Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Melestarikan Pasar Terapung Melalui Pendidikan IPS

M. Syarifuddin • Jumat, 17 Januari 2025 | 09:36 WIB
Sigit Triyono
Sigit Triyono

      Oleh: Sigit Triyono
      Dosen FKIP ULM Banjarmasin

Pasar terapung, yang ada di Kota Seribu Sungai yakni kota banjarmasin dan kabupaten Banjar merupakan salah satu ikon budaya dan pariwisata Kalimantan Selatan. Keberadaan pasar terapung ini tidak hanya menjadi bukti warisan budaya masyarakat Banjar dan Banjarmasin, tetapi juga mencerminkan cara hidup tradisional yang beradaptasi dengan lingkungan geografis berupa sungai-sungai besar seperti Sungai Barito dan Sungai Martapura.

Secara historis, pasar terapung berkembang sebagai pusat perdagangan yang memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi utama. Dalam masyarakat Banjar tradisional, sungai berfungsi sebagai nadi kehidupan, baik untuk aktivitas sehari-hari seperti mandi, mencuci, hingga sebagai sarana penghubung antar wilayah. Pedagang dan pembeli bertemu di atas perahu kecil atau "jukung" untuk melakukan transaksi barter, yang kemudian berkembang menjadi transaksi tunai seiring dengan modernisasi.

Pasar terapung bukan hanya tempat ekonomi, tetapi juga memiliki nilai sosial dan budaya yang tinggi. Tradisi barter yang dikenal sebagai "bauntung" melambangkan hubungan erat antarindividu dan komunitas di sekitarnya. Lebih dari itu, pasar ini juga mencerminkan kearifan lokal masyarakat Banjar yang mampu memanfaatkan kondisi geografis dan lingkungan alam untuk menopang kehidupan mereka.

Dalam konteks pariwisata, pasar terapung menjadi daya tarik utama yang mendatangkan wisatawan domestik maupun internasional. Aktivitas pasar yang dimulai pada dini hari, suasana autentik dengan perahu-perahu penuh warna, serta keanekaragaman produk lokal seperti hasil bumi, makanan tradisional, hingga kerajinan tangan, menjadikan pasar terapung sebagai pengalaman yang unik dan tak tergantikan. Pemerintah setempat, bersama pelaku usaha dan masyarakat, juga terus berupaya melestarikan pasar terapung ini sebagai warisan budaya yang tetap relevan di tengah arus modernisasi.

Namun, keberlangsungan pasar terapung menghadapi tantangan besar, seperti perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung beralih ke pasar darat dan pusat perbelanjaan modern, hingga masalah lingkungan akibat sedimentasi sungai dan polusi. Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara pemerintah, akademisi, pelaku pariwisata, dan masyarakat lokal untuk menjaga kelestarian pasar terapung sebagai identitas budaya Banjarmasin.

Sebagai simbol kehidupan masyarakat sungai dan daya tarik wisata budaya, pasar terapung tetap memiliki peran strategis dalam menghubungkan nilai tradisi dengan kebutuhan ekonomi dan sosial masyarakat masa kini.

Keberadaan pasar terapung di Banjarmasin yang kini menghadapi tantangan keberlanjutan tidak dapat dilepaskan dari dampak pembangunan perumahan yang semakin masif di kawasan sungai dan sekitarnya. Pembangunan perumahan, terutama di daerah bantaran sungai, membawa perubahan signifikan pada pola hidup masyarakat serta ekosistem sungai itu sendiri.

Salah satu dampaknya adalah penyempitan badan sungai akibat sedimentasi dan limbah domestik yang berasal dari perumahan serta masif nya pembangunan perumahan di wilayah darat. Dalam kondisi ini, masyarakat mulai beralih ke pasar darat yang lebih mudah diakses, seiring dengan peningkatan infrastruktur darat yang mendukung gaya hidup modern.

Selain itu, pola tata ruang yang tidak terencana dengan baik dalam pembangunan perumahan sering kali mengabaikan fungsi ekologis sungai. Kawasan yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas pasar terapung kini beralih menjadi kawasan perumahan atau komersial, sehingga mengurangi ruang yang dapat digunakan oleh pedagang dan pembeli di atas sungai. Akibatnya, aktivitas pasar terapung semakin terdesak dan kehilangan daya tariknya, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

Fenomena perpindahan pasar dari sungai ke darat mencerminkan pergeseran sosial budaya masyarakat yang dulunya sangat bergantung pada sungai. Hal ini juga menunjukkan bagaimana pembangunan yang tidak berkelanjutan dapat mengikis warisan budaya yang telah lama menjadi identitas suatu komunitas. Dalam konteks pasar terapung, modernisasi melalui pembangunan perumahan telah berkontribusi pada perubahan gaya hidup masyarakat Banjar, dari yang berorientasi sungai menjadi berorientasi darat.

Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis untuk menyeimbangkan pembangunan perumahan dengan pelestarian budaya lokal seperti pasar terapung. Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu mengintegrasikan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam perencanaan tata ruang, termasuk memastikan bahwa fungsi sungai tetap terjaga sebagai pusat aktivitas masyarakat. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga warisan budaya dan ekosistem sungai perlu terus digalakkan, agar nilai-nilai lokal tetap relevan di tengah arus modernisasi.

Pasar terapung sebagai bentuk kearifan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi model pembelajaran dalam Pendidikan IPS di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat dasar, menengah, hingga atas. Di tingkat pendidikan dasar, pembelajaran dapat diarahkan untuk menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal melalui metode experiential learning, seperti membuat miniatur pasar terapung atau bermain peran sebagai pedagang dan pembeli. Guru juga dapat mengenalkan fungsi pasar terapung dalam kehidupan masyarakat secara kontekstual, seperti sebagai tempat transaksi, interaksi sosial, dan pelestarian budaya, yang dapat diintegrasikan dengan mata pelajaran seni budaya. Pendekatan ini bertujuan agar anak-anak mengenal dan mencintai budaya lokal sejak dini.

Pada tingkat pendidikan menengah, pembelajaran difokuskan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang aspek sosial, ekonomi, dan budaya pasar terapung. Metode project-based learning dapat diterapkan, di mana siswa bekerja dalam kelompok untuk meneliti bagaimana pasar terapung mendukung ekonomi lokal. Kegiatan ini dapat diperkaya dengan diskusi dan debat mengenai dampak modernisasi terhadap pasar terapung serta solusi untuk menjaga kelestariannya. Kunjungan lapangan ke pasar terapung juga dapat dilakukan agar siswa mempelajari langsung aktivitas ekonomi dan interaksi sosial yang terjadi di sana. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan pemahaman siswa mengenai pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah tantangan modernisasi.

Di tingkat pendidikan atas, pembelajaran diarahkan untuk mengembangkan kemampuan analisis kritis dan solusi kreatif terkait pelestarian pasar terapung. Siswa dapat menganalisis studi kasus mengenai permasalahan yang dihadapi pasar terapung, seperti persaingan dengan pasar modern dan dampak lingkungan, serta menciptakan simulasi ekonomi pasar terapung di sekolah. Selain itu, siswa dapat dilibatkan dalam penyusunan materi ajar dalam pelestarian atau kampanye kesadaran untuk melibatkan masyarakat dalam upaya pelestarian budaya ini. Dengan strategi ini, siswa diharapkan memiliki wawasan luas, mampu memberikan solusi inovatif, dan menjadi agen perubahan yang mendukung keberlanjutan pasar terapung.

Untuk mendukung keberhasilan pembelajaran ini di semua tingkatan, pasar terapung dapat diintegrasikan dengan Kurikulum Merdeka sebagai tema lintas disiplin yang relevan dengan Profil Pelajar Pancasila, seperti berkebinekaan global dan mandiri. Media digital juga dapat dimanfaatkan untuk membuat bahan ajar interaktif, seperti video dokumenter, infografis, atau virtual tour pasar terapung. Selain itu, kolaborasi dengan komunitas lokal, seperti mengundang pedagang pasar terapung untuk berbagi cerita, dapat menciptakan pembelajaran yang lebih otentik. Dengan pendekatan ini, pasar terapung tidak hanya dilestarikan sebagai budaya lokal, tetapi juga menjadi sarana pendidikan yang membentuk generasi penerus yang cinta budaya dan memiliki keterampilan berpikir kritis.

Pasar terapung, sebagai wujud kearifan lokal khas Indonesia, tidak hanya menjadi warisan budaya yang kaya, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dalam pembelajaran IPS di berbagai jenjang pendidikan. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang aspek sosial, ekonomi, dan budaya, tetapi juga mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai lokal yang perlu dilestarikan di tengah arus globalisasi. Pendidikan dasar, misalnya, dapat memanfaatkan pasar terapung sebagai tema pembelajaran yang menarik, di mana siswa diajak untuk memahami fungsi dan pentingnya pasar ini dalam kehidupan masyarakat. Pendekatan berbasis pengalaman, seperti membuat miniatur atau bermain peran, memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memperkuat rasa cinta terhadap budaya lokal sejak usia dini.

Pada tingkat pendidikan menengah, pembelajaran dapat diperluas dengan melibatkan siswa dalam kegiatan yang mendorong kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi. Misalnya, siswa dapat melakukan proyek kelompok yang berfokus pada pengamatan langsung terhadap pasar terapung, seperti pola interaksi sosial di dalamnya atau dampaknya terhadap ekonomi lokal. Diskusi dan debat dapat memperdalam pemahaman siswa tentang tantangan yang dihadapi pasar terapung akibat modernisasi, termasuk perubahan preferensi masyarakat yang lebih condong pada pasar modern. Dengan kunjungan lapangan, siswa juga dapat mengeksplorasi nilai-nilai sosial dan budaya yang melekat pada pasar terapung, seperti gotong royong, kesederhanaan, dan keberagaman. Hal ini tidak hanya memperluas wawasan mereka tetapi juga memperkuat keterampilan komunikasi dan analisis.

Pada jenjang pendidikan atas, pembelajaran tentang pasar terapung dapat diarahkan untuk membangun keterampilan siswa dalam menganalisis masalah dan memberikan solusi kreatif. Studi kasus tentang dampak modernisasi terhadap keberlangsungan pasar terapung menjadi pendekatan yang relevan. Siswa dapat merancang simulasi ekonomi berbasis pasar terapung di sekolah untuk memahami dinamika perdagangan dan interaksi sosial. Selain itu, mereka juga dapat dilatih untuk menyusun proposal pelestarian atau kampanye kesadaran yang melibatkan masyarakat dan pemerintah. Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran bahwa pelestarian pasar terapung tidak hanya menjadi tanggung jawab individu tetapi juga memerlukan kolaborasi berbagai pihak, termasuk generasi muda sebagai agen perubahan.

Untuk mendukung keberhasilan pembelajaran ini, pendekatan berbasis teknologi perlu dikembangkan, seperti penggunaan media digital dalam pembelajaran. Guru dapat membuat video dokumenter, virtual tour, atau infografis tentang pasar terapung yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan siswa. Kolaborasi dengan komunitas lokal, seperti pedagang atau pelaku seni yang terlibat di pasar terapung, juga dapat memberikan wawasan langsung yang autentik. Dengan integrasi pasar terapung dalam pendidikan IPS, siswa tidak hanya dibekali pengetahuan konseptual tetapi juga nilai-nilai kebangsaan yang mendalam. Hal ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga berakar kuat pada budayanya, menjaga keberlanjutan tradisi lokal di tengah arus perubahan zaman.

Pasar terapung, sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang unik, memiliki potensi luar biasa untuk diintegrasikan dalam pembelajaran IPS sebagai model edukasi berbasis kearifan lokal. Dengan mengangkat pasar terapung ke dalam kurikulum, siswa tidak hanya mempelajari konsep sosial, ekonomi, dan budaya, tetapi juga mendapatkan pengalaman nyata yang memperkuat nilai-nilai kebangsaan. Pendekatan ini mendorong generasi muda untuk mencintai tradisi, berpikir kritis, dan mencari solusi kreatif dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal. Dengan demikian, pasar terapung bukan sekadar ikon budaya, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi dengan pendidikan modern, melahirkan generasi yang cerdas, berakar pada budaya, dan siap menghadapi tantangan global

 

Editor : Arief
#Opini