Oleh: Nor Hasanah
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Banjarmasin genap berusia 499 tahun (24 September 1526 M / 24 September 2025 M. Serangkaian kegiatan, dari bakti sosial hingga festival olahraga, telah semarak dilaksanakan dengan semangat `Gawi Sabumi` atau bekerja sama. Namun, di balik gegap gempita ini, mari kita ajukan sebuah pertanyaan mendasar: Apakah jalan menuju “Banjarmasin Maju Sejahtera” hanya akan kita bangun dengan perbaikan fisik semata? Saat kita menanam pohon dan mengecat pagar, sudahkah kita juga memupuk kecerdasan kolektif? Jawabannya mungkin terletak pada satu institusi yang sering kali terabaikan: perpustakaan. Inilah jalan yang pangkalnya adalah pengetahuan dan ujungnya adalah kesejahteraan yang berkelanjutan.
`Gawi Sabumi` akan kehilangan rohnya jika hanya berorientasi pada pembangunan fisik yang kasatmata. Kesejahteraan sejati lahir dari masyarakat yang terdidik, kritis, dan inovatif. Oleh karena itu, perpustakaan harus dikembalikan pada posisinya sebagai *jantung intelektual* dan *simpul kemajuan* yang strategis. Transformasinya dari gudang buku ke jantung pembangunan. Dari gudang buku yang statis menjadi pusat kegiatan masyarakat yang dinamis adalah jalan pasti untuk mewujudkan cita-cita bersama. Dengan menjadikan perpustakaan sebagai ujung tombak, `Gawi Sabumi` kita akan memiliki peta yang jelas menuju tujuan.
Tiga Pilar Perpustakaan Modern
Hadirnya perpustakaan modern kini telah menjadi sebuah tuntunan kebutuhan zaman. Pertama, Perpustakaan sebagai Simpul `Gawi Sabumi` yang Hidup. Semangat `Gawi Sabumi` membutuhkan ruang untuk bernapas dan bertumbuh. Perpustakaan modern adalah `third place` atau tempat ketiga yang netral, setelah rumah dan kantor, yang ideal untuk mewadahi kolaborasi ini. Ia bukan lagi sekadar ruang baca yang hening, melainkan tempat masyarakat dari berbagai kalangan—mulai dari pelajar, ibu-ibu, hingga pelaku UMKM—berkumpul untuk berdiskusi, berbagi ide, dan belajar bersama . Inilah wujud `Gawi Sabumi` yang paling substantif: gotong royong memajukan pengetahuan.
Kedua, Literasi sebagai Fondasi Kesejahteraan yang Inklusif. Pemerintah Kota Banjarmasin telah menunjukkan komitmennya dengan menyelenggarakan *Bamara Book Fair 2025* sebagai pameran literasi terbesar di Banjarmasin yang telah berlangsung pada 20-29 Juni 2025 di Taman Kamboja, yang mengusung tema “Perempuan Membaca, Banjarmasin Maju Sejahtera”. Kegiatan ini bukan hanya menyajikan pameran buku, bazar buku, bedah buku, lomba bercerita, serta berbagai hiburan untuk keluarga dan generasi muda, tetapi ini menjadi sebuah pernyataan politik yang tegas bahwa literasi adalah fondasi kemajuan yang mampu meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat. Dengan menghadirkan pusat literasi yang rekreatif di taman kota, terutama saat libur sekolah, kita menanamkan budaya baca pada anak-anak sekaligus memberdayakan perempuan sebagai agen perubahan pertama dalam keluarga. Langkah konkret lainnya adalah *Bimbingan Teknis pengelolaan perpustakaan sekolah* untuk 150 pengelola. Ini adalah investasi jangka panjang yang vital, karena perpustakaan sekolah adalah ujung tombal dalam menciptakan generasi penerus yang cerdas.
Ketiga, Jalan Menuju Ekosistem Kreatif dan Kesejahteraan. Akhirnya, semua upaya ini bermuara pada terciptanya ekosistem yang mendukung kesejahteraan. Sebuah kota yang literat adalah kota yang warganya mampu menyaring informasi, berpikir kritis, dan berinovasi. Perpustakaan dapat menjadi `creative hub` yang mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha baru dengan menyediakan akses terhadap informasi pasar, pelatihan kewirausahaan digital, dan ruang untuk mengembangkan ide-ide kreatif berbasis kearifan lokal Banjarmasin. Dalam konteks `Gawi Sabumi`, perpustakaan menjadi fasilitator yang mempertemukan berbagai pihak untuk menciptakan nilai ekonomi baru.
Dengan demikian, menjadikan perpustakaan sebagai jalan utama bukanlah sebuah allegori yang berlebihan. Ini adalah pilihan strategis yang logis. Gawi Sabumi` Butuh Pimpinan yang Cerdas. `Gawi Sabumi` tanpa pimpinan dari dunia pengetahuan bagai perahu tanpa kemudi; bergerak, tetapi tanpa arah yang pasti. Memperkuat perpustakaan berarti memperkuat fondasi intelektual seluruh agenda pembangunan kita. Ini adalah bentuk `Gawi Sabumi` yang paling cerdas: bekerja sama untuk membangun manusia yang akan membangun kotanya sendiri.
Menjelang usia emas 5 abad, momentum HUT ke-499 ini harus menjadi titik tolak. Pemerintah kota didorong untuk tidak hanya menjadikan perpustakaan sebagai program tambahan, tetapi sebagai *core business* pembangunan manusia. Alokasikan anggaran yang memadai, kembangkan koleksi digital, dan ubah gedung-gedung perpustakaan menjadi rumah kreatif yang hidup.
Kepada seluruh elemen masyarakat, mari kita `gawi sabumi` dengan menjadikan perpustakaan sebagai rumah kedua. Berkolaborasilah dengan pengelola untuk mengisi kegiatan-kegiatan yang memberdayakan. Literasi adalah jalan. Perpustakaan adalah kendaraannya. Dan `Gawi Sabumi` adalah bahan bakarnya. Mari kita pacu bersama menuju Banjarmasin yang benar-benar Maju dan Sejahtera. Selamat Hari Jadi ke-499, Banjarmasin! Saatnya perpustakaan memimpin perjalanan.
Editor : Arief