Oleh: Sigid Mulyadi
Kepala KPPN Tanjung, Kementerian Keuangan.
Saya kira, kita tentu sudah sering mendengar ungkapan data is the new oil. Istilah ini
pertama kali muncul pada tahun 2006. Yang mengibaratkan betapa berharganya data dalam era
digital. Namun, jika kita menelaah lebih dalam, ada perbedaan mendasar antara minyak bumi
dan data. Minyak bumi adalah sumber daya yang terbatas dan akan habis seiring waktu.
Sementara data terus bertambah, bahkan saat kita tidur. Oleh karena itu, mungkin lebih tepat jika
kita mengatakan bahwa data lebih dari sekadar minyak baru. Ia adalah aset tak terbatas yang
semakin berharga seiring waktu.
Pertanyaannya, apakah kita telah benar-benar mengeksplorasi potensi data ini? Apakah
data sudah memberikan manfaat yang optimal bagi kita? Apakah kita peduli atas hal itu?
Google adalah contoh nyata bagaimana perusahaan mengubah data menjadi sumber
keuntungan besar. Dengan memanfaatkan big data, Google dapat memahami perilaku pengguna
dan mengembangkan berbagai layanan yang relevan. Beberapa startup pun telah menggunakan
data pelanggan untuk memperluas bisnis mereka. Misalnya dari layanan transportasi hingga ke
sektor keuangan berbasis perilaku konsumsi dan profil kredit pengguna.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin memperluas manfaat data. AI
mampu melakukan prediksi, analisis kompleks, hingga membantu perumusan kebijakan berbasis
data.
Saya membayangkan jika selama bulan Ramadan, konsumsi bahan pokok seperti tepung,
beras, gula, dan minyak goreng dapat diprediksi dengan akurat. Dengan data ini, AI dapat
membantu mengelola stok agar inflasi terkendali. Ini bisa memudahkan kerja TPID. Tidak hanya
itu, pola konsumsi ini juga bisa digunakan untuk memperkirakan lonjakan kasus diabetes dan
kolesterol. Sehingga, pemerintah dapat mempersiapkan obat-obatan yang diperlukan dan
menyesuaikan premi asuransi kesehatan.
Di instansi pemerintah, absensi elektronik telah mencatat data kehadiran pegawai. Dari
sini, kita bisa melihat pola kedisiplinan. Kita bisa mengetahui pegawai yang sering datang
terlambat atau sering lembur. Bahkan, analisis lebih dalam bisa mengungkap apakah lembur
benar-benar meningkatkan produktivitas atau justru menunjukkan ketidakefisienan dalam
manajemen kerja. Jika banyak pegawai yang datang terlambat, saya kira perlu ada kebijakan baru, seperti apel pagi setiap hari atau penyesuaian jam kerja agar lebih sesuai dengan pola
kehidupan masyarakat setempat.
Google Mobility juga bisa digunakan untuk melihat pola pergerakan masyarakat saat
akhir pekan. Jika banyak warga berwisata ke luar kota, mungkin pemerintah daerah perlu
mengembangkan lebih banyak tempat rekreasi lokal atau mendorong investasi di sektor
perbelanjaan agar konsumsi tetap berputar di daerah tersebut. Dengan memahami preferensi
masyarakat, kebijakan pembangunan dapat diarahkan agar sesuai dengan kebutuhan nyata warga.
Dari data kunjungan ke puskesmas dan rumah sakit, kita dapat mengetahui penyakit yang
paling banyak diderita masyarakat. Jika satu kecamatan memiliki angka penderita diabetes
tinggi, analisis dapat dilakukan untuk mencari penyebabnya. Apakah karena pola konsumsi
masyarakat, kurangnya edukasi kesehatan, atau faktor lainnya? Dengan demikian, kebijakan
pencegahan dapat dibuat lebih efektif. Data ini juga bisa digunakan untuk menentukan apakah
jumlah dokter umum, dokter spesialis atau tenaga kesehatan sudah mencukupi atau masih perlu
ditambah di wilayah tertentu.
Semuanya kembali pada good will para pemimpin daerah. Bagaimana kita membangun
kesadaran akan pentingnya data dalam pengambilan keputusan? Alih-alih hanya mengandalkan
laporan hasil kajian yang bersifat normatif, mengapa tidak mendorong setiap daerah untuk
menganalisis data mereka sendiri?
Saya membayangkan sebuah inisiatif yang bisa dilakukan, yaitu menyelenggarakan sesi
sharing knowledge mengenai pemanfaatan big data dan AI dalam pemerintahan daerah.
Kegiatan ini bisa dilakukan secara daring dengan narasumber dari universitas yang telah
memiliki jurusan AI, seperti UGM atau Unair. Dalam acara ini, selain pemaparan teori dan
manfaat AI, juga dapat diberikan contoh proyek konkret yang dapat diterapkan di lingkungan
pemerintahan daerah. Diskusi yang lebih mendalam diharapkan dapat membangun kesadaran
dan minat para pemimpin daerah untuk menerapkan kebijakan berbasis data. Dengan adanya
pemahaman yang lebih baik, pemerintah daerah dapat lebih inovatif dalam merancang solusi
berbasis data untuk mengatasi berbagai tantangan yang mereka hadapi.
Pemanfaatan data bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan dalam era digital ini.
Dengan data, kita bisa membangun strategi yang lebih akurat, meningkatkan efisiensi, dan
menghasilkan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Sebagaimana dikatakan oleh Clive Humby,
data memang seperti minyak. Hanya saja, minyak yang harus diolah untuk menghasilkan nilai.
Bagaimanapun data adalah aset yang tidak hanya melimpah, tetapi juga semakin bernilai jika
digunakan dengan bijak.
“Data is the new oil. It’s valuable, but if unrefined, it cannot really be used.” – Clive
Humby.