Oleh: Rahmania
Mahasiswa Universitas Mulawarman
Aku lahir pada 2002. Generasi Z, katanya. Generasi yang paling terhubung dengan teknologi, paling cepat adaptasi, paling mudah akses informasi. Tapi kalau boleh jujur, kami juga generasi yang paling sering hidup dalam ketidakpastian. Krisis demi krisis seperti tak pernah memberi jeda. Kami tumbuh bersama gemuruh bencana alam, pandemi global, politik yang gaduh, dan iklim yang rusak.
Aku mengenal kata “krisis” bukan dari pelajaran sejarah, tapi dari layar yang terus menyala: berita tentang banjir besar, kebakaran hutan, konflik politik, dan angka-angka kematian yang terus bertambah. Sejak kecil, kami dibentuk untuk waspada. Kami tumbuh dengan sirine peringatan dini, simulasi bencana, dan pelajaran mitigasi sejak bangku sekolah dasar. Kata “darurat” jadi bagian dari kamus kami sebelum kami tahu artinya secara penuh.
Lalu datang masa remaja, dan hidup makin pelik. Pandemi Covid-19 datang saat aku duduk di bangku kuliah. Tiba-tiba dunia berhenti. Kampus tutup, kelas berubah jadi kotak-kotak Zoom, dan rasa sepi jadi rutinitas. Pandemi hanya satu dari sekian banyak krisis yang menjadi latar tumbuh kami. Ketika kasus harian Covid-19 mereda, kami dihadapkan lagi pada dunia yang tak kalah membingungkan: bencana iklim yang makin sering, konflik politik yang memecah-belah, media sosial yang penuh kebencian, dan ekonomi yang tidak stabil. Rasanya seperti dunia memberi tahu kami: “Selamat datang, ini realitas. Bertahanlah!”
Kami tumbuh dalam gelombang informasi yang deras tapi membingungkan. Apa yang benar hari ini, bisa dibantah besok. Politikus bicara soal rakyat, tapi hidup kami tak pernah benar-benar disentuh. Isu lingkungan digaungkan, tapi hutan tetap ditebang. Kami diajak percaya, tapi terlalu sering dikhianati.
Aku pernah percaya pada pemilu sebagai jalan perubahan, tapi kenyataannya, suara kami sering dibungkam oleh permainan elite.
Lalu, apa yang bisa kami percaya?
Banyak dari kami mulai percaya pada satu sama lain. Kami membangun komunitas, gerakan akar rumput, ruang-ruang diskusi mandiri. Kami bicara di media sosial, karena kadang itu satu-satunya tempat kami bisa didengar. Kami mendesain poster, menulis puisi, membuat film pendek, karena lewat seni kami bisa berteriak tanpa dibungkam.
Tapi bahkan di ruang digital, kami tidak sepenuhnya bebas. Algoritma kadang mempersempit dunia, membuat kami terjebak dalam gema opini yang sama. Kami sulit percaya media arus utama, tapi juga takut hoaks menyamar dalam kebenaran. Kami haus akan informasi, tapi bingung mana yang bisa diandalkan.
Kami disebut generasi overthinking. Mungkin karena kami dibesarkan oleh masa depan yang tak pernah pasti. Kami belajar tentang krisis iklim sambil melihat suhu makin panas setiap tahun. Kami diajarkan pentingnya kerja keras, tapi realitas menunjukkan bahwa privilege lebih menentukan nasib. Kami dituntut jadi dewasa lebih cepat, tapi sering dianggap terlalu muda untuk bicara.
Ketika mendengar istilah “bonus demografi”, kami tersenyum getir. Apakah itu berarti kami dianggap ‘modal’ yang bisa dimaksimalkan? Apakah kami hanya statistik dalam grafik pertumbuhan ekonomi? Kami lelah jadi komoditas dalam narasi besar yang tak pernah benar-benar melibatkan suara kami.
Namun meski lelah, kami tak menyerah. Kami belajar percaya pada hal-hal kecil: teman yang mendengar tanpa menghakimi, dosen yang benar-benar peduli, konten kreator yang membahas isu dengan jujur, atau petani muda yang tetap menanam meski cuaca makin tak menentu. Kami percaya pada hal-hal sederhana, karena dari situlah harapan bisa tumbuh.
Kami bukan generasi yang apatis, kami hanya jenuh disuruh percaya pada sistem yang tak transparan. Kami ingin keadilan, bukan sekadar stabilitas. Kami ingin keberpihakan, bukan sekadar netralitas. Kami ingin didengar, bukan sekadar dicatat sebagai partisipan.
Kami juga bukan generasi sempurna. Kami juga salah langkah, mudah terpengaruh, kadang terlalu emosional. Tapi kami terus belajar. Kami belajar bahwa perubahan tidak selalu datang dari atas, tapi bisa dimulai dari percakapan kecil, dari tulisan, dari keputusan untuk tetap peduli di tengah keputusasaan.
Apa yang bisa kami percaya? Mungkin bukan pada satu tokoh atau satu sistem. Tapi pada nilai-nilai keberanian, empati, ketulusan. Kami percaya bahwa dunia bisa diperbaiki, meski pelan. Kami percaya bahwa masa depan bukan sesuatu yang diberikan, tapi diperjuangkan.
Jadi ketika orang bertanya, “Apa sih yang kalian cari?” Jawaban kami sederhana: dunia yang jujur. Tempat kami bisa tumbuh tanpa harus membungkam mimpi demi bertahan hidup. Tempat kami bisa salah tanpa dihakimi. Tempat kami bisa bicara tanpa takut dibungkam.
Kami tumbuh di era krisis. Kami tahu dunia ini rapuh. Tapi justru karena itu, kami ingin menjaganya lebih kuat. Kami bukan generasi yang ingin semuanya instan, kami hanya ingin semua ini masuk akal.
Dan kalau hari ini kami masih memilih untuk belajar, bertahan, dan menulis seperti ini, itu artinya kami masih percaya. Meski tak penuh. Meski dengan hati-hati. Tapi kami percaya, setidaknya pada kemungkinan.
Karena selama ada yang bertanya, akan selalu ada yang menjawab. Dan selama masih ada yang mau mendengar, harapan tak akan benar-benar mati.
Editor : Arief