PENULIS : Nadifa Aulia Agustina (Mahasiswa S1 Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin)
Di era digital yang serba cepat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun, di balik kemudahan berkomunikasi dan berbagi momen, muncul sebuah fenomena psikologis yang tak kalah serius: Fear of Missing Out, atau yang lebih dikenal dengan singkatan FOMO.
Rasa takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau tren terbaru sering kali membuat kita terus-menerus memantau dan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain secara online.
Fenomena ini bukan hanya sekadar rasa ingin tahu, tetapi juga bisa berdampak negatif pada kesehatan mental jika tidak disadari dan dikelola dengan baik.
Apa itu FOMO
Fenomena FoMO (Fear of Missing Out) adalah salah satu bentuk komunikasi interpersonal, di mana seseorang merasa cemas, khawatir, atau takut ketinggalan informasi atau aktivitas yang sedang ramai dibicarakan di media sosial.
Biasanya, perasaan ini muncul saat melihat orang lain tampak lebih aktif, bahagia, atau terlibat dalam hal-hal menarik yang tidak kita ikuti (Aisafitri dkk, 2021) FoMO memiliki kaitan erat dengan kecanduan media sosial.
Rasa takut ketinggalan informasi membuat seseorang terdorong untuk terus memantau media sosial agar tetap terhubung dan mengetahui apa yang sedang terjadi.
Karena media sosial selalu menyajikan informasi terbaru, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi kecanduan(Abel, 2016)
Dampak FOMO
Fear of missing out (FOMO) ini bisa berdampak buruk bagi kehidupan remaja, hal ini seperti yang dikatakan oleh Setiadi & Agus (2020) bahwa fear of missing out (FOMO) adalah dampak negatif dari penggunaan jejaring sosial secara berlebihan yang mengakibatkan terjadinya tingkat kepercayaan diri yang rendah.
Meningkatnya FOMO pada individu akan menimbulkan emosi yang negatif seperti mudah stress, cemas dan insecurities.
FOMO juga mengakibatkan rendahnya penguasaan terhadap lingkungan serta hubungan sosial yang negatif dengan individu lain karena kurangnya kemampuan untuk mengontrol impuls untuk selalu check media sosial.
Dampak negatif lainnya yang sering dirasakan akibat ketergantungan dengan media sosial ini adalah subjek cenderung menjadi sering melakukan self-comparison (membandingkan diri) dengan orang lain yang mereka lihat di media sosial.
Faktor terjadinya FOMO
Faktor dari fear of missing out (FOMO) yaitu, banyaknya stimulus untuk mendapatkan informasi, hal ini akan membuat individu selalu ingin mengetahui perkembangan informasi yang ada setiap saat, stimulus dalam mendapatkan informasi yaitu salah satunya media sosial, dan ini akan berdampak negatif apabila individu tidak memiliki kontrol diri untuk dapat mengatur waktu serta membatasi informasi yang diperoleh melalui media sosial (Wulandari, 2020).
FoMO umumnya dipicu oleh beberapa faktor, seperti keinginan untuk diterima secara sosial, ketidakpuasan terhadap kehidupan pribadi, serta kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial (Przybylski dkk, 2013).
Selain itu, FoMO juga berkaitan dengan kebutuhan psikologis yang tidak terpenuhi, seperti rasa memiliki dan koneksi sosial (Abel et al., 2016).
Faktor-faktor ini membuat individu merasa cemas jika tidak terlibat dalam aktivitas yang dilakukan orang lain, terutama yang terlihat secara daring.
Cara menghindari fenomena FOMO
Mengelola atau menghindari FOMO (Fear of Missing Out) sangat penting untuk menjaga kesehatan mental, terutama di era digital saat ini. Berikut beberapa strategi yang bisa dilakukan ( Oktabia dkk,2024)
- Membatasi Penggunaan Media Sosial
Membatasi penggunaan media sosial bukan berarti memutus koneksi sosial, melainkan langkah untuk menjaga kesehatan mental dan mengurangi tekanan sosial yang bersifat semu.
Dengan waktu online yang lebih terkendali, seseorang dapat fokus pada kehidupan nyata dan hubungan sosial yang lebih bermakna.
- Meningkatkan Kesadaran diri (Self Awarness )
Kesadaran diri adalah kemampuan untuk mengenali dan memahami pikiran, perasaan, serta perilaku sendiri.
Dalam konteks media sosial, meningkatkan self-awareness membantu individu menyadari bahwa apa yang ditampilkan orang lain di platform digital sering kali hanyalah bagian terbaik dari hidup mereka, bukan keseluruhan realitas.
Hal ini bisa dilakukan dengan Kurangi Kebiasaan Membandingkan Diri, Gunakan Media Sosial dengan Tujuan yang Jelas, dan Refleksikan Perasaan Setelah Bermedsos.
- Bangun Koneksi Sosial yang Sehat
Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi FOMO adalah dengan membangun hubungan sosial yang positif dan mendukung di dunia nyata.
Saat seseorang merasa terhubung secara emosional dengan orang-orang di sekitarnya, keinginan untuk terus memantau kehidupan orang lain di media sosial biasanya akan berkurang.
- Praktikkan Mindfulness
Menghadapi FOMO tidak hanya soal menghindari media sosial, tetapi juga tentang mengubah pola pikir.
Mindfulness itu sebenarnya tentang fokus sama apa yang sedang kita lakukan saat ini, tanpa mikir macam-macam atau menilai apa-apa.
Cara menerapkannya bisa dengan melatih perhatian penuh seperti misal membiasakan makan makan tanpa sambil scrolling.
Nikmati Momen Tanpa Tekanan Sosial. Gunakan Afirmasi Positif. Dan bisa kuangkan waktu offline dan bebas dari gadget (Shapiro dkk, 2006)
Menghadapi FOMO bukan berarti kita harus menjauhkan diri sepenuhnya dari media sosial, melainkan mengelolanya dengan bijak dan sadar.
Dengan membatasi waktu penggunaan, meningkatkan kesadaran diri, serta membangun koneksi sosial yang sehat, kita dapat mengurangi tekanan yang ditimbulkan oleh fenomena ini.
Pada akhirnya, penting untuk mengingat bahwa kebahagiaan dan kepuasan hidup tidak diukur dari seberapa banyak kita mengikuti tren atau pengalaman orang lain, melainkan dari bagaimana kita menghargai dan menikmati momen dalam kehidupan kita sendiri.
Dengan begitu, kesehatan mental kita dapat tetap terjaga di tengah derasnya arus informasi digital saat ini.
Referensi
Abel, J. P. (2016). Social Media and the Fear of Missing Out. Scale Development and Assessment. Journal of Business & Economics Research – First Quarter, 14 (1): 47-65
Aisafitri, L., & Yusriyah, K. (2021). Kecanduan media sosial (fomo) pada generasi milenial. Jurnal Audience: Jurnal Ilmu Komunikasi, 4(01), 86-106.
Oktavia, F., & Hanifah, N. N. Mental Health Crisis: Mengeksplorasi Penyebab dan Strategi Penanganan Fenomena FoMO pada Mahasiswa yang Terpapar Konten Bunuh Diri di TikTok. Jurnal Exact: Journal of Excellent Academic Community, 2(1), 1-11.
Przybylski, A. K., Murayama, K., Dehaan, C. R., & Gladwell, V. (2013). Motivational, Emotional, And Behavioral Correlates Of Fear Of Missing Out. Computers In Human Behavior, 29(4), 1841–1848.
Setiadi, F., & Agus, D. (2020). Hubungan Antara Durasi Penggunaan Jejaring Sosial Dan Tingkat Fear Of Missing Out Di Kalangan Mahasiswa Kedokteran Di Jakarta. Damianus: Journal Of Medicine, 19(1), 62–69. Https://Doi.Org/10.25170/Djm.V19i1.119
Shapiro, S. L., Carlson, L. E., Astin, J. A., & Freedman, B. (2006). Mechanisms of mindfulness. Journal of clinical psychology, 62(3), 373-386.
Editor : Muhammad Rizky