawanan frontal, melainkan “senjata-senjata lemah” yang berfungsi menjaga jarak dari kekuasaan. Dalam arti psiko-semiotik, ini adalah bentuk mimpi yang hidup: ketidakteraturan sebagai benteng melawan penyeragaman. Ketika negara berusaha menertibkan hutan, Meratus mengelola ketidakteraturan sebagai bentuk kebebasan.

Kini, Taman Nasional Meratus mewakili bentuk kedua konsolidasi. Di bawah retorika konservasi dan kapitalisme hijau, proyek taman nasional justru menyiapkan ruang bagi batu bara. Proposal taman nasional bukanlah pembebasan ekologis, melainkan pembekuan politik: hutan dijadikan aset, masyarakat dijadikan penjaga simbolis tanpa hak menentukan arah hidupnya. Konsolidasi sumber daya berjalan bersamaan dengan konsolidasi kesadaran.

Dalam lanskap politik semacam itu, praktik mimpi-tanah (ramalan mimpi) menjadi ekspresi bawah sadar kolektif yang menolak dikonsolidasikan. Saat Meratus menaruh segenggam tanah di bawah bantal dan menanti mimpi tentang panen atau hujan, mereka menghidupkan kembali fungsi purba mimpi sebagai medan kebebasan. Mimpi—tidak bisa diatur, tidak bisa direncanakan—menjadi bukti bahwa pikiran selalu mencari jalan keluar dari tatanan yang mengekang. Dalam bahasa Charles Peirce, mimpi maupun interpretasi rasi-rasi lain adalah indeks dari masa depan yang belum terjadi, dari "mode ontologi masa depan" atau "being in futuro" yang terus menghindari penutupan makna. Dengan demikian, tradisi batanung-batirau yang dipraktekkan di Dayak Pitap dan budaya-budaya lain adalah bentuk perlawanan terhadap reformasi neoliberalisme serta agenda-agenda di era "post reformasi”.

Editor : Arief
#Opini #Meratus