Oleh: Sonnie Wahyu Dewantoro
Pelaksana Seksi PPA II A Kanwil DJPb Kalimantan Selatan
Episode Bahagia yang Kita Tonton Diam-Diam
SATU sore yang tampak biasa saja, kita scroll aplikasi media sosial seperti rutinitas harian yang otomatis. Lalu, sebuah unggahan tentang seorang teman tengah berlibur ke Bali.
Berpose santai di tepi infinity pool, kopi pagi di tangan, dan latar vila estetik yang tampak seperti cuplikan dari film hidup yang serba indah.
Tapi dalam keheningan, ada suara kecil dalam kepala yang tak ikut tertawa. Ia berbisik lirih, “Kok bisa ya? Bukankah gajinya mirip-mirip dengan kita?” Pertanyaan itu tidak mengganggu lama tapi ia menempel, seperti bayangan yang membuntuti. Bukan sekadar rasa iri, tapi rasa ragu yang susah dijelaskan. Rasa mempertanyakan diri sendiri. Apakah kita terlalu biasa? Terlalu sering menahan diri? Terlalu sering bilang ‘nanti’ ketika yang lain sudah bilang ‘sekarang’?
Beberapa hari setelahnya, kita mendapati diri menatap ponsel baru di e-commerce. Bukan karena ponsel kita rusak. Bukan karena butuh. Tapi ada dorongan samar, tidak keras, namun konsisten yang berkata “Yang ini lebih keren. Lebih layak dipamerkan. Lebih pantas untuk dilihat.” Bukan soal fungsi, tapi soal impresi. Tentang bagaimana kita ingin dilihat, bukan tentang siapa kita sebenarnya.
Hari ini, tak hanya selebriti yang punya panggung. Kita semua punya penonton. Lewat story, feed atau reels, kita merangkai potongan hidup terbaik, seindah mungkin. Tersenyum saat sedang lelah. Minum kopi estetik saat saldo menipis. Pergi healing walau belum sepenuhnya sembuh. Semua demi membentuk satu versi diri dengan versi yang rapi, kuat, dan penuh warna.
Tanpa perlu berkata, kita saling memperlihatkan. Dan dalam diam, kita juga saling mengukur. Bukan dari isi kepala atau ketulusan hati, tapi dari apa yang tertangkap kamera.
Seolah-olah keberhasilan bisa dilihat dari tone warna foto, dari tempat nongkrong yang kita datangi, dari barang yang kita genggam.
Dan tanpa sadar, kita mulai berlomba. Bukan untuk berkembang, tapi untuk terlihat berkembang. Bukan untuk bahagia, tapi untuk tampak bahagia. Kita mulai takut terlihat tertinggal. Takut dianggap kalah. Lalu kita mengejar pencitraan dengan semangat yang sama seperti orang lain mengejar kebutuhan.
Padahal sesekali, jika kita jujur, ada lelah yang tak bisa disembunyikan. Bukan lelah bekerja, tapi lelah menjaga tampilan. Lelah terus membuktikan bahwa kita cukup layak dilihat
Mungkin inilah saatnya kita kembali bertanya untuk siapa sebenarnya semua ini kita lakukan?
Dan apakah kita benar-benar Bahagia atau hanya sedang mengejar definisi bahagia versi orang lain?
Maka kita pun mulai menyiasati, Melalui Perangkap “Pantas Dibelikan” Setelah itu entah bagaimana masuk dalam algoritma media sosial kita tentang paylater.
Promo paylater yang terasa sangat menggoda. Diskon bertuliskan “beli sekarang, bayar nanti” membuat kita merasa lebih berdaya. Dan saat muncul rasa bersalah, kita membungkusnya dengan pembenaran “Self-reward kok dilarang?”. Padahal, ini sering kali bukan soal memanjakan diri tetapi soal menenangkan batin. Soal menjaga citra diri di tengah sorotan yang tak pernah benar-benar padam.
Yang mengarahkan perilaku kita hari ini seringkali bukan logika, tapi bias dalam cara berpikir. Tanpa kita sadari, kitalah yang sedang dikendalikan. Dalam ilmu behavioral economics, ini disebut present bias yaitu kecenderungan manusia untuk lebih memilih kesenangan saat ini meski tahu risikonya di masa depan. Kita sadar ada cicilan, ada tagihan, ada kebutuhan esok hari. Tapi senangnya hari ini terasa lebih nyata. Lebih menggoda. Lebih penting.
Yang memperparah, semua ini diperkuat oleh tekanan yang lebih dalam kebutuhan untuk merasa setara. Sejak 1950an, Leon Festinger sudah menyebutnya sebagai social comparison theory, bahwa manusia menilai dirinya dengan membandingkan pada orang lain.
Ini bukan soal iri, tapi soal bertahan. Kita ingin tahu bahwa kita tidak tertinggal, tidak kurang, tidak kalah.
Dalam social comparison theory, manusia memang punya kecenderungan untuk menilai dirinya dengan membandingkan pada orang lain. Tapi di era digital hari ini, perbandingan itu menjadi semakin berat dan tidak seimbang. Kita membandingkan hidup kita yang utuh, termasuk bagian-bagian yang sunyi, gagal, dan lelah dengan potongan terbaik hidup orang lain yang ditampilkan di media sosial. Kita melihat mereka tersenyum, liburan, beli rumah, pakai baju bagus tanpa tahu cerita penuh di baliknya.
Kita membeli lebih banyak, berpenampilan lebih keren, memamerkan lebih sering. Semua agar terlihat mampu. Agar tidak tertinggal. Agar dunia tahu bahwa kita juga layak.
Padahal, sering kali jauh di dalam diri kita sadar bahwa semuanya rapuh. Citra yang kita bangun itu mudah retak, karena pondasinya bukan kebutuhan sejati, tapi rasa ingin diakui.
Kita menumpuk benda untuk menambal celah perasaan.
Mencicil Gaya Hidup dan Refleksi atas Lubang yang tak Terlihat
Dan celakanya celah dalam rasa cukup itu kini diisi oleh satu hal, utang yang begitu mudah diakses. Di era digital, pinjaman online (pinjol) hadir hanya sejauh beberapa ketukan jari. Tak perlu datang ke kantor, tak perlu jaminan, bahkan tak perlu malu mengajukan
Semuanya serba instan, dan justru karena itulah, ia menjadi jebakan yang mematikan. Dalam konteks behavioral economics, kemudahan ini memperbesar present bias kita dengan memberikan dorongan kuat untuk memenuhi dorongan sesaat, tanpa mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Yang secara instan membuat kita lupa berpikir. Keputusan keuangan bukan lagi soal kalkulasi matang, tapi impulsi emosional yang ditumpu oleh ilusi kontrol.
Aplikasi pinjol menjanjikan solusi cepat, bahkan untuk hal-hal yang bukan kebutuhan mendesak. Yang dikejar bukanlah kelangsungan hidup, melainkan keberlangsungan citra.
Perasaan bahwa kita harus tetap terlihat setara, tetap bisa 'ikut', meski dompet tak lagi sanggup. Ini memperlihatkan bagaimana loss aversion atau ketakutan akan kehilangan status sosial akan mendorong perilaku konsumsi yang berisiko. Kita lebih takut tampak kalah daripada benar-benar kehilangan uang.
Budaya konsumtif yang dibumbui tekanan sosial dan disiram teknologi inilah yang menciptakan jebakan modern. Kita mulai terbiasa menunda tanggung jawab, tapi memajukan gaya hidup. Cicilan dan paylater tak lagi menjadi alat bantu yang produktif, melainkan jalan pintas untuk menyamakan narasi hidup. Kita mencicil bukan hanya barang, tetapi juga rasa aman yang semu, validasi sosial, dan kesan "sudah sampai".
Di sinilah akar bahayanya, makin mudah berutang, makin kabur batas antara perlu dan ingin. Perilaku konsumsi tak lagi dilandasi kebutuhan, tapi dikendalikan oleh ketakutan sosial.
Apakah kita benar-benar butuh barang itu? Atau hanya takut terlihat kurang dari teman-teman yang sudah unggah 'unboxing'? Kita tidak lagi hidup sesuai kemampuan, melainkan menunda kenyataan demi menyesuaikan penampilan. Kita hidup dalam skema 'bayar nanti', bahkan untuk rasa cukup yang harusnya datang dari dalam.
Yang lebih mengkhawatirkan, semua ini terlihat normal. Karena banyak orang melakukannya. Kita saling meniru, saling menyamakan standar. Inilah efek social comparison theory yang bekerja secara kolektif ketika perbandingan sosial bukan lagi alat refleksi, tapi ajang kompetisi terselubung. Di era media sosial, perbandingan jadi semakin tak seimbang.
Kita melihat potongan terbaik hidup orang lain, dan merasa hidup kita harus mengejar narasi itu bagaimanapun caranya. Termasuk dengan utang.
Efek domino dari perbandingan sosial yang diperkuat layanan keuangan digital menciptakan perlombaan gaya hidup yang nyaris tanpa akhir. Semua ingin terlihat berhasil, meski diam-diam kewalahan. Semua ingin tampak mampu, meski terus mencicil rasa cukup.
Jika ini terus dibiarkan, utang bukan lagi alat bantu, tapi menjadi candu. Kita membayar harga yang mahal bukan hanya dalam angka, tapi dalam tekanan mental, relasi sosial, dan masa depan yang dicicil dengan gelisah.
Ketika Citra Dipaksa Menjadi Cicilan
Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Data menunjukkan bahwa fenomena utang konsumtif bukan lagi kasus satu dua orang. Sampai dengan Desember 2024, tercatat ada lebih dari 22 juta pengguna aktif pinjaman online (pinjol) di Indonesia dengan total pinjaman mencapai 70an triliun rupiah, menurut data resmi yang dilansir dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lebih mengejutkan lagi, sebagian besar pinjaman bukan berasal dari pelaku UMKM,\ tapi dari individu yang meminjam untuk keperluan pribadi. Ini mengindikasikan bahwa utang digital kini tak hanya jadi alat produksi, tapi sudah menjelma menjadi alat konsumsi
Fenomena pinjol ini pun didominasi oleh generasi muda. Menurut OJK, mayoritas peminjam aktif berasal dari kelompok usia 19–34 tahun, yang berarti Gen Z dan milenial.
Mereka adalah generasi yang tengah membangun identitas, meniti karier, dan hidup di tengah gempuran media sosial yang tanpa ampun memamerkan standar hidup “ideal”. Kemudahan akses dan proses yang cepat membuat pinjol menjadi pilihan banyak orang untuk memenuhi kebutuhan finansial baik yang mendesak maupun konsumtif.
Hal serupa juga terjadi pada skema paylater, layanan keuangan yang memungkinkan siapa pun membeli sekarang dan membayar nanti. Hingga pertengahan 2024, pengguna paylater di Indonesia telah mencapai 14,37 juta orang, meningkat hampir 10 persen dari tahun sebelumnya. Demografi nya mencerminkan wajah generasi kita bahwa 43,9 persen pengguna berasal dari kalangan milenial, disusul oleh 26,5 persen dari generasi Z. Bahkan lebih dari setengah pengguna paylater, adalah mereka yang sudah menikah menyiratkan bahwa tekanan nansial dan citra bukan hanya masalah anak muda lajang, tetapi juga keluarga muda yang ingin tampil “stabil”
Di balik akses yang mudah, terdapat bahaya yang tak bisa diabaikan. Tekanan untuk membayar utang, ditambah dengan praktik penagihan yang kasar dan intimidatif, telah menimbulkan dampak psikologis yang serius. Sepanjang tahun 2023, tercatat 25 kasus bunuh diri yang terkait langsung dengan pinjaman online, angka tertinggi dalam lima tahun terakhir
Salah satu kasus tragis terjadi di Kediri, di mana seorang pria muda berusia 23 tahun mengakhiri hidupnya akibat tekanan dari utang pinjol.
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa utang yang awalnya dimaksudkan sebagai solusi nansial dapat berubah menjadi beban yang mencekik, terutama ketika tak dikelola dengan bijak. Budaya konsumtif yang didorong oleh tekanan sosial dan kemudahan teknologi menciptakan jebakan halus, kita terbiasa menunda beban dan memajukan gaya hidup. Cicilan bukan lagi alat bantu produktif, melainkan jalan pintas untuk tampil seperti “yang lain, yang ideal menurut kita”
Utang yang Paling Mahal Bukan di Aplikasi, Tapi di Hati
Bisa jadi, kita pernah atau malah sedang ada di fase itu. Di luar, wajah tetap tersenyum tapi di dalam, hati serasa sesak oleh cicilan yang menumpuk, saldo yang makin menipis, dan kecemasan yang tak kunjung reda. Kita tetap membeli kopi mahal, tetap memoles penampilan, tetap memajang gaya hidup. Seolah dengan itu semua, kita bisa menyembunyikan rasa kalah yang diam-diam menggerogoti. Kita pakai pencitraan sebagai perisai bukan untuk pamer, tapi untuk bertahan. Namun, lama-lama bukan dompet yang paling lelah, melainkan diri kita sendiri. Lelah karena terus hidup dalam pura-pura.
Dan di titik itu, kita mulai sadar bahwa terlihat mampu dan benar-benar mandiri adalah dua hal yang sangat berbeda. Yang satu tentang bagaimana kita dinilai orang, yang lain tentang bagaimana kita mengendalikan hidup sendiri. Yang satu soal ilusi, yang lain soal keberdayaan. Dan hidup yang sehat tidak harus selalu tampak indah di feed siapa pun.
Kadang, justru yang paling tenang adalah hidup yang tak perlu dibuktikan ke siapa-siapa.
Maka hari ini, mari perlahan kita belajar. Belajar mengurangi beli demi pamer, kurangi tampil demi pujian. Belajar menunda tanpa merasa gagal, dan berkata “nanti saja” tanpa merasa miskin. Saat godaan dating, coba hening sejenak dan mari kita tanyakan dengan jujur pada diri sendiri “Siapa yang sebenarnya sedang ingin saya bahagiakan?” Apakah benarbenar diri kita? Ataukah hanya bayangan diri yang kita bentuk untuk disukai orang lain?
Tak apa terlihat biasa di mata orang lain. Tak punya segalanya bukanlah kegagalan.
Tak bisa sering update bukanlah akhir dunia. Karena kelegaan yang sesungguhnya tidak datang dari barang baru, tapi dari keberanian kita untuk berkata “Saya tidak butuh semua itu untuk merasa cukup.” Sebab di balik tumpukan tagihan dan citra yang dibangun, ada satu utang yang sering kita abaikan bahwa utang kejujuran kepada diri sendiri. Melunasi utang itu adalah bentuk investasi terbaik adalah investasi pada hidup yang lebih tenang, lebih jujur, lebih merdeka, meskipun tak selalu tampak indah di layar, tapi terasa utuh dalam hati.
Mungkin kita tak bisa lepas dari dunia yang penuh sorotan. Tapi kita bisa memilih untuk tidak selalu menjadi bagian dari perlombaannya. Kita bisa berhenti sejenak, menarik napas, dan mengingat bahwa nilai hidup tak ditentukan oleh jumlah likes atau cicilan terakhir. Bahwa menjadi jujur pada diri sendiri meski tak terlihat hebat di mata orang adalah bentuk keberanian yang sesungguhnya. Hidup yang damai bukan tentang mengejar pencitraan, tapi tentang berdamai dengan diri sendiri, meski tampil sederhana, meski tak selalu bisa dibagikan ke mana-mana.
Editor : Arief