Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

BELAJAR BAHAGIA DARI “ROJALI” DAN “ROHANA”

admin • Jumat, 15 Agustus 2025 | 16:18 WIB
EDWIN YULISAR
EDWIN YULISAR

           Oleh: EDWIN YULISAR
           ASN Kementerian Agama Republik Indonesia

Kemunculan fenomena kaum Rojali dan Rohana menjadi perbincangan hangat di media sosial. Entah dari mana asal mula akronim Rojali (Rombongan Jarang Beli) serta Rohana (Rombongan Hanya Nanya) ini. Beberapa orang mengatakan munculnya fenomena ini karena menurunnya daya beli masyarakat serta berdampak pada pengusaha pusat perbelanjaan lain karena dagangannya tidak laku. Penulis menilai fenomena ini merupakan kejadian sangat unik dimana para pengunjung hanya meramaikan, menikmati keindahan etalase-etalase toko (sightseeing) serta menanyakan harga barang dagangan yang ada di sana dengan bonus angin semriwing dari pendingin udara tanpa membeli barang satupun.

Apakah benar fenomena ini terjadi di Indonesia hanya karena daya beli masyarakat yang mengalami penurunan? Atau hanya opini ciptaan untuk meramaikan sosial media? Atau kita menjadi kaum yang bisa mengambil sisi baik dan pembelajaran dari Fenomena Rojali-Rohana ini? Fenomena ini harus menciptakan kesadaran kolektif bahwa mereka yang datang ke pusat perbelanjaan bisa terus bahagia tanpa harus membeli atau belum bisa membeli.

Fenomena hadirnya kaum Rojali-Rohana sebenarnya harus menjadi perhatian kita bersama. Kemampuan mereka harus diacungi jempol karena orang-orang seperti ini mampu memenangkan pertarungan ego yang ada di dalam dirinya. Mereka menciptakan kesenangan tersendiri hanya dengan melihat dan bertanya barang tanpa membelinya. Kita tidak bisa ketok palu bahwa ketiadaan proses jual-beli dari kaum ini sebagai perusak ekonomi karena proses jual-beli bisa terjadi di waktu akan datang. Sayangnya, fenomena ini langsung ditanggapi dengan negatif bagi beberapa orang tanpa memikirkan efek serta dampak yang terjadi nantinya. Bayangkan jika tidak ada lagi pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan. Jangankan barang, biaya parkir pun tidak akan menjadi pemasukan bagi pengelolanya.

Berkaca dari kejadian ini, penulis teringat ketika menjadi mahasiswa dulu dan memiliki keinginan untuk membeli buku yang harganya mahal. Penulis berani mendatangi toko buku itu, kemudian melihat, menanyakan harga serta ketersediaan stoknya tanpa membelinya. Penulis berencana menabung serta bersusah payah mengumpulkan uang sedikit demi sedikit agar terkumpul bisa membelinya. Ada rasa bahagia bercampur cemas ketika buku kesayangan sudah terbit namun tak terbeli karena ketiadaan dana. Bahagia karena buku tersebut adalah merupakan media penulis penunjang pembelajaran serta sumber ilmu yang tak terbatas. Cemas jikalau buku tersebut habis dari pasaran, tidak diterbitkan lagi dan tidak dijual. Apakah saya termasuk kaum Rojali-Rohana pada zaman itu?

Subjektivitas penafsiran terhadap fenomena ini sangat berdampak buruk bagi perekonomian jika pada akhirnya pengunjung yang memiliki keinginan dan berusaha menabung untuk membelinya di waktu yang akan datang. Jangan sampai nantinya para pengunjung memilih untuk membeli barang tiruan dengan harga yang murah namun kualitas kurang. Maka sudah bisa dipastikan perekonomian makin merosot dan pusat perbelanjaan pun akan cepat gulung tikar. Fenomena ini harus membuat para pengelola mall serta pedagang yang ada di sana meningkatkan kreativitasnya untuk menarik minat dengan berbagai promo mulai dari cashback, giveaway, bonus dan istilah-istilah kekinian yang menguntungkan pembeli.

Fenomena Rojali-Rohana sebenarnya bentuk adaptasi yang sangat hebat dari golongan ini. Ketika Charles Darwin menjelaskan bagaimana suatu spesies berubah dari waktu ke waktu serta beradaptasi dengan keadaan. Masyarakat golongan ini bukan hanya beradaptasi secara fisik namun juga mental karena sudah menanamkan sikap bijak dalam mengkonsumsi barang. Jika itu memang harus dibeli maka mereka mungkin akan menyisihkan setiap receh tabungannya untuk membeli barang tersebut di lain waktu. Fenomena ini adalah bentuk sistem pertahanan ego diri yang solutif untuk menahan rasa konsumtif ketika keuangan masih dalam keadaan tidak adaptif. Jadi, melabeli fenomena ini sebuah tanda bahaya adalah sebuah tindakan yang prematur karena hanya melihat pada ketiadaan akad jual-beli.

Kaum Rojali dan Rohana adalah sosok yang cerdas. Kenapa bisa dikatakan seperti itu? Mereka mampu menjadi pengamat yang handal terhadap perniagaan di pusat perbelanjaan. Jangan sampai nantinya dengan mereka yang hanya melihat dan bertanya malah mendapatkan pelayanan yang kurang baik dari para penjual. Bisa saja itu menjadi bumerang bagi penjualan barang di toko. Para kaum Rojali-Rohana ini memiliki kepekaan tajam dalam memilih barang primer, sekunder serta tersier sesuai dengan kantong mereka. Maka dari itu, pedagang yang sering didatangi para kaum ini bisa saja memiliki kualitas barang dan ketertarikan minat dari para pelanggan yang berkunjung namun pembeliannya bukan terjadi pada saat itu tapi nanti.

Fenomena Rojali-Rohana ini mengajarkan kepada kita semua bahwa bahagia itu sederhana dan mudah. Mereka datang, melihat dan bertanya saja mampu mampu memantik hormon dopamine yang ada dalam tubuh walaupun kelihatannya kontradiktif karena berhasil melawan versi lain dari dirinya bukan hanya dari segi mental namun juga segi hormonal. Manusia mana yang tidak sedih jika tidak mampu membeli barang yang diinginkannya? Kaum ini malah berbahagia dengan hanya melihat, bertanya, dikatakan numpang ngadem  tanpa membeli barang di pusat perbelanjaan. Inilah yang dinamakan manusia adaptif sesungguhnya karena kehebatan serta kapabilitasnya menemukan kebahagiaan dimulai dari hal-hal kecil. Namun, kita harus ingat ada peribahasa yang mengatakan dalamnya laut bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu. Jadi, apa yang ada di dalam hati kaum ini, tidak ada yang mampu menebak dengan tepat karena banyak orang melihat kejadian yang terlihat dari luar saja.

Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus bijak terhadap opini yang menggiring bahwa Rojali-Rohana merupakan efek buruk dari melemahnya daya beli baik di pasar, mall ataupun pusat perbelanjaan lainnya. Fenomena ini harus kita sikapi dengan bijak. Bijak yang dimaksudkan adalah mampu memprioritaskan membeli sesuatu yang “diinginkan” atau “diperlukan”. Kita juga harus mampu belajar sikap adaptif terhadap keadaan dari kaum ini karena mampu mengontrol ego diri untuk terhindar dari sesuatu yang berlebihan. Sikap no-hard feeling (tidak mudah tersinggung) dan memupuk pikiran positif juga harus ditanamkan oleh para pedagang ketika bertemu dengan kaum ini karena mungkin saja mereka akan kembali di waktu yang akan datang membeli serta membawa teman-temannya untuk berbelanja di tempat tersebut karena sudah memberikan pelayanan prima terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka pada pertemuan sebelumnya.

Pertanyaannya adalah apakah kita bisa mengambil hikmah dari fenomena kaum Rojali-Rohana ini? Atau hanya terus menyalahkan kaum ini tanpa berusaha memperbaiki keadaan?

 

Editor : Arief
#Opini