Oleh: Syaiful Bahri Djamarah
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
UIN Antasari Banjarmasin
Romantisme, cinta dan kasih sayang tiga perasaan yang tidak dapat dipisahkan. Karena di mana ada cinta, di situ ada kasih sayang. Ketika saling memadu cinta, kasih sayang pun bersemi. Romantisme menambah syahdunya suasana hati. Romantisme menjadikan segalanya serba indah dan romantis.
Ketika bercinta, saling mencintai, cinta berbalas cinta, saling menyayangi, berkasih-kasihan, kasih pun berbalas kasih. Entah siang atau malam, raut wajah kekasih tidak luput dari ingatan. Siang jadi kenangan. Malam jadi impian. Ada rindu yang menggelora. Rindu itu tidak terobati bila tidak disudahi dengan pertemuan, saling berdekatan, saling cubit dan berbalas senyum.
Itulah dunia percintaan. Semuanya serba romantis puitis. Serba indah. Indah dipandang. Indah dirasa. Rasa senang memang mengalahkan segalanya. Keburukan seolah sirna hanya karena cinta. Semuanya terbuai dengan keindahan dalam bercinta. Dunia ini seolah hanya miliknya berdua.
Dunia percintaan memang romantis. Sebab cinta dan kasih sayang mampu menghadirkan romantisme. Ketika rasa cinta menyatu kasih sayang pun hadir mengisi relung hati. Semuanya menjadi indah tanpa noda. Suasana romantis membuat seseorang tenggelam dalam kenikmatan rasa. Fantasi dan hayal menyatu. Kadang lupa daratan.
Kita memang tidak membantah bahwa dunia percintaan itu penuh keindahan serba romantis. Akan tetapi, keindahan dunia percintaan itu tidak abadi. Suatu saat nanti, entah disadari atau tidak, entah karena apa, keindahan dalam bercinta itu menjelma menjadi petaka. Petaka cinta. Kegagalan cinta. Entah karena cinta tertolak atau karena dikhianati. Inilah sisi gelap dunia percintaan.
Ketika kegagalan cinta hadir, ketika cinta ditolak, ketika dikhianati, itulah petaka cinta. Petaka cinta itu terjadi karena pengkhianatan telah memporak-porandakan mahligai cinta yang sudah terbina dan melayukan kasih sayang yang sudah bersemi. Romantisme hanya kenangan.
Ketika keindahan cinta menjadi petaka cinta. Ketika pesona kasih sayang menjadi nestapa cinta. Konflik cinta pun hadir menghancurkan semua impian tentang keindahan dalam bercinta.
Di pentas kehidupan ini, ada ratusan orang yang pernah patah hati karena cintanya sering ditolak. Sudah tak terhitung banyaknya mereka yang berputus asa atau bunuh diri karena cintanya dikhianati. Baru saja berpacaran dalam hitungan tahun, bahkan dalam hitungan bulan kemesraan sudah sirna, percekcokan terjadi.
Dalam kehidupan berumah tangga pun tidak pernah sepi dari petaka cinta. Ketika konflik menerpa baik karena pengkhianatan atau karena kekerasan dalam rumah tangga tidak terselesaikan, maka mahligai rumah tangga hancur lebur berantakan. Sentilan kasih sayang kehilangan ruh cinta. Ucapan romantis tidak terdengar lagi. Rindu untuk berdekatan hanya masa lalu. Semuanya tinggal cerita. Itulah kehancuran cinta, duka cita dalam bercinta.
Sebenarnya, siapa pun yang menerjunkan diri ke dalam dunia percintaan berpotensi mengalami kegagalan cinta. Mereka yang ingin mereguk manisnya madu cinta berpotensi mengalami kegagalan cinta. Orang yang sudah melabuhkan cintanya kepada orang yang dicintainya berpotensi mengalami kegagalan cinta. Jadi, dikhianati atau ditolak sama saja. Kegagalan cinta.
Dalam hidup ini drama kegagalan cinta tidak pernah berakhir. Jangankan semasa berpacaran atau gagal ketika melamar, bahkan dalam rumah tangga pun ditemukan suami istri yang gagal mempertahankan keutuhan cinta disebabkan gempuran konflik bertubi-tubi. Dari sebagian yang bisa mempertahankan rumah tangga, tidak sedikit yang berakhir dengan perceraian.
Jadi, bukan hanya pernikahan dini sering diterpa perceraian, mereka yang sudah lama membina biduk rumah tangga juga sering karam di tengah perjalanan. Biduk rumah tangga hancur berantakan. Pantai idaman hanya impian belaka.
Perselingkuhan, KDRT dan poligami sering kali menjadi pemicu keretakan keutuhan cinta suami istri. Perselingkuhan adalah pengkhianatan cinta. Tidak hanya suami, istri juga mengkhianati suami. Dari yang belum punya anak hingga yang sudah punya anak gagal membina rumah tangga karena khianat cinta. Akibatnya, romantisme hilang melayang karena sirnanya cinta dan kasih sayang.
KDRT adalah sebentuk kegagalan cinta suami istri. Cemburu memang bumbunya cinta. Tetapi, ketika cemburu membabi buta, berpotensi memporak-porandakan cinta dan kasih sayang, melayukan romantisme. Keutuhan cinta tercerai berai. Perceraian pun tidak dapat dihindari. Itulah petaka cinta
Poligami badidiaman sebenarnya kawin badidiaman. Itu petaka cinta bagi seorang istri. Mana mungkin satu cinta tiga hati menghadirkan romantisme. Pameo urang Banjar beristri banyak memberi ruang hadirnya konflik suami istri.
Beristri satu baru belajar, beristri dua adalah wajar, beristri tiga adalah terpelajar, beristri empat baru disebut orang Banjar boleh-boleh saja dijadikan pameo asalkan tidak dijadikan dalil pembenaran, bahwa tuan guru tidak mantap kealimannya jika tidak berpoligami.
Berpoligami bukan soal membanggakan diri, tetapi soal keadilan dan ihsan. Adil segalanya. Adil berbagi cinta dan kasih sayang. Ini bukan soal pengadilan cinta karena khianat cinta tetapi soal romantisme. Ketika sering berdusta tak terelakkan, tidak ada ruang untuk Badamai di hati seorang istri yang dimadu.
Demikianlah. Romantisme, cinta dan kasih sayang adalah kekuatan psikologis. Ada perasaan ingin memiliki seutuhnya. Tidak ingin berbagi cinta. Cinta dan kasih sayang itu anugrah. Romantisme hadir karena bersatunya cinta dan kasih sayang. Dalam subjektivitas cinta ada keabadian cinta. Takkan hilang selamanya sampai datang akhir masa.
Cinta itu soal hati. Soal perasaan. Cinta tidak bisa dipaksakan. Seseorang, entah wanita atau lelaki, berhak melabuhkan cintanya ke mana pun yang dia mau. Diterima atau ditolak menghadirkan konsekuensi psikologis.
Tinggal lagi bagaimana kita menyikapinya jika kita mengalami kegagalan cinta, tertolak atau dikhianati. Lebih baik berbenah diri daripada berputus asa. Bunuh diri juga bukan jalan keluar. Tidak cerdas secara spiritual. Berdosa menurut agama.
Oleh karena itu, janganlah kita berputus asa hanya karena gagal bercinta. Akan tetapi, buatlah orang yang pernah mengkhianati cintamu atau yang pernah menolak cintamu menyesal karena salah mengambil keputusan.
Kegagalan cinta bagian dari kehidupan. Yang mencintai dan dicintai tidak selalu abadi. Cinta itu nisbi. Misterius. Inti cinta adalah perasaan. Perasaan senang dan tidak senang. Ketiadaan kasih sayang karena tidak adanya rasa senang. Romantisme tiada karena ketiadaan cinta dan kasih sayang.
Tetapi ketahuilah, cinta itu tidak dapat didustai. Dia bicara atas nama perasaan. Lidah boleh jadi bisa berbohong tetapi hati selalu jujur tentang cinta.
Pulen cinta. Fluktuasi cinta. Cinta itu baharu. Dalam cinta ada keyakinan. Itulah iman cinta. Iman cinta itu berfluktuasi. Ketika cinta mulai redup, ketika kasih sayang mulai menipis, maka perbaharuilah dengan siraman air romantisme sehingga cinta dan kasih sayang bersemi lagi.
Akhirul kalam, romantisme adalah bumbunya iman cinta. Romantisme mampu membuat kita semakin cinta semakin sayang. Ketika terpisah ada sesuatu yang hilang. Itulah hakikat cinta.
Kalian yang selalu romantis jangan terlena. Waspadalah, siapa tahu dalam waktu dekat ini Anda yang dihampiri petaka cinta. Apakah Anda seorang yang romantis? Jika tidak, maka ada yang tidak beres dengan Anda.
Editor : Arief