Oleh: Sisca Hetiutami
Kepala UPTD Puskesmas Tanjung Habulu, Tanah Laut
periode Januari 2024 - April 2025
Perkembangan Artificial Intelligence (AI) menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari. AI hadir hampir di seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai sebagai alat masyarakat untuk berkarya maupun pendukung aktifitas ekonomi.
Di berbagai forum, AI disebut sebagai pilar revolusi industri keempat. Namun, dalam bayang-bayang manfaatnya muncul kekhawatiran akan ketergantungan berlebihan terhadap AI yang memicu masalah baru, khususnya kesehatan mental. Hal ini bukan sekadar hipotesis, berbagai jurnal ilmiah telah mengungkap korelasi penggunaan teknologi digital atau AI dengan penurunan fungsi kognitif.
Salah satunya pada penelitian yang mengungkapkan penggunaan AI secara berlebihan dapat menurunkan aktivitas otak manusia, tertuang pada artikel ilmiah dengan judul AI Tools in Society: Impacts on Cognitive Offloading and the Future of Critical Thinking.
Berpikir (tantangan kognitif) yang rendah akibat ketergantungan pada sistem yang terotomatisasi (AI) dapat berdampak melemahkan konektivitas sinaptik di area korteks prefrontal dan hippocampus. Padahal, ini bagian penting dalam pengambilan keputusan, kontrol emosi, dan memori jangka panjang. Kurangnya stimulasi berpikir dapat mengurangi produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor, yang mempercepat atrofi otak dan menurunkan cadangan kognitif, sehingga meningkatkan risiko gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer dan demensia.
Bill Gates memprediksi AI menggantikan sebagian peran guru dan dokter pada 10 tahun mendatang. Meski terdengar futuristik dan revolusioner, ini menandai ancaman terhadap berkurangnya interaksi manusia. Ironinya, justru vital dalam menjaga kesehatan mental dan hubungan sosial.
Namun kita harus adil, AI tidak hanya berperan negatif jika digunakan dengan bijak, AI menjadi enabler produktivitas dan akselerator bisnis. Laporan McKinsey Global Institute 2023 menunjukkan penerapan AI dapat meningkatkan produktivitas hingga 40 persen, dengan proyeksi nilai ekonomi global mencapai $15,7 trilliun pada 2030.
Di Puskesmas, AI dapat dimanfaatkan untuk (1) Mempercepat input dan analisis data epidemiologi dengan metode machine learning yang menganalisis penyakit terbanyak, sehingga program promotif dan preventif bisa lebih tepat sasaran; (2) Sistem chatbot AI yang dapat menggantikan layanan informasi manual, sehingga masyarakat dapat menerima jawaban secara cepat dan tepat; (3) Sistem skrining kesehatan berbasis algoritma deep learning untuk membantu penegakan diagnosa; (4) Memersonalisasi pemberian edukasi berbasis profil risiko kesehatan agar lebih informatif. Hal ini menunjukkan ancaman terhadap kesehatan mental bukan pada AI, melainkan pada pola penggunaan yang keliru yaitu pola penggunaan yang pasif tanpa keterlibatan proses kognitif yang aktif.
Puskesmas adalah unit pemerintah yang bergerak di layanan kesehatan pertama. Dengan perkembangan sekarang, Puskesmas perlu melakukan upgrade layanan promotif dan preventif untuk kesehatan mental dan neurokognitif.
Pada Integrasi Layanan Primer (ILP), Puskesmas didorong menjadi pusat layanan berbasis siklus hidup keluarga dan komunitas. Ini membuka peluang untuk mengintervensi risiko gangguan kesehatan mental akibat AI.
Langkah strategisnya antara lain: (1) Integrasi Skrining Kognitif dalam Layanan Rutin. Setiap layanan PTM, Posbindu, dan kunjungan rumah dapat disertai skrining fungsi kognitif menggunakan instrumen Mini-Mental State Examination atau Montreal Cognitive Assessment; (2) Promosi Literasi Digital Sehat. Melalui kegiatan posyandu, kelas ibu hamil, dan Posyandu remaja, Puskesmas menambahkan materi edukasi tentang penggunaan AI secara kritis dan aktif serta beretika dalam mencari solusi kesehatan; (3) Pusat Aktivitas Neurokognitif Komunitas, menyediakan ruang aktivitas literasi digital sehat. Tempat ini dapat membuat masyarakat untuk belajar teknologi sambil tetap berpikir kritis; (4) Kegiatan Melatih Otak Setiap Hari, untuk menghidupkan kembali budaya membaca, berdiskusi, bermain logika, dan menulis tangan sebagai latihan neurokognitif. Kegiatan ini merupakan serangkaian aktivitas sederhana dan terstruktur yang dirancang untuk merangsang kedua belahan otak (kanan dan kiri) secara bersamaan melalui gerakan fisik dan mental serta dibarengi dengan pemberian nuansa kegiatan yang menyenangkan agar terlaksana secara berkesinambungan.
Senam otak tidak hanya meningkatkan konektivitas antar neuron, tetapi juga melatih fokus, memori, koordinasi motorik, dan kecepatan berpikir. Kegiatan ini dapat dikemas menjadi : (1) Sesi rutin "Senam Otak" di Posyandu Lansia, Remaja, dan Kelas Ibu Hamil, dengan variasi gerakan koordinasi tangan, latihan konsentrasi, hingga permainan memori; (2) Membuat pojok Tantangan Neurokognitif di ruang tunggu puskesmas, berisi puzzle sederhana, teka-teki silang, dan tantangan logika harian yang dikemas secara menarik dan menyenangkan.
Inovasi ini tidak hanya memperkuat program promosi kesehatan, tetapi juga dapat membangun masyarakat yang sadar akan pentingnya menjaga kesehatan otak secara berkelanjutan. Gerakan ini perlu didukung oleh pemerintah dengan edaran kepala daerah tentang literasi digital sehat dan pemanfaatan AI, Peraturan kepala daerah yang mengatur strategi daerah dalam mempromosikan kesehatan mental era digital, dan pembentukan tim koordinasi lintas sektor untuk pencegahan gangguan kognitif akibat AI, serta dukungan alokasi anggaran untuk mendukung literasi digital sehat ditingkat puskesmas dan masyarakat.
Opini ini bukan membuat kita kembali ke masa lalu atau menolak perkembangan teknologi. Justru sebaliknya, kita harus mengadopsi AI secara sadar, proporsional, dan beretika. Teknologi harus menjadi alat pemberdayaan, bukan alat kemalasan dalam berpikir. Kesehatan mental dan fungsi kognitif adalah salah satu fondasi ketahanan bangsa di masa depan. Jika kita lalai mengantisipasi epidemi digital ini, mungkin akan menuai generasi yang cerdas dalam menggunakan teknologi, namun rapuh dalam hal psikologis dan kognitif. Menjadikan puskesmas sebagai pusat inovasi literasi digital sehat berbasis ILP, merupakan upaya mencegah bahwa transformasi digital tidak akan menghancurkan aset terbesar manusia yaitu akal dan jiwa.
Era AI merupakan realita dan perkembangannya akan terus maju dengan akselerasi yang cepat. Puskesmas harus segera beradaptasi, dengan menambahkan layanan aspek kognitif dan mental generasi digital. Untuk itu, diperlukan upaya strategi puskesmas yang sistematis, terintegrasi, dan adaftif, agar kita mampu menciptakan masa depan dengan AI sebagai enabler kemajuan layanan kesehatan yang menghasilkan kesehatan masyarakat yang paripurna baik fisik, mental, maupun kognitif.
Editor : Arief