Oleh: Zulkifli Rahman
Kepala Sekolah SDN Bahungin, Kelua, Tabalong
CGP Angkatan 10 Tabalong
Beberapa hari ini media sosial bertebaran video pendek tentang pernyataan Menteri Keuangan Republik Indonesia Ibu Sri Mulyani yang menyebutkan bahwa guru beban negara. Pernyataan ini ditanggapi beragam oleh guru-guru di Indonesia yang mungkin hanya melihat sekilas dari video yang beredar tersebut. Semua tanggapan tersebut kebanyakan bernada negatif serta membuat pernyataan maupun sumpah serapah yang mungkin tidak layak bagi seorang Pendidik (guru.red) baik di media sosial maupun di kehidupan nyata. Sebagai seorang guru harus tidak begitu saja menerima apalagi meneruskan video tersebut di media sosial.
Ternyata pernyataan tersebut dipelintir menggunakan AI sehingga guru-guru percaya bahwa pernyataan tersebut bahwa guru merupakan beban APBN. Penulis bukan bermaksud untuk membela Menteri Keuangan Republik Indonesia karena video acara itu saya tonton utuh di Kompas TV tidak ada pernyataan yang menyebutkan bahwa gaji guru merupakan beban APBN, dan itu saya lakukan berulang-ulang kali agar bisa mendapatkan pernyataan utuh untuk memahami apa yang disebutkan tersebut, sehingga tidak terjebak dalam penafsiran yang salah apalagi berita bohong (Hoaks).
Pernyataan Sri Mulyani di acara Konvensi Sains Teknologi Industri Indonesia (KSTI) yang diselenggarakan Kemendiktisaintek di Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam sambutannya pada menit ke sembilan koma lima puluh empat, sampai sepuluh koma enam (Kompas TV). Beliau menyebutkan “Banyak di media sosial saya selalu mengatakan menjadi dosen atau menjadi guru tidak dihargai karena gajinya nggak besar, ini juga salah satu tantangan bagi keuangan negara apakah semuanya harus keuangan negara ataukah Ada partisipasi dari masyarakat,” katanya.
Seorang guru tentunya kita bisa memilih dan memilah berita-berita tersebut sehingga tidak merugikan profesi kita sebagai seorang guru. Untuk mengantisipasi berita bohong atau hoax, kita perlu bersikap kritis dan berhati-hati dalam menerima informasi, terutama di media sosial. Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi: memverifikasi sumber berita, memeriksa fakta, mengenali ciri-ciri hoax, dan tidak mudah terprovokasi oleh judul yang sensasional. Selain itu, penting untuk melaporkan berita hoax yang ditemukan dan meningkatkan literasi digital agar lebih bijak dalam menyaring informasi.
Guru merupakan orang cerdas dan pembelajar dan jangan sampai termakan isu-isu negatif ataupun video yang bisa menyesatkan. Jangan sampai membuat pernyataan yang mana ia sendiri tidak pernah melihat videonya secara langsung atau secara utuh sehingga membuat gaduh.
Cerdas dalam bermedia sosial crosscheck berita yang sudah kita dengar atau lihat pahami isi berita tersebut, apakah sesuai dengan berita atau video yang kita lihat sebelumnya. Hal ini tentu saja untuk menghindari termakan berita bohong. Pastikan sumber berita berasal dari media massa terpercaya yang memiliki badan hukum pers atau organisasi yang jelas. Bandingkan berita dari beberapa sumber untuk melihat apakah ada perbedaan penyajian informasi atau sudut pandang. Bandingkan informasi yang ada dengan sumber berita lain yang terpercaya untuk melihat apakah ada perbedaan atau inkonsistensi.
Mari bersama Kita tingkatkan literasi guru Indonesia jangan sampai termakan berita bohong. sebagai seorang guru tentunya kita harus banyak membaca melihat dan mendengar dan membandingkan serta menimbang dan membuat simpulan dar sebuah berita atau video terlebih dengan kemajuan teknologi sekarang kecerdasan buatan (AI) begitu merajalela. Semuanya itu merupakan sebuah pembelajaran bagi kita (guru.red), sehingga menjadi contoh bagi generasi penerus yang tangguh dengan literasi yang baik.
Editor : Arief