Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bang Rizal di Mata Jurnalis

Jamaluddin Radar Banjarmasin • Rabu, 26 Februari 2025 | 09:47 WIB

Photo
Photo

       Oleh: Jamaluddin
       Jurnalis Radar Banjarmasin,
       Bertugas di Hulu Sungai Tengah

PADA tahun 2021, PDAM Hulu Sungai Tengah—berganti nama menjadi PT Air Minum Murakata Lestari—digoyang kasus korupsi.

       ****
Kasusnya berhubungan dengan pengadaan bahan ilmiah tawas. Direktur perusahaan pelat merah tersebut kongkalikong dengan penyedia barang.

Wartawan di HST ramai meliput kasus ini. Bolak-balik mengkonfirmasi ke kejaksaan, bertanya tentang perkembangan kasus.

Waktu itu, saya punya hubungan baik dengan salah seorang jaksa penuntut umum. Saya mendapat banyak "bahan" eksklusif untuk diulas menjadi berita.

Tak hanya dengan jaksa, saya juga kenal baik penasihat hukum (PH) dari pihak swasta tersebut. Kami sering berkomunikasi, jauh sebelum kasus ini bergulir.

Sebagai wartawan, saya mencoba memposisikan diri agar tidak ada konflik kepentingan. Saya berusaha memberitakan keduanya dengan porsi berimbang.

Kasus inilah yang menjadi pintu perkenalan saya dengan Samsul Rizal atau akrab disapa Bang Rizal. Bupati HST yang telah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 20 Februari 2025 di Istana Negara Jakarta.

Saat itu Bang Rizal masih aktif menjadi anggota TNI Angkatan Darat. Ia bertugas di seksi intelijen Kodim 1002/HST. Bang Rizal pernah meminta agar terus mengawal (memberitakan) kasus korupsi PDAM sampai putusan sidang.

Bang Rizal memandang pers memiliki dampak penting dalam membentuk opini publik. Saya ingat perkataannya kala itu.

Kurang lebih begini, "Setiap kasus yang sudah naik berita maka akan mendapat perhatian dari masyarakat luas.”

Saya anggap ucapannya benar. Karena salah satu tugas media mainstream adalah membentuk opini publik. Memberikan pandangan lain atas satu peristiwa atau sebuah kasus kepada khalayak.

Ini senada dengan yang disampaikan wartawan senior Aqua Dwipayana dalam bukunya berjudul "Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi".

Dalam strategi komunikasi, media punya pengaruh kuat. Dalam menyampaikan pesan dan mendeskripsikan sebuah peristiwa secara rinci.

Bahkan ada anggapan di masyarakat yang menyebut, “Hitam kata media, hitam pula kata masyarakat. Putih kata media, putih pula di masyarakat.”

Seorang jenderal perang Perancis bernama Napoleon Bonaparte juga mengaku lebih takut terhadap pena yang menghasilkan tulisan dari pada meriam sekalipun.

Bagi saya, media yang menyajikan berita berkualitas, apalagi memiliki nama besar, tentu akan lebih mudah dalam mempengaruhi opini publik.

Saya membaca pernyataan itu sebagai sebuah angin segar. Saya berhuznuzan bahwa Bang Rizal tidak memiliki masalah atau anti dengan keberadaan wartawan. Justru dia perlu media dan wartawan (bukan wartawan “bodrek”).

Apalagi dengan jabatan publik pertama yang diembannya. Perlu polesan media guna membentuk karakter dan citra yang baik di masyarakat.

Saya teringat ucapannya saat pertemuan terbatas di masa-masa kampanye lalu. Bahwa ia ingin "membanjiri" namanya di mesin pencarian Google saat netizen memasukkan kata kunci HST.
Ia berharap yang muncul adalah sosok Bang Rizal dengan program-program yang akan dan telah dikerjakan.

Sekecil apapun programnya, dengan pemberitaan yang massif maka program tersebut akan “membesar”. Hal ini yang saya baca dari maksud pernyataan itu.

Maka sejak saat ini, sosok Bang Rizal telah menjadi newsmaker. Apa saja yang ia ucapkan bakal menjadi pemberitaan bagi media khususnya di HST.

Saya beharap, Bang Rizal mau meladeni doorstop atau wawancara cegat. Sebab tradisi ini sudah hilang dalam beberapa tahun terakhir.

Sama seperti saat-saat kampanye dulu. Selalu meladeni permintaan wawancara wartawan yang meliputnya. Bahkan bersedia ditemui di posko tim pemenangan.

Sekali lagi, saya berharap beliau menjadi pejabat yang tidak anti kritik serta tidak memandang wartawan sebagai benalu.

Harmonisasi Eksekutif dan Legislatif

Saat berlaga di Pilkada HST 2024 lalu, Bang Rizal berpasangan dengan Gusti Rosyadi Elmi. Didukung koalisi besar yang diisi Partai Golkar, Gerindra, Nasdem, PPP, PKS, PAN.

Koalisi ini memiliki 24 kursi dari 30 kursi di DPRD HST. Dukungan dewan akan memutus stigma negatif di masyarakat tentang hubungan “panas dingin” eksekutif dan legislatif selama ini.

Tidak ada lagi rapat paripurna yang hanya dihadiri wakil bupati melulu. Tak ada lagi rapat paripurna yang batal karena dewan gagal mencapai kuorum. Harmonisasi keduanya akan membawa dampak positif.

Artinya aspirasi dan program keduanya bisa berjalan beriringan, seirama dan serasi. Saya optimistis akan ada perubahan yang menyentuh langsung ke masyarakat.

Salah satu program unggulan yang akan digas tahun ini adalah bedah rumah 1.000 unit. Sesuai janji Bang Rizal saat masa kampanye Pilkada.

Program ini selaras dengan program bedah rumah nasional dengan target 3 juta rumah. Menjadi program unggulan Presiden Prabowo bersama program makan bergizi gratis (MBG) dan medical check up gratis (PKG).

Jadi, sepulang dari retret di Akmil Magelang, pekerjaan pertama Bang Rizal adalah “mendamaikan” eksekutif dan legislatif. Kebersamaan dibutuhkan, lebih-lebih di tengah situasi sulit akibat efisiensi.

Editor : Arief
#Opini #hulu sungai tengah #Bang Rizal