Oleh: Puja Mandela
Wartawan biasa, kadang-kadang dikira musisi
Sebagian sastrawan kita sepertinya tak pernah kehabisan bahan untuk membuat keributan di planet bumi ini. Headline Kompas yang viral itu juga memicu reaksi tajam hingga menimbulkan keriuhan baru di jagat maya.
Banyak yang mempertanyakan 'keluguan' Kompas saat memuat judul tersebut di halaman satu. Namun, umumnya mereka mengamini bahwa sastrawan dan penulis memang sulit hidup dari sastra. Ya, sastra yang sakti mandraguna nyatanya tak punya kemampuan untuk menghidupi umat manusia. Seringkali ia hanya terlihat seperti sebuah pusaka tua yang tak semua orang membutuhkannya.
Suatu hari dalam perjalanan, saya tak sengaja mengungkap perihal rencana pembuatan buku yang sifatnya tidak komersial. Rencananya, buku catatan saya tentang perkembangan musik di kawasan pesisir Kalimantan itu hanya akan saya bagi-bagikan ke komunitas, perpustakaan, dan orang-orang yang bersedia membacanya. Sebagian lainnya baru akan saya jual. Itu pun kalau ada yang mau beli.
Obrolan saya itu tiba-tiba disambar seseorang dengan nada agak ngoyo. Dia nyeletuk dan lantas menyebut baru saja mendapat proyek penulisan buku dari seorang pejabat dengan nilai kurang lebih dua ratus juta.
"Dua puluh sampai tiga puluh juta aman lah itu," ucapnya, memperkirakan keuntungan yang akan dia dapatkan.
Saya tertegun. Agak tak setuju. Saya ingin membantah, tetapi jangan-jangan dia yang benar? Jangan-jangan dunia kepenulisan sebenarnya bisa menghidupi. Tinggal bagaimana cara kerja dan mindset kita saja sebagai penulis yang harus dibenahi.
Saya mulai merasa membagikan buku secara gratis adalah bentuk ketololan saya sebagai penulis. Keputusan saya melakukan itu karena kesadaran saya yang tidak berada pada level penulis populer seperti Raditya Dika, Boy Candra, Tere Liye atau dalam konteks sastra hari ini, ada nama Eka Kurniawan yang karyanya masih laku dijual.
Jadi, para sastrawan dan penulis sebenarnya punya banyak cara untuk survive, bahkan hidup enak. Hanya saja bagi mereka yang tidak berada pada tier satu, mereka harus memiliki strategi lain.
Mereka jangan melakukan hal-hal konvensional dengan 'hanya' berupaya menembus penerbit besar, atau kalau buku itu dicetak secara independen, kita hanya mempromosikan bukunya via media sosial sambil duduk dan ngopi di teras rumah. Atau paling banter menggelar bedah buku di coffee shop.
Para sastrawan atau penulis, jika ingin hidup enak, harus bisa berpikir lebih progresif, multitasking, dan melakukan segala cara layaknya politisi. Tak hanya dalam konteks menjual buku agar laku, tetapi juga mencari peluang lewat proyek-proyek pembuatan buku yang didanai pejabat atau pemerintah. Langkah awalnya simpel. Tinggal buat proposalnya di ChatGPT, lalu pastikan Anda dapat keuntungan lumayan dari situ.
Lobi-lobi untuk membuka peluang mendapatkan proyek-proyek pembuatan buku dari pemerintah menjadi sangat penting. Jangan lupa untuk sering-sering nempel sama pejabat. Dan setelah peluangnya terbuka, Anda juga bisa menjadi semacam EO yang menggelar kegiatan-kegiatan bertema literasi. Bukankah ini lebih masuk akal, menghasilkan, dan mengenyangkan?
Tapi memang tak semua sastrawan atau penulis mau dan mampu menempuh jalan ini. Sebagian lebih memilih 'kelaparan' daripada masuk ke zona yang tak mereka kuasai. Lagipula tidak semua orang punya kemampuan lobi-lobi seperti politisi. Sebagian lainnya masih terlalu malu mengetuk pintu kekuasaan. Entah, karena tidak terbiasa atau memang belum tahu caranya.
***
Tiba-tiba pesan WhatsApp masuk. Pesan itu berasal dari seorang penulis muda yang jika dilihat dari wajahnya tampak polos tanpa dosa. Dia menawarkan satu buku cerita pendek yang ditulis keroyokan bersama dua temannya. Nggak pake lama, saya langsung memesan buku tersebut. Bukan karena promonya yang menarik atau isi bukunya yang membuat penasaran. Saya hanya kasihan.
Begitulah…
Editor : Arief