Oleh: Teguh Pamungkas
Penyuluh Keluarga Berencana Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan
Sejak tahun 2015, bahwa di setiap tanggal 10 Juni kemarin diperingati sebagai Hari Media Sosial di Indonesia. Kemunculan media sosial sebagai sarana komunikasi. Menghubungkan orang dengan orang atau kelompok lewat kata-kata, gambar dan video yang bertujuan membagi informasi.
Sering kali kita melihat banyak informasi media sosial. Ada yang memanfaatkan media sosial sebagai media berjualan. Media sosial menjadi tempat mencari uang, tak sedikit orang-orang yang berhasil jualan lewat medsos. Tak sampai di situ, hingga memunculkan profesi baru di masyarakat, yakni menjadi konten kreator.
Sedikit kisah, beberapa waktu lalu ada sebuah informasi tentang penemuan barang. Ternyata barang tersebut adalah milik istri saya. Tanpa disadari, entah seperti apa kronologinya, tiba-tiba surat sepeda motor dan surat izin mengemudi milik istri bisa tercecer.
Rupanya informasi meluas, tersiar begitu cepat. Pada hari yang sama, akhirnya informasi sampai juga di handphone saya dan beberapa orang yang sengaja datang ke rumah untuk menyampaikan perihal kabar tersebut.
Beberapa teman mengirim pesan, ada pula yang menelepon juga. Hingga tak berselang lama, Pak RT bersama seseorang datang ke rumah. Beliau menyampaikan informasi tentang surat sepeda motor yang tercecer tadi kepada saya. Saat sore harinya, Pak RW datang ke rumah juga untuk menyampaikan hal yang sama.
Tak hanya sampai di situ, malam harinya, para tetangga pun ikut menyampaikan informasi tentang ditemukannya barang istri kepada saya.
Luar biasa. Begitu pedulinya orang-orang terhadap keadaan orang lain. Betapa dahsyatnya dampak positif media sosial, memudahkan interaksi dengan banyak orang. Jarak dan waktu bukan penghalang, informasi lekas tersampaikan. Informasi bisa menyebar secara cepat.
Komunikasi
Komunikasi merupakan proses penyampaian pesan dari pengirim (komunikator) kepada penerima (komunikan). Proses pemindahan pesan terjadi yang dilakukan oleh orang atau kelompok. Ketika informasi diterima pihak yang tepat maka pemindahan pesan terus berlangsung hingga membentuk pesan berantai.
Di tangan orang cakap dalam bersosial, medsos (media sosial) menjadi ruang interaksi yang menyenangkan, baik antarpersonal maupun individu dengan kelompok. Hiruk pikuk informasi terus hilir mudik. Sarat pesan-pesan yang bernilai informasi dan edukasi. Hanya saja fisik yang tidak bisa bersentuhan antara si pengirim dan penerima pesan.
Lantas, sejauh mana informasi bisa bermanfaat dan efektif bisa terjadi pada interaksi sosial di dunia maya? Fenomena inilah yang akhirnya menggugah kesadaran manusia untuk tetap hidup bermasyarakat. Karena entah disadari atau tidak pada akhirnya setiap individu dituntut selalu aktif untuk melakukan suatu komunikasi. Tanpa disadari pergeseran kebutuhan interaksi sosial terus berlangsung dengan sendirinya begitu cepat, yang mengantarkan manusia menuju ruang masyarakat informasi.
Di tangan orang baik dan santun, teknologi bisa dimanfaatkan dengan baik. Sehingga informasi berita kehilangan, pesan bisa tersampaikan dengan efektif. Memang, guna mengukur manfaat yang seperti apa tentu bersifat relatif.
Dalam hitungan detik, jutaan informasi global masuk di gadget-gadget. Dengan adanya teknologi komunikasi dunia ini terasa kecil dan seolah-olah tiada mengenal jarak lagi. Setiap sekat ruang dapat ditembus, tanpa mengenal waktu baik siang maupun malam. Dalam konsep rasionalitas di berbagai konteks, orang bebas menginterpretasi segi-segi tindakan tertentu. Yang pada akhirnya manusia bebas untuk memunculkan keputusan dan pandangannya terhadap dunia.
Membagi Informasi
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti berbagi adalah membagi sesuatu bersama. Atau membagi diri, sebagai -pengalaman- saling memberitahukan pengalaman sehingga yang satu dapat memetik manfaat dari pengalaman yang lain.
Dengan lincah orang-orang menggerakkan jemari, orang piawai menggunakan gadget. Secara cekatan dari orang ke orang pesan tersampaikan secara cepat. Berbagi, memberi atau menerima tentang segala hal yang penting bagi hidup kita.
Wujud kepedulian, secara jelas mereka -orang berbuat baik- melakukan aksi berbagi dengan mengirimkan informasi penting penemuan barang. Berlandaskan kerelaan tanpa pamrih, mereka mau tergerak menginformasikan berita kehilangan sehingga barang tersebut bisa kembali pada pemiliknya.
Berbagi meningkatkan rasa kepedulian. Diri tergerak untuk peduli. Karena di dalamnya menularkan kebaikan bagi diri sendiri yang ingin terus kontinyu maupun bagi pihak lain. Selain itu, yang paling pokok adalah membuat perasaan menjadi bahagia. Bisa melakukan kegiatan yang positif di mana bisa menumbuhkan rasa percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain.
Kebiasaan hidup berteman, bertetangga dan bermasyarakat yang baik memungkinkan pergaulan di media sosial yang baik pula. Bisa memanfaatkan teknologi komunikasi secara baik serta membawa kebaikan bersama. Dengan niat dan kekuatan bermedia sosial, maka bisa mengantarkan persaudaraan di antara sesama manusia. Dari aksi solidaritas di media sosial telah membuahkan banyak manfaat dan membuat kehidupan media sosial yang begitu indah.
Semua berharap media sosial bisa menumbuhkan kesadaran dalam bersosial, edukasi dan mengajak masyarakat pada informasi dan perihal yang positif. Bukan malah sebaliknya, media sosial menjadi wadah untuk menebar informasi bohong atau berbuat kejahatan. Sebab media sosial ibarat pisau bermata dua.
Editor : Arief