“Bukan seorang arif itu, orang yang bila ia menunjuk sesuatu, ia merasa bahwa Allah lebih dekat kepadanya daripada isyarat-Nya. Tetapi orang arif itu ialah yang tidak mempunyai isyarat, karena merasa lenyap diri dalam wujud Allah, dan diliputi oleh pandangan (syuhud) kepada Allah”. -Hikmah ke-75 Al-Hikam Al-Atha’iyyah dari Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah.
Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa orang arif itu ada yang permulaan, pertengahan, dan sempurna. Orang arif masih permulaan adalah orang yang merasakan keberadaan Allah itu lebih dekat kepada dirinya dari segala sesuatu. Dia merasakan adanya Allah itu lebih dekat kepadanya dirinya dari tiap-tiap sesuatu. Bahkan adaikata dia mengisyaratkan kepada sesuatu, maka dia merasakan Allah itu lebih dekat kepadanya dari isyaratnya itu.
Itulah tanda-tanda orang yang dibukakan oleh Allah pintu makrifat. Dia akan merasakan keberadaan Allah itu sangat dekat dengan dirinya, lebih dekat dengan urat lehernya itu sendiri dari dirinya.
Andaikata kita bisa seperti itu, maka sudah luar biasa, karena kita merasakan bahwa Allah sangat dekat dengan kita lebih dekat daripada yang dekat.
Tetapi ini pun dikatakan belum sempurna, masih permulaan, mengapa? Karena dia masih menganggap ada sesuatu selain Allah. Buktinya apa? Buktinya dia menganggap Allah itu lebih dekat dari “sesuatu” kepada dirinya. Berarti dirinya ada.
Di sini, dia masih dianggap permulaan karena masih merasakan adanya diri dan sesuatu yang lain. Walaupun ini sudah mantap dan luar biasa, karena orang ini sudah merasakan bahwa Allah sangat dekat dengan dirinya, dan orang yang seperti ini sudah nampak sifat-sifat mulia di dalam dirinya.
Orang seperti ini tidak akan mau berbuat mungkar secara sengaja, karena dia merasa Allah sangat dekat. Orang seperti hatinya akan selalu bersih dari sifat-sifat tercela, tutur katanya hati-hati, matanya hati-hati, pendengarannya sudah hati-hati karena merasakan Allah sangat dekat. Walaupun dianggap orang arif yang baru permulaan, ini pun sudah luar biasa dan akhlaknya luar biasa.
Kenapa kita mau berbuat mungkar dan hati kita masih suka sombong dan dengki, karena kita tidak merasakan dekatnya Allah itu. Jadi, kalau kita sudah merasakan Allah itu dekat, maka sudah habis sifat-sifat tercela di dalam hatinya. Sudah tidak ada lagi akhlak-akhlak buruk di dalam tutur kata dan tingkah lakunya.
Orang arif berada di puncak makrifat itu adalah orang yang apabila dia mengisyaratkan kepada sesuatu, maka dia tidak merasa dan tidak menyaksikan isyaratnya sendiri. Dia hilang daripada melihat dirinya dalam musyahadah kepada Allah SWT.
Jadi, kalau orang yang benar di puncak makrifat itu, dia tidak melihat dan merasa lagi ada sesuatu selain Allah SWT. Bahkan tidak merasakan adanya dirinya sendiri.
Bagi orang arif ini ada tiga keadaannya. Pertama, At-Tafriqah adalah orang yang menyaksikan sesuatu itu miliknya Allah, dan dia menyaksikan Allah itu sangat dekat kepada sesuatu itu lebih dekat dari yang paling dekat.
Jadi, ini sebabnya kenapa orang ini dikatakan masih pemula, karena orang ini masih banyak rasa selain Allah. Dia masih merasa ada dirinya, dia masih merasa ada sesuatu, dan dia merasa Allah itu ada. Masih banyak rasa-rasa itu, walaupun dia merasakan Allah Ta’ala itu sangat dekat kepadanya.
Makam tafriqah ini adalah makamnya orang arif yang pertama, dalam surah Al-Fatihah diisyaratkan: “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah”
Jadi, ada “kami”, ada “engkau”, ada “sembah”. Meski kita sudah menyaksikan bahwa segala sesuatu adalah miliknya Allah, dan kita menyaksikan bahwa Allah itu sangat dekat kepada miliknya, lebih dekat dari segala yang dekat. Inilah arif di tingkatan yang pertama.
Kedua, keadaan orang arif itu, Al-Jam’u (jamak) adalah bahwa dia menyaksikan sesuatu itu tidak terlepas dari Allah. Menyaksikan sesuatu itu tidak terlepas dari Allah. Ini disebutkan dalam surah Al-Fatihah:“dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.
Merasa saja diri ini ada, tetapi tidak ada daya upaya kalau tidak ditolong Tuhan. Ini sudah tergolong orang arif yang nomor dua tingkatannya. Dia menyaksikan sesuatu apapun itu tidak terlepas dari Allah. Tidak terlepas itu lebih hebat dari dekat, karena dekat itu relatif.
Artinya, apapun yang ada di dalam alam semesta ini tidak terlepas dari Allah di dalam penyaksiannya. Ambil contoh batu, maka kita melihat batu itu tidak terlepas dari kudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar, kalamnya Allah.
Adakah di alam ini yang tidak termasuk di dalam semua itu? Maka dari itu kalau melihat sesuatu maka sesuatu itu tidak terlepas dari Allah SWT.
Ketiga, adalah orang yang paling sempurna disebut Jam’ul Jamak adalah orang yang tidak melihat sesuatu itu. Yang dilihatnya adalah Pencipta sesuatu itu.
Sebelum dia melihat itu apa, Allah sudah dahulu melihatnya. Sebelum dia menentukan itu laki-laki atau perempuan, Allah sudah lebih dahulu muncul ada di hatinya. Ini adalah orang yang luar biasa. Al-Jam’u Al-jama’ nama kedudukannya ini adalah tingkatan orang arif yang paling tinggi.
Jadi, makrifat kepada Allah merupakan suatu kedudukan yang paling tinggi diberikan Allah kepada manusia di alam dunia ini. Titel yang paling tinggi di sisi Allah bagi manusia itu adalah makrifat, tidak ada titel/jabatan apapun yang melebihi makrifat dengan Allah. Karena sangat hebat, mulia, dan mantapnya kedudukan yang dinamakan makrifat itu hanya sedikit sekali manusia ingin mencapainya.
Jadi, di dalam dunia itu ada surga. Barang siapa yang masuk ke surga dunia itu tidak akan ingin lagi ke surga akhirat yaitu Makrifatullahi Ta’ala.
Orang yang ingin makrifat di dalam hati, berarti kita sudah punya cita-cita yang tinggi. Punya himmah tinggi di dalam hati, maka ini sudah tergolong orang yang baik dan mulia. Baru ingin saja. Karena ada yang tidak ingin makrifat, tidak tertuju ke sana pikirannya. “Maka tidak boleh tidak mesti belajar dahulu ilmu bermanfaat yang bisa dia menunaikan dengannya ibadah”.
Seperti belajar fiqih terlebih dahulu agar sembahyang sah, wudunya sah dan amal-amal lainnya sah. Kemudian, belajar lagi ilmu-ilmu sifat nafsu batin. Untuk mengetahui penyakit-penyakit hati dan mengenali diri. Apakah diriku ini sombong apa tidak, ganti dengan tawadu. Apakah diriku ini riya, diganti dengan ikhlas. Apakah diriku ini cinta dunia, ganti dengan zuhud. Pelajarilah ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan hati.
Namun, sebelumnya terlebih dahulu mempelajari akidah Ahlu As-Sunnah wa Al-Jama’ah. Lima puluh akidah, apa saja yang wajib dan mustahil bagi Allah, bagi Rasul, bagi malaikat dan yang harusnya apa-apa saja. Maka pelajarilah terlebih dahulu itu agar kita selamat daripada menggambarkan yang rusak-rusak. Nanti kalau tidak belajar bisa membayangkan Allah itu seperti ini dan itu, maka menjadi rusak.
Maka pelajari dahulu, ilmu lima puluh akidah, baru fiqih dan kemudian ilmu batin/hati untuk membuang sifat-sifat yang tidak baik dan memperhiasi dengan sifat yang baik. Demikian itu jalannya para penghulu sufi, dibina atas menuntut ilmu, dan perbanyak zikir dengan hadirnya hati.(*)
Editor : Arief