Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Burung Besi di Langit Banua: Dinamika Penerbangan Kalimantan Selatan

admin • Sabtu, 18 Oktober 2025 | 10:26 WIB
Panca Irvan Sujianto
Panca Irvan Sujianto

OLEH : PANCA IRVAN SUJIANTO, KONSULTAN PUBLIK

Bertambahnya frekuensi penerbangan di Kalimantan Selatan membawa pengaruh positif yang terasa nyata, mulai dari kelancaran mobilitas penduduk hingga peningkatan aktivitas perdagangan, pariwisata, serta agenda sosial dan keagamaan yang semakin berkembang.

Di Kalimantan Selatan (Kalsel), terdapat lima bandar udara, yakni Bandara Syamsudin Noor sebagai bandara utama yang melayani jalur domestik dan internasional, Bandara Bersujud di Batulicin, Bandara Gusti Syamsir Alam dan Bandara Mekar Putih di Kotabaru, serta Bandara Warukin di Tabalong yang saat ini dalam proses pengembangan.

Seluruh infrastruktur ini menjadi fondasi penting pendorong pertumbuhan berbagai sektor di Kalsel. Selain itu mempercepat distribusi barang, memudahkan akses pelayanan publik, serta mendorong hubungan regional dan global.

Lokasi geografis Kalsel yang berada dekat aliran arus laut dan jalur logistik utama, menjadikan sektor perhubungan udara menjadi sangat vital mengingat keterbatasan jaringan darat yang kerap terkendala oleh sungai dan hutan luas. 

Bandara Utama Syamsudin Noor

Dalam catatan sejarah, Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru awalnya bernama Lapangan Terbang Ulin telah dibangun pada masa kolonial Hindia Belanda tahun 1936 untuk keperluan militer dan logistik.

Kemudian bertransformasi menjadi bandara sipil setelah kemerdekaan. Pada tahun 1975, nama bandara berubah sebagai penghormatan kepada pahlawan Nasional Letnan Udara Satu Anumerta Syamsudin Noor yang gugur dalam misi penerbangan di tahun 1950.

Kini, Syamsudin Noor telah berkembang dari landasan sederhana menjadi kompleks bandara internasional yang modern dan layak dijuluki “Jewel of Borneo-Permata Kalimantan”, menampung sampai tiga juta penumpang per tahun dengan runway sepanjang 2.500 meter dan menjadi terminal modern yang diresmikan Presiden Joko Widodo sejak 2019, sebagai cermin kemajuan transportasi udara dan menghubungkan Kalsel ke seluruh Indonesia maupun luar negeri.

Prioritas pembangunan daerah diwujudkan dalam Asta Cita yang salah satunya adalah penguatan infrastruktur perhubungan.

Bandara Syamsoedin Noor menjadi pintu gerbang Kalimantan yang mendorong mobilitas pegawai, pebisnis, hingga logistik pendukung IKN.

Selain peran hub logistik, bandara tersebut diproyeksikan menjadi pusat pelaksanaan haji dan umroh, seiring peningkatan fasilitas internasional dan perluasan terminal haji.

Penerimaan dari Bandara Syamsudin Noor, memberikan kontribusi besar pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Banjarbaru.

Aktivitas bandara juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM, jasa kargo, fasilitas wisata menuju ikon kawasan seperti Loksado, pasar terapung, geopark Meratus hingga situs agama.

Tak kalah penting, penerbangan memudahkan jemaah menuju Haul Guru Sekumpul, perhelatan akbar tahunan yang menyedot ratusan ribu peserta dari seluruh nusantara.

Selain itu di bidang sumber daya alam, keberadaannya memperlancar ekspor hasil tambang, pertanian, perkebunan, dan perikanan Kalsel ke pasar nasional maupun internasional.

Pengembangan Bandara di Kalsel

Jaringan bandara di Kalimantan Selatan tidak hanya bertumpu pada Bandara Syamsudin Noor di Banjarbaru.

Sejumlah bandar udara daerah—Warukin (Tabalong), Mekar Putih (Kotabaru), Gusti Syamsir Alam/Stagen, dan Bersujud (Batulicin) yang dulu menjadi tulang punggung program transmigrasi, kini beralih peran menjadi koneksi vital untuk kawasan utara dan tenggara provinsi.

Tiap bandara punya peran yang berbeda. Bersujud masih minim penerbangan berjadwal dan membutuhkan langkah optimalisasi agar benar-benar jadi penggerak mobilitas wilayah Tanah Bumbu.

Gusti Syamsir Alam strategis bagi koridor pesisir, menjaga arus manusia dan barang di sepanjang jalur maritim.

Mekar Putih diposisikan sebagai simpul logistik sekaligus penopang industri di Kotabaru. Sementara Warukin di Tabalong sempat “mati suri”, namun Pemerintah Daerah menargetkan reaktivasi operasionalnya guna memperkuat pembangunan dan memperlebar akses antarkabupaten.

Intinya, penguatan peran masing-masing bandara dari penambahan rute hingga pengelolaan yang lebih adaptif akan menentukan seberapa cepat Kalimantan Selatan menutup kesenjangan akses dan mempercepat pemerataan pertumbuhan.

Pengembangan bandara-bandara tersebut tidaklah mudah, mengalami berbagai hambatan misalnya pembebasan lahan baik untuk fasilitas bandara, runway, apron, maupun akses jalan.

Proses pembebasan tanah harus berhadapan dengan tuntutan penggantian pemilik lahan serta keluhan vendor infrastruktur akibat pembayaran proyek yang tertunda.

Butuh komitmen lintas kementerian dan pemerintah daerah agar proses tersebut berlangsung lancar. Peningkatan kapasitas bandara juga diikuti dengan pembenahan sistem keamanan, pengadaan peralatan canggih, hingga standar pelayanan internasional yang menjadi syarat mutlak status bandara internasional.

Fasilitas imigrasi, kargo, serta ruang tunggu haji diperluas untuk mendukung lonjakan penumpang di masa puncak musim liburan dan haji, mengingat besarnya potensi penerbangan dari pelaksaan ibadah ini.

Tantangan dan Potensi Masa Depan

Bandara Syamsudin Noor Kembali menjadi simbol ketahanan dan kebangkitan dunia penerbangan Kalsel.

Di tengah badai pandemi yang membuat industri penerbangan nasional goyah, bandara ini tekah menunjukkan daya adaptasi dengan cara memperkuat protokol kesehatan, memperluas digitalisasi layanan dan memastikan roda transportasi udara tetap berputar ketika dunia sedang terhenti.

Meski kini situasi berangsur pulih, tantangan baru terus bermunculan. Frekuensi penerbangan yang belum stabil, harga tiket yang fluktuatif, serta beban biaya operasional menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa dihindari.

Gangguan keamanan dan cuaca ekstrem, terutama kabut asap pada musim kemarau menjadi pengingat betapa rentannya rantai mobilitas udara tanpa sistem keselamatan dan mitigasi yang kuat.

Namun, tahun 2025 membawa harapan baru. Kembalinya status internasional Syamsudin Noor lewat rute Banjarmasin - Kuala Lumpur yang dioperasikan AirAsia bukan sekadar pembukaan jalur penerbangan, melainkan penanda titik balik bagi konektivitas Kalimantan Selatan.

Kini masyarakat dapat berwisata, beribadah, hingga berbisnis lintas negara tanpa harus transit di bandara Jawa. Dengan 2,7 juta penumpang domestik sepanjang 2025, Syamsudin Noor menegaskan dirinya sebagai nadi mobilitas udara masyarakat Banua.

Ke depan, tantangannya bukan sekadar menambah rute atau memperbanyak penumpang. Bandara ini perlu menjadi penggerak ekosistem peradaban baru. Pembangunan IKN, laju investasi, dan pertumbuhan ekonomi digital menjadi momentum untuk menghadirkan jalur penerbangan bisnis, logistik, hingga ekspor produk unggulan daerah.

Sinergi antara transportasi udara, laut dan darat bukan hanya mimpi integrasi, melainkan kebutuhan strategis agar Kalimantan Selatan tidak sekadar menjadi daerah penghubung, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.

Penerbangan di Kalimantan Selatan laksana “burung besi” yang terus mengepakkan sayap, beradaptasi dengan kemajuan teknologi, tantangan ekonomi, dan dinamika sosial.

Dari sejarah Syamsudin Noor hingga langkah-langkah pengembangan berbagai bandara baru, potensi yang dihadirkan sungguh besar namun tetap diwarnai tantangan operasional, lingkungan, dan manajemen.

Kita optimis dengan dukungan kebijakan strategis dan sinergi lintas sektor, baik Pemprov, Pemerintah Pusat, Angkasa Pura serta masyarakat luas, transportasi udara di Kalsel akan menjadi motor utama perkembangan ekonomi sekaligus penghubung mimpi masyarakat dalam berwisata, berbisnis, dan beribadah.

Harapan baru terus bertumbuh di atas Banua tempat burung besi membawa perubahan dan masa depan yang lebih baik di Kalsel.

Editor : Fauzan Ridhani
#Bandara Warukin #kalimantan selatan #Pelayanan Publik #Bandara Internasional Syamsudin Noor #Frekuensi Penerbangan