Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Cekatan Menulis Sejarah Lokal dengan Arsip Digital

admin • Selasa, 7 Oktober 2025 | 11:36 WIB
Willy Alfarius
Willy Alfarius

                Oleh:   Willy Alfarius
                staf pengajar di Jurusan Pendidikan Sejarah,
                Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
                Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.

Di tengah gempuran digitalisasi yang semakin tidak terbendung, ditambah dengan masifnya penggunaan akal imitasi (AI, artificial intelligence), membawa dua sisi mata uang bagi kerja-kerja penulisan sejarah, khususnya sejarah lokal di lingkup Kalimantan Selatan. Di satu sisi, usaha preservasi dan alih wahana sumber-sumber primer sejarah dengan jalan digitalisasi dokumen menjadikan akses terhadap arsip semakin mudah dan murah. Digitalisasi juga menjadi wujud dari demokratisasi sumber yang kini tidak terbatas berada di tangan sejarawan akademik saja. Di sisi lain, era digitalisasi juga membawa beberapa permasalahan terkait validitas sumber sejarah yang ada, terutama di era ketika semua dokumen digital bisa direkayasa sedemikian rupa dengan teknologi.

Isu inilah yang mengemuka dalam Konferensi Nasional ke-6 Pendidikan Sejarah yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Lambung Mangkurat pada Jumat (03/10/2025) di Auditorium Idham Zarkasi FH ULM. Tiga orang narasumber para akademisi sejarah yakni Prof. Agus Mulyana (Kementerian Kebudayaan RI), Prof. Warto (UNS), dan Prof. Bambang Subiyakto (ULM), membincang ihwal penulisan sejarah Indonesia dari masa ke masa dan respons yang dilakukan oleh sejarawan ketika sumber-sumber digital kini kian melimpah. Dimoderatori oleh Dr. Heri Susanto (ULM), acara yang mengambil tema “Penguatan Historiografi Lokal di Era Digitalisasi Sumber”, konferensi ini menghasilkan beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian para penulis sejarah di masa kini.

Aksesibilitas

Keuntungan paling mendasar dari tersedianya sumber-sumber primer sejarah dalam bentuk digital adalah kemudahan untuk melakukan akses dan pembacaan terhadap arsip tersebut. Apabila dahulu seorang sejarawan mesti datang langsung ke kantor-kantor arsip, yang terkadang lokasinya belum tentu aksesibel, kini tumpukan dokumen tersebut sudah tersedia di layar gawai dalam bentuk file digital yang dapat dibaca dari mana saja dan kapan saja. Misalnya saja, untuk mengakses arsip-arsip VOC dari abad 17 dan 18 yang berkaitan dengan Kesultanan Banjar, cukup dengan membuka laman milik Arsip Nasional RI pada bagian Sejarah Nusantara. Di dalamnya terdapat banyak sekali arsip yang telah diklasifikasikan dan bahkan telah ditransliterasi guna memudahkan pembaca di masa kini. Untuk melihat foto-foto Banjarmasin dan wilayah lain di Kalimantan Selatan tempo dulu, cukup dengan membuka laman KITLV yang menyediakan secara cuma-cuma dan bebas unduh dengan resolusi besar.

Dengan demikian, arsip dan sumber sejarah kini tidak lagi terbatas hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu saja. Biaya untuk melakukan riset juga menjadi lebih murah karena tidak harus sampai melanglang buana hingga mancanegara untuk mendapatkannya. Artinya, kendala pendanaan yang selama ini kerap menerpa para sejarawan, baik dalam hal akses menuju kantor arsip maupun biaya menyalin arsip, dapat teratasi dengan sumber-sumber yang dibagikan secara gratis dan mudah dijangkau oleh siapapun. Dalam hal lain, publik juga dapat turut serta melakukan interpretasi atas sumber-sumber primer yang dijadikan tumpuan dasar atas sebuah narasi sejarah. Dengan demikian, kebenaran sejarah tidak mutlak hanya berada di tangan segelintir orang saja.

Tema-tema Baru

Melimpahnya sumber-sumber sejarah dalam bentuk file digital membuka kemungkinan tema-tema baru yang dapat muncul dalam penulisan sejarah. Dalam hal sejarah lokal, tema sejarah tidak lagi terbatas pada isu atau persoalan yang itu-itu saja. Sebagai contoh, Perpustakaan Nasional RI melalui Khastara (Khasanah Pustaka Nusantara) telah mendigitalisasi beberapa surat kabar masa kolonial yang terbit di Banjarmasin. Sebut saja misalnya Bintang Borneo edisi 1920-an hingga 1930-an yang tersedia dalam jumlah cukup melimpah di laman mereka. Surat kabar yang beralamat di Sudimampir ini memberitakan banyak sekali peristiwa lokal yang terjadi di Banjarmasin maupun wilayah-wilayah lainnya di Kalimantan Selatan. Berita maupun iklan yang dimuat tentu saja dapat menjadi sumber yang baru dan segar dalam penulisan sejarah mengenai Banjarmasin.

Apabila selama ini pembahasan sejarah lokal berkutat pada kelompok elite saja, baik elite politik maupun agama, maka kini dengan kehadiran sumber-sumber digital, narasi sejarah dapat berkembang dengan lebih beragam. Kalangan rakyat pada umumnya, bahkan mereka yang selama ini terabaikan maupun terpinggirkan dalam narasi sejarah Indonesia maupun lokal akan lebih terangkat. Cakupan tema juga tidak lagi berkutat pada hal-hal besar, melainkan pada aspek yang lebih mikro dan subtil. Berbagai macam surat kabar masa kolonial yang kini telah tersedia secara bebas di Delpher dapat menjadi salah satu rujukan untuk menulis sejarah kehidupan sehari-hari di Banjarmasin maupun kota-kota lain di Kalimantan Selatan.

Disiplin Verifikasi

Perlu digarisbawahi bahwa tersedianya sumber-sumber sejarah dalam bentuk digital juga mengharuskan sejarawan untuk lebih disiplin dalam hal verifikasi atas validitas sumber sejarah. Apabila sumber tersebut masih tersimpan dalam laman lembaga-lembaga arsip dan perpustakaan yang memang menerbitkannya langsung seperti ANRI maupun Perpusnas, maka akan lebih mudah untuk melakukan verifikasi fisik sumber. Oleh karena lembaga arsip dan perpustakaan ini umumnya masih menyimpan naskah fisiknya, maka mudah saja untuk memeriksa autentisitas sebuah arsip dan sumber sejarah. Hanya saja, yang menjadi persoalan ketika sumber-sumber digital ini telah terdistribusi ke berbagai media maupun kalangan yang kemudian mereproduksi ulang.

Di tengah gempuran AI yang dapat dengan mudah membuat rekayasa visual yang bahkan amat mendekati bentuk aslinya, sejarawan dituntut untuk dapat memiliki kepekaan, pengetahuan dasar, serta ketelitian untuk selalu memeriksa kembali sumber-sumber digital yang diperoleh dari dunia maya. Ketelitian untuk memastikan identitas sumber mulai dari siapa yang memproduksi, kapan ia diproduksi, sampai pada letak salinan asli sumber digital menjadi pengetahuan yang harus dimiliki oleh seorang peneliti sejarah. Maka, meski di satu sisi sumber digital mudah diperoleh, di sisi lain kehati-hatian untuk menggunakannya juga mesti menjadi catatan penting bagi seorang sejarawan yang mengandalkan data-data digital.

Berkembangnya Sejarah Lokal

Pada akhirnya melimpahnya sumber-sumber sejarah dalam bentuk digital membawa harapan besar bagi berkembangnya narasi sejarah lokal di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan secara umum. Selama ini, historiografi lokal cenderung berkutat pada isu yang nyaris sama sepanjang waktu, dengan periode kajian yang relatif kontemporer. Kemunculan sumber-sumber dari masa kolonial yang kini lebih mudah diakses tentunya menjadi angin segar agar muncul kebaruan narasi. Tidak bisa dimungkiri bahwa periode kolonial cukup berpengaruh dalam membntuk wajah kota hari ini. Maka kehadiran tema-tema sejarah yang lebih beragam dapat menjadi cermin bagi pembangunan kota di masa mendatang.

Editor : Arief
#Opini #Sejarah