Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dari Gaza ke Senayan: Jarak Perut yang Terlalu Jauh

admin • Rabu, 3 September 2025 | 21:39 WIB
Muhammad Fitrianto
Muhammad Fitrianto

           Oleh: Muhammad Fitrianto
           Pendidik di SMAIT Ar Rahman Banjarbaru

Di Gaza, anak-anak yang mestinya tumbuh ceria kini hanya bisa terbaring lemah. Tubuh kurus mereka menjadi saksi betapa kelaparan sudah berubah menjadi bencana kemanusiaan. Badan PBB lewat IPC (Integrated Food Security Phase Classification) baru-baru ini mengumumkan, lebih dari 500 ribu jiwa di Gaza hidup dalam kondisi kelaparan ekstrem. Bantuan yang masuk rata-rata hanya 100 truk per hari, jauh dari kebutuhan minimal 600 truk. Tidak heran, angka kematian terus bertambah, sebagian besar adalah anak-anak.

Berita ini mestinya membuat dunia terguncang. Sayangnya, banyak negara besar justru sibuk dengan agenda politik masing-masing. Gaza seakan dibiarkan menanggung penderitaan sendiri.

Senayan: Kenyang di Tengah Krisis

Di saat yang sama, kabar dari Senayan justru membuat rakyat Indonesia mengelus dada. Alih-alih memikirkan kondisi rakyat yang masih banyak kesulitan, muncul berita soal kenaikan tunjangan anggota DPR yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah per hari.

Kontras sekali. Gaza lapar, Indonesia masih bergelut dengan harga beras yang naik turun, sementara para wakil rakyat justru mendapat tambahan fasilitas. Pertanyaan sederhana pun muncul: di mana rasa empati?

Di Banua kita, tak sedikit warga yang harus menghitung ulang belanja harian karena harga kebutuhan pokok kian merangkak. Pedagang kecil, nelayan, dan petani karet masih berjibaku demi hidup layak. Lalu, pantaskah para wakil rakyat bersenang-senang di atas kenyataan ini?

Belajar dari Sejarah

Sejarah Islam pernah mencatat kepemimpinan yang peka pada penderitaan rakyat. Saat Madinah dilanda paceklik panjang, Khalifah Umar bin Khattab menolak makan enak. Wajahnya pucat karena hanya menyantap roti kering dengan minyak. Beliau bahkan mengirim surat kepada gubernur Mesir dan Syam untuk mendatangkan bantuan logistik, lalu membagikannya langsung kepada rakyat.

Pelajarannya jelas: pemimpin sejati adalah yang ikut lapar bersama rakyat, bukan yang lebih dulu kenyang.

Jarak Perut yang Terlalu Jauh

Antara Gaza dan Senayan, ada jarak perut yang terlalu jauh. Di satu sisi, ada bayi yang meregang nyawa karena tak ada susu. Di sisi lain, ada pejabat yang sibuk memperdebatkan tunjangan.  Tulisan ini bukan sekadar ingin menyalahkan, melainkan mengajak kita semua bercermin. Jangan sampai kita terbiasa dengan penderitaan orang lain lalu menganggapnya sekadar berita rutin. Yang lebih berbahaya bukan hanya kelaparan fisik, tapi kelaparan moral—saat rasa peduli kita habis dan hati kita membeku.

Saatnya Bangkitkan Kesadaran Moral

Lalu apa yang bisa kita lakukan? Banyak hal sebenarnya, meski tidak harus besar. Kita bisa memulainya dengan mendukung lembaga kemanusiaan yang konsisten menyalurkan bantuan ke Gaza, sekecil apa pun itu. Kita juga bisa mendesak wakil rakyat agar suara mereka digunakan untuk memperjuangkan jalur kemanusiaan, bukan hanya memperjuangkan tunjangan. Dan yang paling dekat, kita bisa memperkuat solidaritas di lingkungan sendiri: menolong tetangga yang kesulitan, peduli dengan saudara di sekitar kita, bukan sekadar sibuk mempercantik status media sosial.

Empati, sejatinya, adalah bahasa universal. Ia tidak mengenal batas negara, agama, atau jabatan. Yang dibutuhkan hanyalah hati yang masih hidup.

Penutup

Gaza lapar, DPR kenyang. Kontras ini seharusnya jadi cermin bagi kita semua. Jika Gaza bisa mengajarkan sesuatu, itu adalah pentingnya kepedulian dan solidaritas. Karena sesungguhnya, masyarakat yang kuat bukan hanya yang perutnya terisi, tapi yang hatinya penuh rasa peduli.

Mari kita pastikan, di tengah kenyang atau laparnya perut, nurani kita tetap hidup.

Editor : Arief
#Opini