Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Urgensi Menavigasi Partai Politik Bagi Pemuda

admin • Kamis, 22 Mei 2025 | 05:11 WIB
Photo
Photo

Penulis: Ilham Akbar Mustafa, Waketum PP AMPG

Partai politik di Indonesia mengalami krisis adaptasi dan fleksibilitas terhadap kelompok muda. Hal ini setidaknya tercermin dari hasil survei Katadata Insight Center (KIC) tahun 2023 yang menunjukan bahwa hanya terdapat 8,7% pemuda yang berminat menjadi anggota partai politik, dan 6,9% lainnya yang memiliki ketertarikan menjadi politisi atau calon legislatif. 

Ketidaklenturan institusi politik dan partai politik dalam membaca kebutuhan para pemuda dapat menjadi alasan utama dibalik absennya keterlibatan kaum muda dalam reformasi partai politik. Hal ini diperburuk dengan minimnya isu-isu yang relevan dengan pemuda di dalam tubuh partai politik.

Partai politik sudah sepatutnya melakukan pembenahan yang terukur. Hal ini dapat dimulai dengan membangun model infrastruktur dan suprastruktur politik yang memadai dan representatif bagi  pemuda. Hasilnya akan cukup signifikan untuk merubah cara pandang pemuda terhadap partai politik, bila partai politik segera memperbaiki dan mereformasi diri.

Terlebih dengan perkembangan digital yang saat ini terjadi. Partsipasi politik tidak lagi terbatas pada mekanisme konvensional seperti pemilihan umum atau kegiatan formal institusional. Teknologi telah mendisrupsi cara kita untuk berkomunikasi, mengakses informasi, dan mengekspresikan pendapat. Media sosial, forum daring, hingga platform petisi online membuka ruang baru bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam isu-isu politik, tanpa harus terikat pada batasan fisik maupun birokrasi. 

Hal inilah yang telah dipraktekkan oleh partai hijau di German dengan tingkat dukungan kelompok pemuda yang mencapai 30 persen suara. Begitu pula dengan Rassemblement National  di Prancis yang memperoleh dukungan signifikan dari pemuda karena komitmen dan pengawalan partai tersebut  isu-isu kepemudaan. Situasi ini menegaskan bahwa partai yang serius membina hubungan dengan generasi muda—melalui representasi, keterbukaan, serta pengangkatan isu yang kontekstual—akan lebih berpeluang mendapatkan dukungan riil dan regenerasi kader yang berkelanjutan.

Di tengah situasi dimana, dorongan transisi digital ini memungkinkan generasi muda untuk menjadi aktor sentral. Mereka yang tumbuh dan berkembang di tengah arus teknologi yang masif, mereka lebih adaptif terhadap perubahan dan lebih vokal untuk menyuarakan pendapatnya. Keterlibatan politik kini tak melulu dengan kostum seragam atau kursi parlemen—cukup dengan unggahan, kampanye digital, atau bahkan sekadar berbagi informasi kritis, mereka sudah menjadi bagian dari dinamika politik masa kini. 

Fenomena ini juga yang  menandai telah terjadi pergeseran paradigma: politik kini tak lagi eksklusif milik elite, melainkan ruang terbuka yang bisa diakses siapa saja, terutama oleh generasi yang memahami dengan baik cara kerja dunia digital. 

Dengan kondisi ini, maka patut disayangkan, masih banyak partai yang masiih terjebak dalam pola lama: struktur yang kaku, komunikasi satu arah, serta minimnya keberanian melakukan regenerasi kepemimpinan. Padahal, generasi muda menghendaki pendekatan yang lebih partisipatif, transparan, dan relevan dengan realita mereka. Adaptasi terhadap perkembangan zaman bukan hanya soal digitalisasi media kampanye, tetapi menuntut transformasi kultural dan ideologis dari dalam tubuh partai itu sendiri.

Apalagi krisis kepercayaan dari pemuda terhadap partai politik sebetulnya bukan hal baru. Sejak era reformasi, antusiasme generasi muda terhadap politik formal terus mengalami pasang surut. Gerakan mahasiswa 1998 adalah contoh kuat keterlibatan pemuda dalam mengubah arah bangsa. Namun setelah perubahan besar itu, ruang partisipasi formal terasa stagnan. Banyak pemuda justru memilih jalur gerakan sosial, komunitas, atau aktivisme digital karena merasa lebih bebas, lebih cepat berdampak, dan tidak tersandera oleh aturan-aturan politik formal yang kaku.

Meski begitu, bukan berarti seluruh partai politik gagal total. Beberapa partai, terutama yang lebih baru atau memiliki basis milenial, mulai membuka ruang dialog dan kolaborasi dengan anak muda. Mereka tidak hanya menghadirkan forum-forum diskusi yang inklusif, tetapi juga mulai melibatkan pemuda dalam proses pengambilan keputusan internal, memberikan ruang representasi dalam struktur organisasi, serta memanfaatkan media sosial untuk menjaring aspirasi dan membangun komunikasi dua arah yang lebih segar dan setara.

Adaptasi Partai Politik

Challenge besar kini terletak pada sejauh mana partai politik mampu menjawab perubahan zaman dan merespons dinamika digital yang begitu cepat. Banyak partai politik masih terjebak dalam pola-pola lama: struktur yang hierarkis, komunikasi satu arah, dan agenda yang tidak inklusif terhadap kepentingan generasi muda. Sedangkan, proyeksi politik generasi muda justru bertumpu pada fleksibilitas dan kreatifitas. 

Proses adaptasi dari partai politk ini tidak hanya soal mengubah strategi komunikasi ke ranah digital, tetapi juga menuntut perubahan mindset dan kultur politik di dalam tubuh partai. Mereka perlu hadir di ruang-ruang digital bukan hanya sebagai pengisi konten kampanye, tetapi sebagai mitra dialog yang mendengarkan dan merespons aspirasi anak muda secara aktif. Tanpa kesadaran ini, partai politik akan terus kehilangan relevansi di mata generasi penerus bangsa.

Dengan demikian, reformasi internal partai politik menjadi mutlak. Hal ini mencakup regenerasi kepemimpinan, digitalisasi struktur komunikasi, serta pelibatan aktif anak muda dalam perumusan kebijakan. Hanya dengan cara ini, partai politik bisa kembali menjadi kanal perjuangan politik yang sehat dan menarik bagi generasi muda, sekaligus menjaga keberlanjutan demokrasi Indonesia di tengah gelombang perubahan zaman.

Membangun Empat Jalan Transformasi Politik

Transformasi politik sejatinya bukan hanya tentang mengubah struktur formal, melainkan juga menyesuaikan cara berpikir, cara berinteraksi, dan cara membangun kepercayaan. Jalan panjang transformasi ini hanya dapat terbangun jika partai politik bersedia membuka diri, belajar dari dinamika generasi muda, dan menjadikan mereka bukan sekadar objek politik, tetapi subjek aktif dalam setiap prosesnya.  

Dengan begitu, masa depan demokrasi Indonesia bisa disandarkan pada partisipasi yang inklusif, dinamis, dan mewakili aspirasi lintas generasi—karena politik bukanlah soal figur melainkan siapa yang paling siap mendengar, bergerak, dan berubah.

Partai politik di Indonesia perlu melakukan perubahan besar dalam cara mereka mendekati dan melibatkan generasi muda. Jika selama ini pemuda jarang terlibat dalam politik, itu bukan hanya karena mereka tidak tertarik, tapi karena cara-cara lama partai politik tidak lagi relevan dengan dunia mereka. Saat ini, dengan perkembangan teknologi digital dan perubahan nilai yang terjadi, partai politik harus siap beradaptasi jika ingin menarik perhatian dan partisipasi anak muda.

1. Membangun Narasi Besar yang Menginspirasi

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menciptakan narasi besar yang jelas tentang masa depan negara. Bukan hanya sekadar janji atau slogan kosong, tetapi sebuah cerita yang menggambarkan bagaimana anak muda bisa berkontribusi dalam membentuk masa depan yang lebih baik. Narasi ini harus melibatkan pemuda sebagai bagian utama dari perubahan tersebut, karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini sangat bergantung pada apa yang dilakukan oleh generasi muda saat ini. Dalam narasi ini, mereka harus merasa menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam perjalanan bangsa ke depan.

2. Program yang Menjawab Kebutuhan Anak Muda

Partai politik harus bisa menawarkan program yang langsung menjawab kebutuhan dan keinginan anak muda. Sejumlah hasil  penelitian menunjukkan bahwa generasi muda sangat peduli dengan isu-isu seperti peluang kerja, pemberantasan korupsi, kebebasan sipil, dan peningkatan kualitas hidup secara umum. Mereka juga menginginkan negara yang lebih adil, kuat dalam penegakan hukum, dan dihormati oleh negara lain. Partai politik yang bisa merespon kebutuhan ini dengan program konkret yang relevan, akan lebih mudah mendapatkan dukungan dari pemuda. Program-program yang berbasis pada aspirasi pemuda akan membangun kedekatan dan kepercayaan, serta mendorong keterlibatan aktif mereka. 

3. Budaya Politik yang Terbuka dan Egaliter

Selain kebijakan yang tepat, budaya politik dalam partai juga perlu berubah. Partai politik tidak bisa lagi beroperasi dengan cara lama yang seringkali tertutup dan penuh dengan hierarki yang kaku. Sebaliknya, partai politik harus mampu menciptakan ruang yang terbuka dan demokratis, di mana anak muda dapat berpartisipasi aktif, mengungkapkan ide, dan bahkan memimpin. Dalam budaya politik yang seperti ini, anak muda merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Jika budaya politik dalam partai terbuka dan inklusif, maka partai tersebut akan lebih mudah menarik minat dan keterlibatan pemuda.

4. Mengoptimalkan Media Sosial dan Platform Digital

Di era digital ini, partai politik harus memanfaatkan platform digital untuk menjangkau anak muda dengan cara yang lebih tepat. Generasi muda sudah sangat terbiasa dengan media sosial dan teknologi digital, yang memudahkan mereka untuk mengakses informasi dan berinteraksi. Oleh karena itu, partai politik harus aktif di platform-platform ini untuk menyampaikan ide-ide mereka, serta mendengarkan aspirasi dari generasi muda. Dengan konten yang kreatif dan komunikatif, partai politik dapat membangun hubungan yang lebih dekat dan langsung dengan pemuda, tanpa harus bergantung pada cara-cara lama yang lebih formal dan terbatas.

Melalui empat langkah ini—membangun narasi besar yang melibatkan pemuda, menyusun program yang relevan dengan kebutuhan mereka, membangun budaya politik yang terbuka dan inklusif, serta memanfaatkan media digital—partai politik dapat membuka peluang besar untuk memperkuat keterlibatan pemuda dalam politik. Geliat ini bukan hanya dalam rangka memenangkan pemilu, tetapi juga dalam rangka menciptakan masa depan politik yang lebih baik dan lebih demokratis.

Dengan demikian, transformasi politik yang melibatkan pemuda tidak hanya akan menguntungkan partai politik itu sendiri, tetapi juga akan memperkaya demokrasi kita. Karena pada akhirnya, pemuda adalah masa depan, dan masa depan bangsa ini akan ditentukan oleh seberapa banyak kita melibatkan mereka dalam proses politik yang bermakna.

Editor : Fauzan Ridhani
#partai politik #kaum muda #pemuda #Katadata Insight Center #calon legislatif