Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

PII di Era Digital: Peluang dan Tantangan (Refleksi Hari Lahir Korps Pelajar Islam Indonesia Wati 2025)

admin • Jumat, 1 Agustus 2025 | 22:17 WIB

 

AHMAD SYAWQI
AHMAD SYAWQI

           Oleh: AHMAD SYAWQI
           Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

Era digital adalah era keterbukaan informasi, kecepatan komunikasi, dan kemudahan akses terhadap berbagai sumber ilmu pengetahuan dan telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan organisasi.

Di era digital saat ini, Korps Pelajar Islam Indonesia (PII) Wati sebagai organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan kaderisasi juga tidak luput dari pengaruh era digital. PII memiliki peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kaderisasi.

Dalam rangka memperingati Hari Lahir ke-61 Korps PII Wati pada Kamis, 31 Juli 2025, mari kita renungkan perjalanan organisasi ini di tengah derasnya arus perubahan zaman, khususnya era digital yang telah dan terus membentuk wajah dunia pendidikan, sosial, bahkan keislaman pelajar saat ini.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan data We Are Social (2025), pengguna internet telah mencapai 221 juta jiwa, dengan 97 persen di antaranya adalah pengguna media sosial aktif. Di kalangan pelajar, survei Litbang Kominfo menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen pelajar SMA/MA di Indonesia mengakses internet lebih dari 4 jam per hari, terutama melalui gawai pintar.

Fakta ini menunjukkan bahwa ruang interaksi pelajar telah berpindah ke ruang digital. Inilah medan baru yang harus dikenali dan dikuasai oleh PII Wati sebagai organisasi kaderisasi pelajar muslimah. Era digital bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan perubahan cara berpikir, belajar, berinteraksi, bahkan berdakwah.

Peluang

Era digital membawa beberapa peluang bagi perkembangan kemajuan PII. Peluang yang paling utama adalah adanya akses Informasi yang Lebih Luas. Dengan adanya internet dan teknologi digital, PII dapat mengakses informasi yang lebih luas dan terkini tentang berbagai topik yang relevan dengan pendidikan dan kaderisasi. Menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebanyak 64,8 persen penduduk Indonesia telah menggunakan internet pada tahun 2022 (APJII, 2022).

Kemudian peluang komunikasi yang lebih efektif. Teknologi digital memungkinkan PII untuk berkomunikasi dengan lebih efektif dan efisien dengan anggota, pengurus, dan stakeholders lainnya. Sebuah studi yang dilakukan oleh Harvard Business Review menunjukkan bahwa penggunaan teknologi digital dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi komunikasi dalam organisasi (Harvard Business Review, 2019).

Kemudian peluang Pendidikan Online. PII dapat memanfaatkan teknologi digital untuk menyediakan pendidikan online yang lebih fleksibel dan dapat diakses oleh lebih banyak orang. Menurut laporan dari Class Central, jumlah mahasiswa yang mengikuti kursus online telah meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan lebih dari 100 juta mahasiswa yang mengikuti kursus online pada tahun 2020 (Class Central, 2020).

Kemudian peluang adanya penyebaran nilai dan gagasan tanpa batas. PII Wati memiliki misi besar membentuk pelajar muslimah yang cerdas, kritis, dan berakhlak. Di era digital, misi ini dapat dijalankan lebih luas melalui platform digital seperti media sosial, YouTube, podcast, bahkan platform pembelajaran online. Misalnya, membuat konten-konten edukatif tentang fikih pelajarah, adab belajar, isu perempuan, dan tantangan sosial bisa menjangkau ribuan pelajar di seluruh Indonesia hanya dalam hitungan detik.

Peluang besar lainnya adalah Kolaborasi Digital dan Jaringan Nasional.  Digitalisasi juga memungkinkan terbentuknya komunitas lintas wilayah yang aktif dalam berbagai bidang: literasi digital, riset, advokasi, dan kepemimpinan pelajar perempuan. Kolaborasi nasional antar wilayah atau cabang PII Wati dapat difasilitasi lebih efisien dengan grup diskusi daring, webinar rutin, atau project kolaboratif digital yang memperkuat semangat ukhuwah nasional.

Tantangan

Namun, di balik peluang besar itu, tantangan era digital juga tidak sedikit. Teknologi yang netral bisa menjadi bumerang jika tidak disikapi dengan bijak oleh pelajar dan organisasi.

Diantara tantangan utama yang dihadapi di era digital saat ini adalah Banjir Informasi dan Disinformasi. Era digital ditandai dengan fenomena “infodemic” — banjir informasi yang sering kali tidak terverifikasi. Pelajar dengan literasi digital rendah akan rentan terpapar hoaks, konten radikal, atau narasi yang tidak sesuai nilai Islam dan kebangsaan. Berdasarkan survei MAFINDO (2024), pelajar SMA merupakan kelompok yang paling rentan menyebarkan ulang informasi hoaks tanpa mengecek kebenarannya.

PII Wati sebagai organisasi kader harus menjadi garda depan dalam membentuk pelajar kritis, yakni mereka yang bisa menyaring informasi, berpikir sistematis, dan tidak mudah terseret arus opini.

Adanya ketergantungan pada Gawai dan Sosial Media juga menjadi tantangan utama yang sangat serius. Fenomena screen time yang berlebihan menjadi tantangan serius. Banyak pelajar yang lebih akrab dengan tren TikTok daripada tafsir Al-Qur’an, lebih hafal lirik lagu viral daripada makna sejarah Islam. Kecanduan digital menciptakan budaya instan, superficial, dan minim refleksi.

Hal ini tentu menjadi tantangan kaderisasi: bagaimana menciptakan pelajar yang tetap produktif di tengah distraksi digital? Bagaimana menciptakan “muslimah digital” yang tak hanya eksis di dunia maya, tapi juga kokoh dalam integritas dan kontribusi nyata?

Lahirnya krisis jati diri dan standar sosial palsu juga menjadi tantangan. Media sosial membentuk standar sosial yang bias: cantik harus putih, sukses harus viral, bahagia harus kelihatan glamor. Banyak pelajar muslimah merasa tertekan oleh standar-standar semu ini, yang berujung pada krisis percaya diri dan nilai. PII Wati harus hadir menjadi ruang afirmasi jati diri muslimah, ruang yang menanamkan nilai izzah (harga diri) dan kemuliaan akhlak, bukan semata popularitas digital.

Strategi PII Wati Menghadapi Era Digital

Di era digital saat ini PII Wati perlu menginisiasi penguatan pengetahuan melalui pelatihan literasi digital berbasis nilai Islam: mengenali konten hoaks, membedakan informasi kredibel, dan menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah dan advokasi pelajar. Kegiatan seperti kelas “Media Muslimah” atau “Digital Smart Muslimah” bisa menjadi program strategis tahunan.

Kader PII Wati juga harus dibekali kemampuan membuat konten kreatif sebagai Pendidikan dan dakwah,  mulai dari desain grafis, video pendek, infografis, hingga microblog yang inspiratif. Media dakwah pelajar tak bisa lagi hanya dalam bentuk buletin cetak; kini harus tampil di Instagram, TikTok, atau bahkan podcast Spotify. Teknologi adalah alat, kontennya tetap ruh nilai Islam dan pendidikan karakter.

Manfaatkan aplikasi berbasis web atau mobile untuk menyusun database kader, sistem keanggotaan, hingga evaluasi kaderisasi. PII Wati bisa bekerjasama dengan developer muda di internal membangun sistem internal berbasis teknologi untuk melakukan Digitalisasi Administrasi dan Perkaderan.

Memasuki usia ke-61, PII Wati menghadapi tantangan baru, namun juga peluang yang luar biasa. Era digital adalah ladang amal baru, tempat kader PII Wati bisa berdakwah, mendidik, dan memimpin pelajar muslimah secara luas dan inklusif.

Dengan komitmen pada nilai Islam, semangat belajar, dan adaptasi terhadap teknologi, PII Wati bisa melahirkan generasi pelajar muslimah Indonesia yang tech-savvy tapi tetap humanis, digital tapi tetap spiritual, canggih tapi tetap beradab. Selamat Hari Lahir PII Wati ke-61. Saatnya bangkit sebagai pelajar muslimah digital pembawa cahaya zaman.

Editor : Arief
#Opini