Oleh: Wardiman
Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Banjarmasin
Di era ketika kecerdasan buatan (AI) mampu menjawab segala pertanyaan dalam hitungan detik dan dunia pendidikan sedang menghadapi problem dan paradoks berskala besar. Apa itu?
Teknologi membuka akses ilmu tanpa batas, sementara di sisi lain teknologi merangkak perlahan untuk menggerus ruang-ruang kemanusiaan dalam proses belajar.
Guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Berbeda dengan masa lalu, ketika guru menjadi poros utama dalam menyalurkan ilmu yang membuat setiap proses pembelajaran terasa dinanti peserta didik dan terarah pada pembelajaran yang utuh. Kini, kecerdasan buatan (AI) mampu menjelaskan konsep, memberikan contoh, bahkan menilai hasil pekerjaan peserta didik. Namun, dibalik semua kemajuan itu, terselip pertanyaan yang menuntut perenungan sekaligus mengetuk hati, "Apakah DNA pendidik masih mengalir dan berdenyut dalam diri seorang guru?".
Seiring tuntutan zaman yang semakin kompleks, tentu banyak guru terjebak dalam pusaran regulasi dan tenggelam pada lautan laporan yang tak bertepi. Waktu yang seharusnya digunakan untuk memahami dan mendampingi peserta didik, justru terkuras oleh kewajiban formal yang kering dan jauh dari proses pemaknaan. Hal ini bukan karena guru kehilangan hati untuk mendidik akan tetapi konsep sering kali menempatkan para pendidik dalam posisi yang serba terbatas. Terbatas oleh sistem yang menuntut angka, bukan pada makna; sementara hakikat mendidik perlahan memudar dibalik tumpukan berkas bak dipersimpangan antara nurani atau target mekanis.
Dalam kondisi seperti itu, guru mudah kehilangan DNA (Deoxyribonucleic Acid) karena keberadaan teknologi yakni kecerdasan buatan (AI) yang kian merasuk dalam ruang belajar, bahkan sering kali membuat guru lebih sibuk menyesuaikan diri dengan sistem daripada mendalami makna mendidik itu sendiri. Fokusnya bergeser dari “membentuk karakter” menjadi “memenuhi target pembelajaran”. Akibatnya, pendidikan yang dahulu bergelora dengan nilai, menjalin ikatan emosional (rasa), dan makna kini perlahan membeku menjadi serangkaian gerak tanpa jiwa.
Ketika guru hanya berfokus pada peran sebagai pengajar maka proses belajar mengajar telah beralih menjadi rutinitas semata. Ruang kelas menjadi kaku, siswa sekadar hadir, materi disampaikan, nilai diberikan, lalu segalanya selesai tanpa jejak makna yang dalam. Pendidikan pun kehilangan ruhnya dan berlalu begitu saja. Kendati seperti itu, pendidikan berjalan layaknya mesin yang berputar tanpa arah. Ia masih berfungsi tapi kehilangan rasa. Di setiap akhir pelajaran maka yang tersisa hanyalah lembar catatan dan deret angka, bukan perubahan sikap, bukan pula pemahaman mendalam tentang hidup kebermaknaan.
Padahal, inti dari pendidikan bukan sekadar menyampaikan ilmu tetapi menyalakan dan membangkitkan kesadaran. Peserta didik bukan tentang seberapa banyak yang dihafal tapi seberapa jauh dan mendalam akan hati nan pikiran tumbuh bersama dan beriringan. Ketika dimensi kemanusiaan diabaikan maka pendidikan akan menjadi tubuh tanpa ruh, layaknya hidup secara administratif namun mati secara maknawi.
Sejatinya, guru harus kembali pada jati dirinya sebagai pendidik dan suasana kelas akan menjadi ruang kehidupan. Setiap tatapan, sapaan, candaan dan nasihat sederhana menjelma menjadi sumber inspirasi. Nilai-nilai seperti kejujuran, empati, dan tanggung jawab tumbuh seiring dengan ilmu yang dipelajari. Menurut data penelitian di bidang psikologi pendidikan pada tahun 2018 yang melibatkan lebih dari 58 ribu peserta didik menunjukkan bahwa dukungan emosional dari guru memiliki korelasi positif terhadap munculnya emosi akademik yang sehat seperti rasa percaya diri dan antusiasme belajar serta mampu menekan emosi negatif seperti kecemasan dan stres. Temuan tersebut menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bukan sekadar transfer of knowledge akan tetapi jauh lebih dari itu yakni transmission of soul, perpindahan semangat, nilai, dan keteladanan yang lahir dari interaksi manusiawi antara guru dan peserta didik.
Seorang guru sejati tahu bahwa mendidik bukan sekadar mengisi kepala tetapi juga membentuk karakter. Ia tahu bahwa karakter tidak lahir dari hafalan melainkan dari keteladanan. keteladanan itu, tak bisa diprogram seperti baris kode di layar. Ia hanya dapat dipantulkan melalui hati yang jujur dan perbuatan yang tulus. Sebab kejujuran adalah puncak nilai kemanusiaan dan fondasi dari segala karakter yang bermakna.
AI mungkin mampu meniru cara berbicara guru namun ia tidak bisa meniru sebuah ketulusan, kepedulian serta memahami tiap jengkal permasalahan peserta didik. Ia dapat memberikan jawaban tetapi tidak memahami rasa kecewa atau kebanggaan yang menyertai setiap proses belajar. Di sinilah perbedaan mendasar antara kecerdasan buatan (AI) dan nurani (Pendidik)
Teknologi seharusnya menjadi mitra, bukan pengganti. Ketika digunakan dengan bijak, AI dapat menata ulang ritme dan memperluas wawasan. Namun, ketika teknologi mengendalikan arah pendidikan maka pendidik bisa kehilangan kendali atas kemanusiaannya sendiri. Begitu ironi jika guru secara perlahan berubah menjadi pelaksana sistem yang dingin dan serba terukur. Empati tergantikan oleh data dan kebijaksanaan digantikan oleh dogmanisme yang menilai tanpa memahami. Tentu, dititik itulah, pendidikan berisiko kehilangan jiwanya secara tidak langsung karena pendidik tidak lagi menjadi sumber ilmu akan tetapi sekadar bagian dari mekanisme yang berjalan tanpa rasa.
Di tengah derasnya arus digital, guru perlu meneguhkan dan memastikan untuk kembali memaknai keberadaannya. Ia bukan pesaing teknologi melainkan penjaga nilai-nilai kemanusiaan di ruang kelas. DNA pendidik itulah yang membedakan guru dan AI, sebab pendidik memiliki jiwa yang mencintai proses tumbuhnya manusia yang berbudi luhur (berkarakter).
Mendidik dengan hati berarti hadir secara utuh. Menyapa peserta didik bukan karena kewajiban tetapi karena kepedulian. Mendengarkan bukan sekadar formalitas tapi bentuk penghargaan terhadap eksistensi peserta didikyang sedang mencari arah hidupnya. Guru yang mendidik dengan cinta tidak hanya melahirkan peserta didik yang cerdas tapi mengajari mereka arti sebuah kebersamaan (peka). Ia tahu bahwa setiap anak membawa kisah, luka, dan potensi yang berbeda. Tugas pendidik bukan sekadar menilai di lembar rapor melainkan menuntun peserta didiknya agar menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Tak bisa dielakkan, kalau keberadaan AI mampu menggantikan metode atau trik guru mengajar namun tidak akan pernah mampu menggantikan cara guru menyentuh jiwa. Sebab pendidikan sejati bukan hanya tentang “apa yang diketahui,” tetapi juga tentang “bagaimana menjadi manusia secara utuh.” Maka, di tengah perubahan zaman, guru ditantang untuk tetap menjadi lentera. Lentera yang tidak kalah terang dari layar gawai karena sinarnya bukan berasal dari AI melainkan dari nurani yang terus menyala demi masa depan generasi.
DNA pendidik tidak akan hilang selama masih ada guru yang mengajar dengan kasih, mendengar dengan empati, dan membimbing dengan penuh keikhlasan. Di balik bayang-bayang AI, justru di sanalah lentera sejati pendidikan akan semakin tampak karena teknologi mungkin saja cerdas tapi hanya manusia yang bisa benar-benar mendidik dengan jiwa dan hati yang ikhlas. Maka, jadilah pendidik yang tetap menatap mata peserta didiknya dengan kasih, bukan pada layar yang dingin tanpa rasa. Jadilah suara yang menenangkan di antara bisingnya informasi, dan teladan yang membimbing ketika dunia terasa terlalu cepat bergulir dan berubah.
Sebab, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi bekerja dan menghasilkan melainkan oleh seberapa dalam hati pendidik memahami arti belajar mengajar. Maka, sangat dibutuhkan kesadaran dan kepekaan untuk terus hadir dengan nurani yang hidup, dengan cinta yang tulus, dan dengan semangat yang tak pernah usai.
Biarlah teknologi melaju secepat angin, menembus langit, bahkan mengguncang peradaban. Selama masih ada guru yang mengajar dengan hati dan menuntun dengan kasih sayang maka pendidikan akan tetap menemukan arah cahaya untuk menuju lahirnya generasi emas yang berilmu sekaligus berkarakter.
Editor : Arief