Oleh : Alfinnor Effendy
Alumni Mahasiswa S2 Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin,
Dosen luar biasa di Fuh UIN Antasari Banjarmasin,
Eks. Ketua PC PMII Kota Banjarmasin periode 2023-2024,
Di banyak ruang kuliah juga forum diskusi hari ini, kita mulai jarang mendengar suara pena yang menari di atas kertas. Tak banyak lagi mahasiswa yang membuka buku catatan untuk menuliskan setiap penjelasan dosen atau pemantik. Pemandangan yang dulu begitu akrab—tangan-tangan yang sibuk menulis, kertas penuh coretan, dan buku yang menjadi saksi proses belajar—kini perlahan menghilang, tergantikan oleh deretan layar ponsel yang menyala di atas meja.
Mahasiswa masa kini lebih percaya pada gawai. Mereka meyakini bahwa dengan memotret slide presentasi, merekam suara dosen, atau menyimpan file PDF, semua informasi sudah terdokumentasi dengan sempurna. Di kepala mereka, semua yang digital terasa abadi. Namun, keyakinan itu sejatinya adalah bentuk ilusi pengetahuan. Sebab menyimpan data tidaklah sama dengan memahami ilmu.
Dalam tradisi akademik, kegiatan mencatat bukanlah tindakan administratif semata, tetapi bagian penting dari proses berpikir dan belajar. Psikologi kognitif menjelaskan bahwa menulis secara manual mengaktifkan sistem motorik, sensori, dan linguistik secara simultan. Saat seseorang mencatat, otaknya sedang menyaring, memilih, dan mengorganisasi informasi untuk disimpan dalam memori jangka panjang.
Menurut penelitian Mueller dan Oppenheimer (2014) dari Princeton University, mahasiswa yang mencatat dengan tangan memiliki pemahaman konseptual lebih baik dibanding mereka yang mengetik atau sekadar merekam materi kuliah. Hal ini karena menulis manual memaksa otak untuk memproses ulang informasi, bukan sekadar menyalin kata demi kata. Dengan kata lain, menulis adalah berpikir.
Ketika mahasiswa berhenti menulis dan hanya mengandalkan gawai, yang hilang bukan hanya catatan fisik, melainkan juga aktivitas mental yang mendalam. Proses seleksi, penalaran, dan refleksi yang seharusnya terjadi saat mencatat, digantikan oleh perilaku pasif: menekan tombol kamera, menyalakan perekam, dan berpikir nanti saja. Padahal, berpikir tidak pernah terjadi di masa depan—ia hanya bisa hidup di momen ketika seseorang benar-benar hadir dalam proses belajar itu sendiri.
Fenomena enggannya mahasiswa mencatat juga dapat dibaca sebagai tanda krisis epistemik di dunia pendidikan tinggi. Kampus yang seharusnya menjadi ruang pembentukan nalar kritis justru berubah menjadi tempat konsumsi informasi instan. Mahasiswa kini lebih berperan sebagai pengarsip data daripada pengolah makna.
Budaya digital memang memberikan kemudahan luar biasa dalam mengakses ilmu, namun di saat bersamaan, ia juga menimbulkan ilusi bahwa pengetahuan dapat diperoleh tanpa proses. Nicholas Carr dalam bukunya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010) menyebut bahwa kebiasaan digital membuat manusia kehilangan kedalaman berpikir. Otak menjadi terbiasa berpindah cepat dari satu informasi ke informasi lain tanpa sempat mengendapkan makna. Akibatnya, ilmu yang didapat menjadi dangkal, cepat hilang, dan tidak membentuk keutuhan pengetahuan.
Di ruang-ruang kuliah, situasi ini tampak jelas. Mahasiswa hadir secara fisik, tetapi pikirannya terpecah antara mendengar penjelasan dosen dan memeriksa notifikasi. Mereka memiliki banyak file materi, tetapi sedikit pemahaman mendalam. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi melahirkan generasi sarjana yang informasinya banyak, tetapi refleksinya minim.
Buku dan Pena: Simbol Kesadaran Intelektual Buku catatan dan pena sebenarnya bukan sekadar alat, tetapi simbol kesungguhan akademik. Ia mewakili nilai kehadiran, ketekunan, dan keterlibatan intelektual. Melalui catatan tangan, mahasiswa membangun hubungan personal dengan ilmu pengetahuan. Coretan, garis tebal, bahkan goresan tinta yang tidak rapi, semuanya menjadi saksi dari proses memahami.
Lebih dari itu, menulis manual menanamkan rasa tanggung jawab terhadap ilmu. Setiap kata yang ditulis merupakan hasil refleksi, bukan sekadar salinan. Dalam jangka panjang, catatan seperti ini bisa menjadi arsip perjalanan berpikir seseorang—jejak intelektual yang tak tergantikan oleh folder digital di ponsel.
Tradisi mencatat ini sejatinya juga memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam. Rasulullah ? bersabda:
“Ikatlah ilmu dengan menulisnya.” (HR. al-Khatib al-Baghdadi)
Hadis ini bukan sekadar anjuran administratif, tetapi perintah spiritual agar ilmu tidak hilang dan tetap hidup melalui tulisan. Dengan menulis, seseorang tidak hanya menjaga pengetahuan dari lupa, tetapi juga menegaskan niatnya untuk mengamalkan dan mewariskan ilmu.
Sayangnya, kesadaran semacam ini kian memudar. Banyak mahasiswa kini tidak lagi membawa buku tulis ke kampus, hanya ponsel dan laptop. Mereka tidak lagi mencatat apa yang mereka pikirkan, melainkan mengumpulkan apa yang mereka temukan. Akibatnya, perjumpaan mereka dengan ilmu menjadi dangkal dan sementara.
Menghidupkan kembali budaya mencatat di kalangan mahasiswa bukan berarti menolak kemajuan teknologi. Sebaliknya, ini adalah upaya menyeimbangkan kembali relasi antara digitalisasi dan kesadaran berpikir. Teknologi seharusnya berperan sebagai pelengkap, bukan pengganti proses intelektual.
Kampus perlu mendorong mahasiswa untuk aktif menulis dan mencatat, baik melalui tugas reflektif, diskusi kelas, penelitian, maupun jurnal pembelajaran. Dosen juga perlu menegaskan pentingnya aktivitas mencatat bukan sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai latihan berpikir kritis.
Menulis catatan adalah bentuk kecil dari perjuangan intelektual. Ia melatih kesabaran, ketelitian, dan ketekunan—nilai-nilai yang justru semakin langka di era serba cepat ini. Maka, ketika seorang mahasiswa membuka buku dan mulai menulis, sesungguhnya ia sedang menegaskan eksistensinya sebagai manusia berpikir, bukan sekadar pengguna teknologi.
Kemajuan teknologi seharusnya tidak menjauhkan manusia dari hakikat belajarnya. Mencatat dengan tangan mungkin terlihat sederhana, bahkan dianggap kuno. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan nilai besar: kesadaran, keterlibatan, dan kejujuran intelektual.
Sebab pada akhirnya, file digital bisa hilang, ponsel bisa rusak, dan data bisa terhapus. Tetapi pemahaman yang ditulis dengan tangan, yang lahir dari proses berpikir dan perenungan, akan selalu menetap dalam ingatan dan membentuk karakter.
Jika mahasiswa masa kini ingin menjadi generasi yang berpikir mendalam, bukan sekadar generasi penghafal data, maka sudah saatnya mereka kembali merangkul pena, membuka buku catatan, dan menulis dengan kesungguhan. Karena di balik setiap tulisan tangan, ada proses jiwa yang sedang belajar memahami dunia dengan caranya sendiri—dan barangkali, di sanalah letak keberkahan ilmu yang sejati.
Editor : Arief