Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Saat TikTok Menyalip Sekolah

admin • Rabu, 13 Agustus 2025 | 21:24 WIB
Syaifullah
Syaifullah

          Oleh: Syaifullah
          Dosen FKIP Bahasa Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat
          Pembina Lembaga Pers Mahasiswa FKIP (LPM)

Bayangkan sebuah kelas di mana guru menjelaskan materi dengan penuh semangat, tetapi sebagian besar siswa diam-diam menunduk, menatap layar ponsel mereka. Dalam 60 detik, sebuah video di TikTok sudah menyampaikan inti pelajaran yang samalengkap dengan musik, efek visual, dan komentar yang memancing diskusi.

Pertanyaannya, siapa yang akan mereka dengarkan guru di depan kelas, atau kreator konten di layar ponsel? Fenomena ini bukan sekadar gangguan belajar, melainkan sinyal bahwa peta pendidikan sedang berubah drastis.

Generasi Z anak-anak yang lahir dan tumbuh di era digital tidak lagi memandang TikTok sekadar sebagai ruang hiburan. Platform video singkat ini telah menjelma menjadi sumber informasi, ruang eksplorasi, bahkan media pembelajaran.

Dalam hitungan detik, informasi mengalir tanpa henti, menyentuh hampir setiap aspek kehidupan mereka. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting di kalangan pendidik masih relevankah sekolah di mata generasi yang tumbuh bersama gawai dan internet?

Kenyataannya, ruang-ruang kelas mulai kehilangan magnetnya. Generasi Z terbiasa hidup dalam arus informasi yang serba cepat, visual, dan terkoneksi. Mereka belajar dari video berdurasi 60 detik, mendengarkan penjelasan dari influencer edukatif, hingga memantik diskusi kritis di kolom komentar.

Dalam satu hari, seorang remaja dapat mempelajari teknik berbicara di depan umum, mengenal istilah gaslighting, atau memahami literasi keuangan dasar semuanya dari gawai di genggaman.

Sementara itu, sekolah masih setia pada metode ceramah satu arah, tugas hafalan, dan penilaian berbasis angka. Kurikulum memang terus direvisi, tetapi implementasinya lambat dan sering kali tidak menyentuh realitas digital yang dihadapi siswa setiap hari. Jika sekolah ingin tetap relevan, ia harus berbicara dalam “bahasa zaman now” yang dimengerti peserta didiknya. Sebab, di era ini, yang bersaing memperebutkan perhatian siswa bukan hanya guru di kelas, melainkan juga algoritma media sosial yang bekerja tanpa henti.

Berbagai penelitian menunjukkan potensi TikTok sebagai media pembelajaran. Studi yang dimuat di Jurnal Sains dan Edukasi (2024) mengungkapkan bahwa penggunaan TikTok secara terarah dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, khususnya melalui tugas pembuatan video kreatif. Di DKI Jakarta, penelitian lain menemukan bahwa sekitar 75 persen pengguna Gen Z menunjukkan peningkatan literasi digital terutama dalam kategori critical consuming setelah rutin mengakses konten edukatif di platform ini.

Fakta ini membuktikan bahwa TikTok bukan sekadar hiburan kosong, tetapi juga bisa menjadi sarana pembelajaran yang efektif jika digunakan dengan bijak.

Meski begitu, potensi ini tidak datang tanpa risiko. Beberapa guru sekolah dasar mengeluhkan penurunan fokus belajar karena siswa lebih tergoda membuat konten hiburan ketimbang menyelesaikan tugas sekolah.

Di sinilah letak tantangan sebenarnya. TikTok bukanlah masalah itu sendiri, yang menjadi persoalan adalah bagaimana pendidik dan orang tua mengarahkan penggunaannya. Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi sekutu pendidikan jika diintegrasikan dengan tepat. Di SMA Negeri 7 Banjarmasin, misalnya, seorang siswa kelas XI mengaku lebih memahami materi Bahasa Indonesia saat membuat video penjelasan menggunakan TikTok. “Bisa sambil berekspresi, bisa diulang-ulang, dan lebih nyantol di kepala,” ujarnya.

Guru di sekolah tersebut membenarkan bahwa pendekatan semacam ini membuat pelajaran lebih hidup, meski belum semua siswa disiplin. Sayangnya, belum banyak sekolah di Banjarmasin bahkan di Indonesia yang memberi ruang pada metode kreatif seperti ini.

Sebagian besar institusi pendidikan masih memandang media sosial sebagai ancaman, bukan peluang. Mereka lupa bahwa justru di sanalah para siswa menghabiskan waktunya. Jika pendidikan ingin menjangkau generasi ini, ia harus hadir di ruang-ruang digital tempat mereka berada.

Melarang Gen Z menggunakan TikTok ibarat menutup mata terhadap realitas. Larangan tidak akan menghentikan mereka, justru akan membuat mereka belajar di luar pengawasan, terpapar pada informasi yang belum tentu valid atau bermanfaat. Yang dibutuhkan bukan larangan, melainkan pendampingan.

Literasi digital seharusnya menjadi bagian inti dari kurikulum, bukan sekadar materi tambahan. Guru perlu diberdayakan sebagai kurator konten edukatif, bukan sekadar pengisi absen dan pemberi nilai.

Pemerintah bersama dinas pendidikan bisa memfasilitasi pelatihan “Digital Edu-Creator” bagi para guru, agar mereka mampu memproduksi konten pembelajaran yang menarik dan relevan.

Sekolah pun dapat menetapkan regulasi cerdas. Misalnya, membuat jadwal khusus untuk proyek konten edukasi digital, mengadakan lomba video pembelajaran yang selaras dengan kurikulum, serta melibatkan orang tua dalam proses pemantauan penggunaan media sosial. Kolaborasi dengan kreator konten edukatif juga bisa menjadi terobosan.

Kreator yang memahami tren digital dapat membantu menyisipkan nilai-nilai karakter dan Pancasila ke dalam konten viral, sehingga media sosial bukan hanya menjadi sumber hiburan, tetapi juga pembentuk karakter bangsa.

Generasi Z tidak menolak belajar, mereka hanya membutuhkan cara belajar yang relevan, cepat, visual, dan terhubung dengan realitas mereka. Jika sekolah terus bertahan dengan metode usang, peran edukatifnya akan tergantikan oleh algoritma. Momentum bulan kemerdekaan ini seharusnya menjadi momen refleksi.

 Sudahkah kita benar-benar membebaskan anak-anak Indonesia dari belenggu metode pembelajaran yang tidak lagi mereka pahami? Atau justru kita masih memaksa mereka untuk belajar dengan bahasa yang asing bagi mereka?

Sekolah memang tidak perlu berubah menjadi TikTok. Namun, sekolah dapat belajar dari cara TikTok mengemas informasi. ringkas, menyenangkan, dan tepat sasaran. Dengan memanfaatkan kekuatan media sosial, sekolah dapat merancang pembelajaran yang bukan hanya mendidik, tetapi juga memikat perhatian siswa. Teknologi seharusnya menjadi sekutu pendidikan, bukan lawannya.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah TikTok atau media sosial lain, melainkan kesiapan kita guru, orang tua, dan pembuat kebijakan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Selama kita mau membuka diri, memanfaatkan teknologi, dan tetap berpegang pada tujuan mulia pendidikan, kita tidak perlu khawatir akan tergeser oleh algoritma. Justru, kita bisa memanfaatkannya untuk memperkuat daya saing pendidikan Indonesia di mata generasi masa depan.

Generasi Z adalah pembelajar cepat yang kritis. Mereka tidak menunggu guru di kelas, mereka mencari pengetahuan di mana pun bisa ditemukan. Pertanyaannya kini, apakah sekolah mau hadir di ruang-ruang itu atau membiarkan generasi ini belajar sendirian, dibimbing oleh algoritma yang tidak mengenal nilai kemanusiaan?

 

Editor : Arief
#Opini