Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pemilih Cerdas pemilu Berkualitas

admin • Senin, 22 September 2025 | 20:28 WIB
ZULKIFLI RAHMAN
ZULKIFLI RAHMAN

            Oleh:  ZULKIFLI RAHMAN
            Kepala SDN Bahungin, Kecamatan Kelua, Tabalong

Anggota legislatif kembali berulah setelah goyangan dan ucapan yang tidak mencerminkan etika seorang pejabat publik dari anggota DPR Pusat yang menyebabkan demo besar terjadi di akhir Bulan Agustus.  Kembali kita disajikan video anggota DPRD Gorontalo yang ingin miskinkan negara. Kualitas anggota legislatif dapat terlihat dari etika dan kepribadiannya, ternyata kualitas tersebut ternyata seperti pepatah lama “jauh api dari panggang”. Setelah hampir dua puluh tahun pasca reformasi kenyataan yang diperjuangkan tidak sesuai harapan. Sistem pemilihan langsung ternyata menghasilkan wakil rakyat yang tidak memuaskan bagi masyarakat.

Berbagai langkah dan gebrakan para pasangan calon baik calon Presiden, calon legislatif agar dikenal masyarakat makin gencar dilakukan. Mencuatnya isu politik identitas tentu saja membuat riuh kalangan elit politik.  Pemilu seharusnya menjadi ajang berdemokrasi dan membuat elemen masyarakat melebur menjadi satu, yakni Indonesia maju dan berkeadilan sosial. Nyatanya pemilu yang terjadi setiap lima tahun sekali menjadi ajang “permusuhan”.

Polemik selalu saja terjadi baik dikalangan elit politik yang terkadang terbawa ke simpatasannya salah satu contoh salah satu calon presiden shalat berjamaah  sudah di klarifikasi KPI (komisi Penyiaran Indonesia) bahwa hal tersebut bukanlah iklan politik atau yang lebih dikenal politik identitas. Kita mungkin baru familiar dengar kata politik identitas di sekitaran tahun 2017 dimana pada saat itu dilaksakan Pemilu Gubernur DKI Jakarta. Sebenarnya apa makna sesungguhnya dari politik identitas ? Uraian mengenai  politik identitas tidak terlepas dari makna identitas itu sendiri.  Suparlan (2004:25)  mengartikan identitas atau jati diri sebagai  pengakuan terhadap seorang individu atau suatu kelompok  tertentu yang menjadi satu kesatuan menyeluruh yang ditandai  dengan masuk atau terlibat dalam satu kelompok atau golongan  tertentu.  Identitas atau jati diri ini terdapat  dalam berbagai bentuk dan jenis seperti identitas gender, agama,  suku,  dan profesi. Sebenarnya politik identitas tidaklah menjadi masalah di masyarakat, jika tidak “digoreng” oleh rival politik.

Elit politik seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat bukan malah sebaliknya, Menjelekkan salah satu pasangan calon. Dan menganggap pihaknyanya yang terbaik. Pendidikan politik masyarakat  kita yang rendah tentu saja semakin membuat mereka mudah di adu domba. Bagaimana di media sosial para pendukung salah satu calon saling menghujat dan menjelekkan yang lain (black campaign). Cukup sudah masyarakat kita terbelah lima tahun yang lalu. Mari jadikan pemilihan umum ajang pendidikan bagi masyarakat untuk belajar demokrasi.

Lima menit akan menetukan arah pembangunan lima tahun ke depan. Perlu kecermatan dan kehati-hatian bagi para pemilih untuk menentukan wakil rakyat yang amanah dalam mengemban tugas tersebut. Untuk itulah perlu langkah cerdas untuk mengenal dan melihat jejak rekam wakil rakyat yang akan dipilih. Kurangnya informasi dan profil para calon yang merebutkan kursi legislatif di situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) tentu saja membuat para pemilih “buta” akan kinerjanya selama ini. Hanya baliho yang menawarkan perbaikan dan janji manis yang menjawab semua rekam jejaknya. Politik identitas selalu menjadi “bumbu penyedap” untuk mengelabui masyarakat.

Masyarakat juga harus pintar memilih wakil rakyatnya baik legislatif (DPR DPD dan DPRD) terlebih untuk eksekutif Presiden dan wakil Presiden. Jangan sampai merana lima tahun kedepan. Kenali jejak rekamnya karena sekarang kita bisa dengan mudah berselancar di dunia maya untuk melihat para calon wakil rakyat. Jangan sampai tertipu hanya karena pencitraan sesaat, calon yang hanya keluar identitas saat akan pemilihan saja.

Mari bijak bermedia sosial walaupun berbeda pendapat jangan sampai ikut menjadi penebar isu hoaks atau kampanye hitam bagi calon lain. Pemilu bermartabat menghasilkan pemimpin bersih bagi masyarakat. Semoga pemilu kali ini bisa menjadi pembelajaran bagi seluruh anak bangsa bahwa memilih pemimpin untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia bukan untuk segelintir orang saja. Terlebih untuk pemilih pemula sebagian besar mereka merupakan milenial cerdas dalam menggunakan fasilitas internet. Diharapkan jangan tertipu tampilan identitas baru untuk mendulang suara.

Editor : Arief
#Opini #pemilih #Pemilu