Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Ketika AI Meniru Perasaan

admin • Kamis, 17 Juli 2025 | 20:23 WIB
Syaifullah
Syaifullah

          Oleh: Syaifullah
          Dosen FKIP Bahasa Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat 
          Pembina Lembaga Pers Mahasiswa FKIP (LPM)

Saat Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah memasuki fase baru dalam revolusi teknologi. Dahulu, AI hanya dianggap sebagai alat bantu untuk menjalankan perintah logis yang dirancang oleh manusia. Namun, di era globalisasi saat ini, AI tak lagi hanya berfungsi sebagai sistem cerdas yang mampu memproses data dan memberikan hasil cepat.

Kini, ia berkembang ke arah yang lebih kompleks. Meniru proses kognitif otak manusia, memahami bahasa alami, hingga merespons emosi. Inilah fase perkembangan yang dikenal dengan sebutan affective computing.

Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi AI tidak hanya mampu mengolah data besar, melainkan juga mulai “mengerti” manusia secara emosional. Istilah “mengerti” di sini memang perlu diberi tanda kutip, sebab meskipun AI mampu meniru ekspresi empatik, yang sebenarnya terjadi hanyalah proses pengolahan data yang menyerupai empati. Ini yang kemudian disebut sebagai ilusi empati-perasaan dipahami oleh mesin padahal tidak ada perasaan sejati di balik respons tersebut.

Perkembangan AI dalam memahami emosi manusia tidak terlepas dari kontribusi ilmu psikologi kognitif, sebuah studi tentang bagaimana manusia berpikir, mengingat, dan memahami lingkungan.

Psikologi kognitif menjadi fondasi penting dalam pengembangan sistem AI agar tidak hanya merespons secara logis, tetapi juga secara afektif. Tujuannya adalah menciptakan sistem yang lebih “manusiawi”, mampu beradaptasi dengan perasaan manusia dan memberikan respons yang lebih relevan secara emosional.

Dari sinilah lahir konsep affective computing, sebuah bidang interdisipliner yang menggabungkan ilmu komputer, psikologi, dan kognisi. Teknologi ini memungkinkan mesin untuk mengenali, menafsirkan, hingga merespons emosi manusia berdasarkan ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh, dan bahkan sinyal otak. AI mulai merambah ke ranah emosional yang sebelumnya hanya bisa diakses oleh sesama manusia.

Contoh nyata dari pemanfaatan affective computing bisa kita lihat pada layanan chatbot seperti Woebot, ChatGPT, hingga Meta AI. Layanan ini dapat menjawab pertanyaan, mendengarkan keluhan, dan memberikan saran layaknya seorang teman.

Ia tidak lelah, tidak menghakimi, selalu siap sedia 24 jam, dan menawarkan respons yang terkesan empatik. Tidak sedikit pengguna yang merasa lebih nyaman bercerita kepada mesin daripada kepada manusia.

Salah satu studi menarik yang memperkuat kemampuan AI dalam mengenali emosi manusia datang dari Universitas Gadjah Mada, yang dilakukan oleh Pane, Wibawa, dan Purnomo. Mereka menggunakan sinyal EEG (Electroencephalography) yakni sinyal listrik dari aktivitas otak sebagai sumber data utama untuk mengenali emosi manusia.

Penelitian ini menggunakan metode Multiclass Fisher Discriminant Analysis (MC-FDA) untuk memilih fitur sinyal yang paling relevan, lalu mengklasifikasikannya dengan algoritma Linear Discriminant Analysis (LDA).

Hasilnya cukup mencengangkan. Sistem AI yang dikembangkan dalam penelitian tersebut mampu mengenali tiga kategori emosi positif, negatif, dan netral, dengan akurasi hingga 93,3 persen. Ini menunjukkan bahwa AI kini bukan hanya mengenali emosi melalui bahasa nonverbal seperti ekspresi atau suara, tetapi juga melalui data kognitif yang bersumber langsung dari aktivitas otak manusia.

Di sinilah kita mulai memasuki wilayah problematik semakin canggih kemampuan AI dalam meniru empati, semakin besar pula risiko munculnya ilusi empati. Ilusi empati terjadi ketika pengguna merasa dipahami secara emosional oleh AI, padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah proses kalkulatif berdasarkan pola-pola data yang telah dilatih sebelumnya.

AI tidak benar-benar memiliki kesadaran, pengalaman, atau perasaan. Respons yang kita anggap "empatik" hanyalah hasil simulasi yang dibangun dari ribuan bahkan jutaan data percakapan manusia yang pernah direkam dan dipelajari.

Masalahnya, banyak orang tidak menyadari hal ini. Mereka mulai menggantungkan dukungan emosionalnya kepada AI. Karena AI selalu tersedia dan tak pernah menghakimi, banyak yang merasa bahwa AI lebih memahami mereka dibandingkan manusia di sekitarnya. Inilah awal dari ketergantungan emosional terhadap teknologi.

Dampak Psikologis. Menurunnya Interaksi Sosial dan Kemampuan Emosional Ketergantungan emosional terhadap AI membawa sejumlah konsekuensi serius, khususnya dalam aspek kesehatan mental dan interaksi sosial. Ketika seseorang terlalu sering menumpahkan emosinya kepada mesin, ia berisiko mengalami penurunan kemampuan untuk mengelola emosi secara sehat dalam kehidupan nyata.

Orang menjadi kurang terbiasa menghadapi konflik emosional, cenderung menghindari situasi yang menantang secara psikologis, dan lebih memilih pelarian ke dunia digital yang nyaman tapi semu. Ia tidak belajar menghadapi, mengolah, dan menyelesaikan emosi secara otentik.

Bahkan lebih dari itu, interaksi sosial pun bisa menurun. Ketika manusia merasa bahwa hanya AI yang mampu memahami dirinya, maka dorongan untuk menjalin hubungan interpersonal yang sejati dengan sesama manusia menjadi lemah. Lama-kelamaan, ini bisa menyebabkan isolasi sosial, rasa kesepian yang mendalam, dan bahkan depresi.

AI dalam hal ini telah berubah dari sekadar alat bantu menjadi objek afeksi sebuah tempat curhat yang tak hidup, tetapi diberi peran seolah-olah memiliki hati dan perasaan.

Ketidakseimbangan Emosional Jangka Panjang Dalam kasus yang lebih ekstrem, pengguna bisa mengalami ketidakseimbangan emosional jangka panjang. Mereka menjadi kurang percaya pada hubungan antarmanusia, dan cenderung membandingkan hubungan nyata dengan "hubungan" yang pernah mereka alami dengan AI.

Ini tentu berbahaya. Sebab hubungan dengan AI tidak pernah setara. Tidak ada timbal balik emosional, tidak ada kejujuran emosional, dan tidak ada risiko penolakan yang padahal penting dalam membentuk kedewasaan emosional seseorang. Dengan kata lain, hubungan dengan AI bersifat satu arah, statis, dan artifisial.

Jika hubungan seperti ini dijadikan standar, maka manusia akan kehilangan kemampuan dasar dalam menjalin relasi sosial yang sehat.

Menyikapi Teknologi dengan kesadaran kritis. Perkembangan AI dan affective computing tentu patut diapresiasi. Banyak manfaat yang bisa diambil, mulai dari layanan konseling digital yang menjangkau daerah terpencil, hingga asisten virtual yang memudahkan kerja dan kehidupan sehari-hari. Namun, di balik semua itu, kita perlu menjaga kesadaran kritis.

Manusia adalah makhluk emosional dan sosial. Hubungan kita dengan sesama tidak bisa digantikan oleh mesin, betapapun canggihnya. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk memahami batasan AI. Kita perlu sadar bahwa AI tidak memiliki kesadaran, perasaan, atau empati sejati. Yang ia miliki hanyalah algoritma dan data.

Kita juga perlu memperkuat literasi digital dan literasi emosional, agar tidak terjebak dalam hubungan semu yang menyesatkan. Pendidikan tentang teknologi harus mencakup aspek etika dan psikologis, bukan hanya teknis. Anak-anak dan remaja kelompok yang paling rentan terhadap ilusi empati ini harus diajarkan bahwa empati sejati hanya bisa lahir dari manusia yang hidup, bukan dari mesin.

Kemampuan AI dalam meniru empati memang luar biasa. Ia bisa membuat kita merasa dipahami, didengarkan, dan diterima. Namun, di balik semua itu, kita tidak boleh lupa bahwa empati sejati lahir dari pengalaman hidup, dari perasaan yang tulus, dan dari keberanian untuk hadir secara utuh dalam relasi. Teknologi adalah alat, bukan pengganti. Ia bisa membantu, tetapi tidak bisa menggantikan esensi menjadi manusia. Oleh karena itu, kita perlu tetap memegang kendali, agar tidak terseret dalam ilusi bahwa mesin bisa menjadi sahabat sejati.

Editor : Arief
#Opini #tekonologi #ai