Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Budaya Mewarung Kuliner dan Spiritualitas waktu Senja-Malam di Banjarmasin

admin • Jumat, 22 Agustus 2025 | 20:19 WIB
Sigit Triyono
Sigit Triyono

          Oleh: Sigit Triyono
          Dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin

Banjarmasin bukan hanya kota yang dikenal dengan julukan “kota seribu sungai”, tetapi juga memiliki denyut kehidupan sosial yang unik pada sore hingga malam hari. Di sepanjang jalan, di sudut-sudut perkampungan, hingga di tepian kota, warung-warung sederhana menjadi saksi hidup bagaimana masyarakat Banjar menjaga kebersamaan. Fenomena mewarung duduk santai, bercakap ringan, menikmati hidangan kuliner bukan saja sekadar aktivitas jual beli, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari.

Di warung, batas sosial seolah melebur. Seorang karyawan swasta bisa duduk bersebelahan dengan pegawai, mahasiswa/pelajar bisa bercengkerama dengan pedagang kecil, dan komunitas lokal menemukan ruang untuk mempererat jalinan persaudaraan. Di tengah hiruk pikuk modernisasi yang menghadirkan kafe, pusat belanja, hingga layanan digital, warung tetap menjadi ruang yang hangat dan bersahaja. Barangkali inilah bentuk “ruang publik alternatif” yang masih bertahan di kota besar yang perlahan ditarik arus globalisasi.

Lebih menarik lagi, budaya mewarung di Banjarmasin lekat dengan cita rasa kuliner Nusantara yang khas. Soto yang hangat, sop yang menyegarkan, rawon dengan kuahnya yang pekat, sate dengan aroma bakarnya yang menggoda, hingga nasi goreng sederhana yang selalu menjadi favorit, hadir sebagai pengikat selera sekaligus pengikat rasa kebersamaan. Bagi masyarakat Banjar, menikmati kuliner di warung bukan hanya soal makan, melainkan bagian dari merawat identitas dan kebanggaan lokal.

Namun, di balik hiruk pikuk aktivitas sore hingga malam itu, masyarakat Banjarmasin memperlihatkan wajah lain yang tak kalah penting, religiusitas. Ada momen di mana aktivitas ekonomi rela ditanggalkan demi menunaikan kewajiban spiritual. Malam Jumat menjadi salah satu contohnya. Banyak warung memilih untuk tutup karena para penjual, yang mayoritas muslim, lebih memilih menghadiri pengajian, majelis taklim, atau kegiatan keagamaan lainnya. Fenomena ini memperlihatkan bahwa masyarakat Banjar tidak hanya piawai menjaga harmoni sosial melalui kuliner, tetapi juga konsisten menempatkan agama sebagai penuntun hidup.

Budaya mewarung di Banjarmasin dengan demikian bukan sekadar kisah tentang ekonomi rakyat kecil, melainkan cermin tentang bagaimana masyarakat lokal mengelola keseimbangan antara kebutuhan jasmani, kebersamaan sosial, dan ketenangan rohani. Di saat dunia semakin terpolarisasi oleh gaya hidup serba cepat dan individualis, warung-warung di Banjarmasin mengajarkan bahwa ada cara sederhana untuk tetap menjaga kebersamaan makan bersama, bercakap hangat, lalu berhenti sejenak untuk menimba ilmu agama.

Di sisi lain, mewarung juga berkontribusi nyata bagi perputaran ekonomi rakyat. Dari warung kecil inilah banyak keluarga menggantungkan nafkah, menciptakan lapangan kerja, sekaligus menjaga daya hidup ekonomi lokal. Kehadiran warung menjadi jembatan antara kebutuhan masyarakat akan kuliner yang terjangkau dengan kesempatan pedagang kecil untuk tetap bertahan di tengah persaingan pasar modern. Bahkan, di saat pandemi, warung-warung kecil terbukti lebih lentur dalam beradaptasi dibandingkan bisnis besar yang kerap rapuh ketika krisis melanda.

Meski demikian, tantangan tidak bisa dihindari. Budaya mewarung kini menghadapi tekanan dari gaya hidup generasi muda yang lebih gemar berkumpul di kafe modern atau sekadar memesan makanan lewat aplikasi daring. Arus digitalisasi dan perubahan gaya konsumsi ini sedikit demi sedikit dapat menggeser eksistensi warung tradisional. Di titik ini, masyarakat Banjarmasin ditantang untuk menjaga keseimbangan antara modernitas dan tradisi, agar warung tidak hanya bertahan sebagai tempat berjualan, tetapi juga sebagai ruang kultural yang merekatkan kebersamaan.

Pada akhirnya, budaya mewarung adalah cermin wajah Banjarmasin yang autentik. Ia mengajarkan bahwa interaksi sosial tidak selalu membutuhkan ruang mewah, bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa tetapi juga medium kebersamaan, dan bahwa religiusitas dapat berjalan seiring dengan aktivitas ekonomi. Di meja sederhana warung-warung kecil itu, kita belajar tentang harmoni makan bersama, bercakap hangat, kemudian berhenti sejenak pada malam Jumat untuk menimba ilmu agama. Barangkali dari kesederhanaan inilah kita bisa memahami bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, melainkan juga oleh warung-warung kecil yang menjaga denyut sosial dan spiritual warganya.

Meski demikian, tantangan tidak bisa dihindari. Budaya mewarung kini menghadapi tekanan dari gaya hidup generasi muda yang lebih gemar berkumpul di kafe modern atau sekadar memesan makanan lewat aplikasi daring. Arus digitalisasi dan perubahan gaya konsumsi ini sedikit demi sedikit dapat menggeser eksistensi warung tradisional. Di titik ini, masyarakat Banjarmasin ditantang untuk menjaga keseimbangan antara modernitas dan tradisi, agar warung tidak hanya bertahan sebagai tempat berjualan, tetapi juga sebagai ruang kultural yang merekatkan kebersamaan.

Pada akhirnya, budaya mewarung adalah cermin wajah Banjarmasin yang autentik. Ia mengajarkan bahwa interaksi sosial tidak selalu membutuhkan ruang mewah, bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa tetapi juga medium kebersamaan, dan bahwa religiusitas dapat berjalan seiring dengan aktivitas ekonomi. Di meja sederhana warung-warung kecil itu, kita belajar tentang harmoni makan bersama, bercakap hangat, kemudian berhenti sejenak pada malam Jumat untuk menimba ilmu agama. Barangkali dari kesederhanaan inilah kita bisa memahami bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, melainkan juga oleh warung-warung kecil yang menjaga denyut sosial dan spiritual warganya.

Banjarmasin, kota yang tumbuh di tepian sungai dan dikelilingi hiruk pikuk modernisasi, menyimpan kearifan lokal yang kerap luput dari perhatian. Di balik kesederhanaan warung-warung kecil yang ramai pada sore hingga malam hari, terdapat nilai budaya dan spiritual yang berjalan beriringan. Aktivitas mewarung bukan hanya pertemuan antara penjual dan pembeli, melainkan juga sebuah praktik sosial yang mengikat dengan kesepakatan bersama.

Dalam setiap transaksi, ada sebuah tradisi tutur kata yang mencerminkan akhlak dan religiusitas masyarakat Banjar. Sang penjual membuka dengan kalimat sederhana, “jual,” yang kemudian disambut oleh pembeli dengan ungkapan “tukar.” Lalu, penjual menutup akad itu dengan kalimat ringan, “jual seadanya.” Pada pandangan pertama, rangkaian kata ini mungkin terasa biasa. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ia merepresentasikan filosofi hidup masyarakat Banjar yang mengedepankan keikhlasan, kejujuran, dan kesepakatan yang tulus dalam jual beli.

Di balik tiga kata yang saling menyambung itu tersimpan nilai spiritual. Kata “jual” bukan sekadar penegasan menjajakan barang, melainkan doa agar rezeki yang berpindah tangan membawa keberkahan. Kata “tukar” yang diucapkan pembeli adalah bentuk kesepakatan dan kerelaan, tanda bahwa harga yang dibayar diterima dengan lapang dada. Sedangkan penutup “jual seadanya” mengajarkan kerendahan hati, bahwa rezeki yang datang diterima apa adanya, tanpa kerakusan atau tipu daya. Inilah wajah budaya dan spiritualitas yang menyatu dalam keseharian, hadir bahkan dalam aktivitas sederhana membeli sepiring soto, sate, atau nasi goreng di warung pinggir jalan.

Budaya akad jual beli semacam ini memperlihatkan bahwa masyarakat Banjarmasin tidak pernah memisahkan urusan ekonomi dari nilai-nilai spiritual. Bahkan dalam ruang sesederhana warung malam, transaksi menjadi ladang ibadah, dan tutur kata menjadi pengikat moral. Praktik ini sekaligus menjadi benteng budaya di tengah derasnya arus digitalisasi, di mana jual beli kini semakin instan dan dingin tanpa tatap muka, apalagi doa yang menyertai.

Fenomena tersebut membuktikan bahwa kota Banjarmasin tidak hanya membangun identitas melalui kuliner khas atau keramaian warung malam, tetapi juga lewat nilai budaya yang penuh makna. Kesepakatan dalam akad jual beli bukan hanya transaksi ekonomi, melainkan ritual sosial yang menjaga harmoni antara penjual dan pembeli. Dari sinilah kita belajar bahwa modernitas bisa berjalan beriringan dengan tradisi, dan spiritualitas tetap menemukan tempatnya bahkan di ruang-ruang sederhana yang mungkin terkesan tradisional.

Editor : Arief
#Budaya #Opini