Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Di Balik Jaket Lusuh  Ojol, Ada Pelajaran Keadilan

admin • Jumat, 1 Agustus 2025 | 22:18 WIB
Asmu’i Syarkowi
Asmu’i Syarkowi

           Oleh: Asmu’i Syarkowi
           Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Agama Banjarmasin

Malam itu, dalam perjalanan pulang dari salah satu “Mall” ternama di Banjarbaru, saya menyaksikan sebuah pemandangan sederhana yang justru menyentuh relung hati terdalam saya. Seorang pengendara ojek online (ojol) melaju pelan di depan saya. Jaket yang dikenakannya sudah lusuh, robek di sana-sini. Ia sesekali terbatuk kecil, entah karena kelelahan, cuaca, atau kesehatannya yang sudah melemah. Saat itu pukul 21.40 WITA. Saya sedang menuju rumah untuk beristirahat setelah aktivitas sehari penuh, sedangkan ia? Saya tidak tahu, apakah ia baru memulai giliran malamnya, atau sedang menjemput sisa-sisa rezeki yang tak selalu pasti.

Kondisi itu tentu begitu kontras dengan pemandangan di pusat perbelanjaan yang saya lihat beberapa jam sebelumnya. Orang-orang bersenda gurau, makan enak, menenteng barang mewah, seolah tak terjangkau oleh lelah dan letih. Di satu sisi kota, tawa dan kenyang bertebaran. Di sisi lain, seorang lelaki renta mengendarai motor tua melawan angin malam, mempertaruhkan sisa tenaganya demi sesuap nasi untuk esok hari.

Sebagai hakim, saya sadar betul ketika pemerintah tengah menyiapkan tambahan kesejahteraan bagi kami. Namun peristiwa kecil ini menyentak hati saya: apakah saya sudah benar-benar memahami makna kesejahteraan, rasa cukup, dan keadilan sosial? Di tengah kenyataan bahwa banyak orang masih hidup dengan sangat sederhana, apakah saya tak perlu lebih sering menundukkan pandangan, merenungi makna nikmat yang selama ini saya terima?

Dalam ajaran Islam, kesejahteraan bukan semata soal materi. Lebih dari itu, ia adalah tentang bagaimana manusia memaknai rezeki sebagai bagian dari takdir Allah, yang harus disyukuri dan dikelola dengan amanah. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:

"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Luqman: 18).

Rasulullah SAW pun memberikan petunjuk:

"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian, dan jangan melihat kepada orang yang lebih tinggi, karena hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam kerangka maqashid syariah (tujuan-tujuan syariat Islam), kesejahteraan mencakup hifzh al-mal (menjaga harta), hifzh al-nafs (menjaga jiwa), hingga hifzh al-’irdh (menjaga kehormatan). Menjaga harta bukan berarti menumpuk kekayaan semata, melainkan memastikan agar harta itu menyejahterakan manusia, bukan menjerumuskannya ke dalam ketimpangan sosial. Keadilan sosial berarti membuka akses bagi setiap orang untuk hidup layak, sehat, dan terhormat.

Dalam tradisi tasawuf, keadilan bermula dari hati yang bersih, dari akhlak yang memandang sesama manusia sebagai saudara sepenanggungan dalam penciptaan. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata bijak: “Orang miskin adalah keluargaku dalam tanggung jawab.” Sebuah pesan yang seharusnya hidup dalam hati siapa saja yang diberi kelebihan rezeki, jabatan, atau kekuasaan.

Malam itu saya benar-benar merasa harus belajar kembali. Ternyata keadilan bukan semata-mata soal putusan hukum di ruang sidang. Keadilan sejati hadir ketika hati kita terus terhubung dengan nurani sosial. Keadilan yang tidak berhenti pada amar putusan, tapi hidup dalam sikap rendah hati, syukur, dan kepedulian kepada mereka yang hidupnya lebih berat dari kita.

Allah berfirman:

“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 22).

Pada akhirnya, saya sadar bahwa ternyata selalu  ada pelajaran di tempat-tempat yang tak terduga. Di balik jaket lusuh seorang pengemudi ojol malam itu, saya diingatkan kembali bahwa keadilan sosial bukanlah retorika indah dalam teks undang-undang, melainkan kepekaan hati yang terus diasah agar kita tidak lupa bersyukur, tidak lalai memandang ke bawah, dan tidak lelah menebar kepedulian. Sebagai hakim, saya menyadari: bukan hanya perkara di ruang sidang yang menuntut keadilan, tetapi juga cara kita bersikap terhadap sesama, terhadap hidup, dan terhadap nikmat yang seringkali kita anggap sepele. Semoga setiap perjalanan hidup, sekecil apa pun, mampu menambah kedewasaan hati kita dalam melihat makna kehidupan dan keadilan yang hakiki. Dan, yang juga penting adalah terus belajar arti syukur

Editor : Arief
#ojol #Opini