Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perang Khandaq dan (Refleksi) Puasa Kita

admin • Kamis, 13 Maret 2025 | 04:50 WIB
H Asmu’i Syarkowi
H Asmu’i Syarkowi

          Oleh: H Asmu’i Syarkowi
          Hakim PTA Banjarmasin

Dalam sejarah Islam terdapat satu peperangan yang unik. Perang yang terjadi pada pada 5 Hijriah bulan Syawal ini dikenal dengan perang khandaq. Dinamai khandaq karena karena ummat Islam membuat parit sebagai pertahanan di sepanjang area yang akan dilalui musuh. Lebar parit ini selebar yang tidak memungkinkan kuda yang paling bagus tidak bisa melompatinya. Taktik brilian ini ditempuh berkat usul salah seorang sahabat Salman al-Farisi.

Ide pembuatan parit tersebut semula tentu sangat kontroversial tetapi karena Rasulullah sendiri yang memutuskan, semua kaum muslimin pun akhirnya “sami’na wa atha’na”. Ide ‘gila’ ini muncul karena jumlah musuh yang melebihi ‘ekspektasi’. Sebab, berdasarkan informasi ‘intelejen’, jumlah kaum musyrikin sangat besar. Perang ini akhirnya membuktikan kebenaran kalimat bijak “suatu keadaan yang luar biasa harus disikapi secara luar biasa pula.”

Sebagaimana ditulis dalam “Sirah Nabawiyaan”, secara serentak dari dari arah Selatan telah mengalir pasukan yang terdiri dari Quraisy, Kinanah, dan sekutu-sekutunya dari penduduk Tihamah dan Bani Sulaim di bawah komando Abu Sufyan sebanyak empat ribu prajurit sudah dikerahkan. Dari arah Timur ada kabilah-kabilah Ghatafan, yang terdiri dari Bani Fazarah yang dipimpin Uyainah bin Hishan, Bani Murrah yang dipimpin Al Harits bin Auf, Bani Asyja’ yang dipimpin oleh Mis’ar bin Rukhailah, Bani As’ad dan lain-lainnya. Semua golongan itu bergerak ke Madinah secara serentak. Dalam beberapa hari saja di sekitar Madinah sudah berhimpun pasukan musuh sebanyak sepuluh ribu prajurit. Untuk konteks sekarang formasi pasukan yang terdari dari berbagai elemen itu, dapat disebut pasukan multi nasional. Itulah sebabnya perang ini juga disebut “Perang Ahzab”. Jumlah sebesar itu waktu itu sudah melebihi jumlah seluruh penduduk Madinah, termasuk wanita, anak-anak dan orang-orang tua. Dapat dibayangkan andai jumlah pasukan sebesar itu menyerang secara bersama-sama, secara mate-matika, kaum muslimin di Madinah akan dapat dengan mudah dilumatkan.

Ide sahabat yang bergelar “sang pencari kebenaran” membuat parit ini terinspirasi dari taktik bangsa Persia. Sebagai panglima tertinggi, Rasulullah ternyata menyetujui. Lalu mulailah kaum muslimin di bawah komando Rasulullah SAW, siang malam bekerja menggali parit. Dalam beberapa kitab tarikh ditulis, kaum muslimin membuat parit sepanjang 5.544 meter, lebar 4-5 meter dengan kedalaman l.k 3 meter. Setiap 10 orang mendapat tugas menggali sepanjang 40 meter. Dalam waktu 6 hari, menurut satu riwayat selama 10 hari, sudah tergalilah parit sepanjang hampir 6 kilometer tersebut.

Dengan siasat tersebut beban fisik pasukan kaum muslimin yang jumlahnya memang tidak seimbang itu pun, berkurang. Sebab, pertempuran secara vis a vis terhindari kecuali Sayyidina Ali karramallahu wajhah yang karena ditantang oleh Amr bin Abi Wudd sang ahli pedang kenamaan kaum kafir. Dalam duel itu Sahabat Ali yang masih beliau itu berhasil membunuhnya. Rasulullah dan para sahabat yang lain berada di belakang parit sambil mengamati gerak-garik pasukan musuh sambil terus menghujani panah mereka agar tidak sampai menyeberang parit. Kemenangan Ali yang waktu itu masih belia itu, tampaknya berhasil membuat pasukan lain yang melihat, ciut nyali.


Para ahli tarikh menganggap, bahwa perang khandaq bukanlah termasuk pertempuran hebat tetapi lebih bersifat perang urat syaraf. Dengan pelan tapi pasti pasukan musuh dapat dilumpuhkan. Kesulitan menembus benteng yang tidak biasa mereka hadapi, menyebabkan mereka hanya bisa berkemah dan sesekali berdiri termangu berminggu-minggu. Pada saat yang sama cuaca dingin membuat mereka di samping putus asa banyak di antara mereka yang terserang penyakit malaria.

Keteladanan Rasulullah SAW dan Puasa Kita

Yang menarik dalam perang khandaq ini adalah justru yang terjadi sebelum peperangan dimulai. Yaitu, semangat heroik ketika menggali parit (khandaq). Rasulullah SAW ternyata tidak hanya memberikan komando malainkan terjun langsung berbaur dengan para sahabat ikut menggali parit. Dalam shahih Bukhari disebutkan, dari Sahal bin Sa’ad, dia berkata: “Kami bersama Rasulullah SAW dalam parit sementara orang-orang lain juga sedang giat menggalinya.”

Diriwayatkan dari Al Barra’ bin Azib, sebagaimana ditulis dalam Sirah Nabawiyah (Al-Rahiq al-Makhtum), dia berkata “Kulihat beliau (juga) mengangkuti tanah galian parit, hingga banyak debu yang menempel di kulit perut beliau yang banyak bulunya.” Para sahabat pun banyak yang mendengar doa-doa khusus yang keluar dari lisan mulia Baginda Nabi. Do aitu selain mohon pertolongan Allah juga memberikan motivasi kepada kaum muslimin. Motivasi khusus ini perlu dipompakan tentu bukan tanpa alasan. Keletihan dan kondisi ekonomi yang sulit saat harus bekerja siang malam tentu harus sering melewati rasa lapar yang tidak terperikan. Mengenai hal ini Abu Thalhah pernah berkata “Aku adukan rasa lapar kepada Rasulullah SAW. Lalu kami mengganjal perut dengan batu. (Ternyata) beliau (telah lebih dulu) mengganjal perutnya dengan dua buah batu.”

Terlepas dari berbagai peristiwa, seperti beberapa kejadian luar biasa (mukjizat rasulullah) yang sempat terlihat oleh para sahabat, yang terjadi selama rangkaian perang khandaq ini, sebagai pemimpin rasullah SAW tidak hanya berempati kepada kepedihan sahabat tetapi juga langsung merasakan kepedihan itu. Para sahabat banyak yang lapar, beliau pun juga merasakan secara langsung rasa lapar itu. Yang demikian tentu dapat menginpirasi tidak hanya para pemimpin atau hanya rakyat, tetapi menginspirasi kedua-duanya sekaligus. Bagi para pemimpin, peristiwa itu mengajarkan agar pemimpin tidak hanya menunjukkan empati kepada penderitaan rakyat yang biasanya hanya sebatas retorika di atas panggung. Di balik panggung, semua empati sering sama sekali tidak tercermin selain justru tetap ‘berfoya-foya’ atau berkehidupan ala pejabat dengan segenap hak-hak idealnya. Sedangkan bagi rakyat, pribadi Rasulullah tersebut tentu menginspirasi, jika sang pemimpin saja sudah rela menghibahkan dirinya untuk sebuah tujuan besar, maka tak selayaknya rakyat hanya berpangku tangan. Dan, bagi rakyat yang kebetulan dalam keadaan berada, mestinya malu jika hidup bermewah-mewah saat pemimpinnya menunjukkan kesederhanaan.

Lantas, apa hubungannya dengan puasa kita. Puasa kita yang hanya menahan lapar di siang hari, tentu sangat belum sebanding dengan rasa lapar yang mendera baginda Nabi Muhammad SAW dan para sahabat saat berjihad di jalan Allah. Rasa lapar puasa kita tidak sampai harus mengganjal perut dengan batu. Rasa lapar yang hanya sehari itu sering harus berubah menjadi kekenyangan di sore hari yang dimulai saat berbuka. Bahkan, puasa kita sering justru mengubah hidup kita “berglamour ria”. Kebiasaan mengada-ada saat mempersiapkan menu buka puasa, menjadi salah satu contohnya. Puasa kita, seolah juga hanya mengubah siklus makan dari siang hari ke malam hari saja. Ironisnya, kebiasaan demikian harus berlangsung selama sebulan penuh dan mencapai puncaknya saat mempersiapkan menghadapi lebaran. Intinya, puasa yang ‘barmakna hakikat’ “al imsak” (menahan diri) itu, sering tidak tercermin, jangan di luar bulan Ramadhan, dalam bulan Ramadhan pun nyaris sama sekali tidak terlihat. Pada saat yang sama, produktivitas kita justru menurun. Kantor pemerintah, sebagian toko, dan sekolah seolah wajib hukumnya mengurangi jam kerja/sekolah dengan alasan menghormati bulan Ramadan atau orang yang sedang berpuasa. Sangat jauh dari produktivitas pasukan khandaq yang meskipun bukan di bulan puasa, kepedihan lapar yang nendera melebihi Ramadan kita. Wallahu a’lam.

Editor : Arief
#Opini