Kota Banjarmasin pada masa kolonial Hindia Belanda sempat mendapatkan julukan Venesia dari Timur. Kota ini menurut para ahli bukan kota sungai biasa, ia adalah kota sungai pasang surut.
Kota ini kini mendapatkan predikat sebagai kota seribu sungai, walaupun menurut perhitungan jumlahnya hanya sekitar 200 sungai. Akan tetapi ratusan sungai itu pun bukanlah sungai alami, ia adalah aliran buatan hasil dari kemampuan Urang Banjar yang luar biasa dalam membuat kanal.
Ada tiga tingkatan kanal pada masa itu, ia disebut Anjir, (h)antasan atau (h)andil, dan saka menurut (Bambang Subiyakto, 2010). Pertama, disebut Anjir yaitu saluran primer yang menghubungkan antara dua sungai. Anjir bersifat untuk kepentingan umum dengan titik berat fungsinya untuk sistem pertanian dan transportasi.
Kedua, disebut Handil, merupakan saluran sekunder yang memotong sungai yang berkelok (mehantas). Handil dibuat untuk menyalurkan air ke daerah daratan dan bermuara kembali ke sungai ataupun Anjir. Ukurannya lebih kecil dari Anjir dan lebih bersifat milik kelompok.
Ketiga, disebut Saka merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang biasanya diambil dari Handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari Handil dan bersifat pribadi, milik keluarga. Anjir, Handil dan Saka mempunyai fungsi utamanya sebagai irigasi pertanian dan sebagai prasarana transportasi.
Kanal-kanal buatan tersebut membuat kota ini menjadi terhubung melalui jalur perairan. Itulah mengapa sarana transportasi masa lalu menggunakan jukung, sebuah kapal kecil yang terbuat dari kayu dan hampir setiap rumah memilikinya.
Para ahli menyebut kota ini sebagai kawasan sungai pasang surut. Kota ini akan mulai mengalami pasang pada pukul 10.00 hingga mencapai puncak pasang sekitar pukul 20.00. pasang surut air laut ini memberikan irama dan warna untuk kota ini.
Menurut Marco Kusumawijaya (2023), seluruh aliran air di kota ini yang tersambung ke sungai akan mengalami naik turun bukan saja karena air yang turun dari pegunungan utara dan timur (Meratus), tetapi juga akibat pasang surut air laut uang terjadi setiap hari. Keadaan ini disebut diurnal tidal rivel atau sungai pasang-surut harian. Ketika air laut sedang pasang (naik), maka air sungai dan kanal akan terdorong mengalir kembali ke arah hulu. Ketika air laut surut, air sungai dan kanal akan mengalir sesuai kodratnya yaitu ke hilir.
Pada beberapa saat ketika terjadi perubahan antara pasang ke surut dan sebaliknya, akan terjadi saat tunda yang seimbang, tatakala air sungai dan kanal akan tenang diam tak bergerak. Inilah keindahan irama dari alam. Ia begitu tenang, memberi makna agar manusia ikut belajar.
Masalah saat ini
Saat ini kondisi kanal dan sungai sangat memperihatinkan. Terjadi pendangkalan sungai hingga matinya aliran kanal. Ini semua tentunya karena kita tidak belajar dari Urang Banjar masa lalu, yang memperlakukan sungai seperti halaman rumah mereka, menjadikan aliran air sebagai aliran darah dan jiwa mereka.
Sejak masa kolonial dan awal kemerdekaan giat pembangunan berorientasi kepada daratan, pembangunan jalan darat semakin masif, menyambungkan antar wilayah seiring dengan meningkatnya produksi kendaraan bermotor.
Pertumbuhan penduduk meningkat, wilayah permukiman semakin berkembang. Inilah awal kondisi sungai dan kanal di Banjarmasin mengalami penurunan. Kita mulai meninggalkan sungai dan melakukan aktivitas utama di daratan.
Kondisi sungai dan kanal mulai tersisih, aliran air terjadi pendangkalan, bahkan kanal tidak mengalir, tersumbat, berbau, penuh dengan lumpur dan menjadi sumber bibit penyakit.
Generasi muda tentunya tak ingin lagi hidup dekat dengan aliran sungai apalagi ketika terjadi pasang air laut tinggi disertai dengan curah hujan tinggi di hulu, membawa limpahan air yang besar, membanjiri lahan daratan di sekitarnya. Bencana hidrologi terjadi pada tahun 2021 yang lalu, ketika hampir seluruh kota lumpuh karena banjir.
Kembali ke Sungai
Sungai Martapura bukanlah sungai yang berair jernih, sejak dulu juga demikian. Ia membawa sedimen dari hulu yang memiliki kesuburan, tetapi saat ini kekeruhan Sungai Martapura semakin kental, hal ini mengindikasikan semakin tergerusnya kawasan hulu karena perubahan tutupan lahan akibat dari perkembangan permukiman, perkebunan hingga pertambangan.
Sungai membawa kabar buruk dari hulu, ketika ia mengalirkan sedimen yang besar dan berakhir di muara Sungai Barito, telah tampak pertanda itu, karena di setiap harinya Kapal Keruk Barito Equator yang dioperasikan PT Ambapers harus menyedot sedimen hingga jutaan meter kubik setiap tahunnya. Agar alur pelayaran terjamin dapat dilintasi, agar kapal-kapal dapat berlayar dan tidak kandas, agar sungai tidak dangkal dan memiliki kedalaman minimal -5 LWS.
Padahal Urang Banjar dulu memiliki kearifan lokal agar kita dapat hidup berdampingan dengan sungai, yaitu prinsip manabuk dan malabur (mengeruk dan menguruk). Suatu proses membuat daratan kering dengan menguruk hasil dari memperdalam rawa yang ada di sebelahnya. Sehingga tercipta daratan tanpa mengurangi ruang air di tempat tersebut.
Hal inilah yang sekarang ditinggalkan oleh Masyarakat Banjar, kita hanya mau menguruk, membeli tanah urug dari lokasi yang jauh, dan melupakan untuk mengeruk lahan rawa di sekitar, inilah yang menjadi pangkal Banjarmasin senantiasa banjir ketika hujan lebat dan pasang air tinggi di malam hari. Ruang air untuk menetap semakin kecil, seiring dengan semakin masifnya pembangunan dan perubahan tutupan lahan.
Urang Banjar dulu juga melengkapi prinsip ini dengan membangun rumah bertiang di atas rawa, sehingga tidak diperlukan untuk penimbunan tanah. Walaupun hal ini sebenarnya telah tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2009 yang mewajibkan untuk membangun dengan konstruksi bangunan panggung dengan tidak menghilangkan fungsi resapan air.
Pada kenyataannya masih ditemui pelanggaran dari penerapan Perda ini dan perlu tindakan tegas, karena menguruk lahan akan memperkecil ruang air yang berakibat rentannya terjadi banjir. Kita perlu belajar banyak tentang kearifan lokan Urang Banjar masa lalu dalam hidup di kawasan pasang surut yang dilintasi oleh sungai. Karena kita hidup di wilayah sungai dan kanal buatan, sudah seharusnya kita untuk saling mengenal.
Oleh: Ferry Irawan Kartasasmita
Pemerhati Masalah Sosial dan Tata Kota