Kita mengenal sosok-sosok perempuan pejuang bangsa Indonesia saat menerima pelajaran dari sekolah. Selain Raden Ajeng Kartini, kita juga mengenal pejuang kemerdekaan, seperti Cut Nyak Dien, Martha Christina Tiahahu dan lainnya. Dengan gigih berani – bukan hanya konsep pemikiran dan tindakan saja– namun kecintaannya pada bangsa dan negara ini dengan berani mengorbankan jiwa dan raganya.
Oleh: TEGUH PAMUNGKAS
Penyuluh Keluarga Berencana
Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Selatan
Demikian pula dalam keluarga. Ada sosok perempuan pejuang rumah tangga. Dalam menjalani hidup, keberadaan ibu di dengan berbagai kondisi memiliki peran penting dalam keberlangsungan kehidupan keluarga dan sosial. Pada aktivitas sosial, ibu mengajarkan perbuatan-perbuatan baik dalam tindakan dan perilaku kehidupan sesama manusia serta lingkungan di tempat tinggalnya.
Di balik semua peran ibu di luar rumah, sosok perempuan (ibu) tetaplah seorang figur bagi anak-anaknya dalam kehidupan keluarga. Pesonanya membekas, didikan ibu tertanam di benak yang terdalam. Lantas, seperti apa pengaruh kehadiran ibu dalam keluarga?
Perempuan yang ada di rumah adalah sosok yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Ia dikenal dengan semangat dan pendiriannya yang kuat dalam menjalani segala aktivitas kehidupan. Ibarat pohon dengan akar terhujam kuat. Tetap kokoh tatkala alam mendatanginya pada kondisi apapun, entah angin, hujan maupun kemarau, demi mewarnai keluarga.
Tidak ada hal yang tidak bisa dilakukan olehnya. Semua bisa dilakukan, mulai dari pekerjaan yang penuh ketelitian, kelembutan bahkan pekerjaan yang berat pun tak jarang ia lakukan. Dengan penuh kesabaran dilakoninya untuk eksistensi kehidupan keluarga.
Bukan hanya sampai di situ saja, pun dunia perbelanjaan sudah mahir dilakukan, aksi tawar menawar harga suatu barang guna memenuhi kebutuhan logistik keluarga menjadi kebiasaan yang lumrah. Mau semahal apapun barang tersebut, terus dicobanya untuk menawar sampai terbangun kesepakatan harga antara penjual dan pembeli, jika memang barang itu diperlukan di rumah. Kepiawaiannya mengatur sirkulasi finansial rumah tangga tak usah diragukan lagi, bisa ia tangani hingga roda kehidupan mampu berputar dengan baik.
Jika kita mau menelusuri perjalanan hidup, hakikatnya kehidupan kita yang sekarang diperoleh tidak bisa lepas dari peran perempuan. Tak jarang seseorang merasa sukses dan berhasil namun ternyata ia mengabaikan kehadiran orangtuanya. Padahal karena jasa seorang ibulah di mana telah mengantarkan anaknya menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas.
Surga berada di telapak kaki ibu, begitu sebuah pepatah mengatakan. Karena beliau kita mengetahui pendidikan akhlak dan moral. Seorang ibu mengajarkan kita pembentukan mental dan spitual serta dari perjuangan ibu kita menjadi manusia-manusia yang cerdas dan berpendidikan. Jangan sekali-kali kita melupakan doa, motivasi dan restu yang diberikannya (Teguh Pamungkas, 2021).
Di kehidupan rumah tangga atau keluarga lain, tak jarang sosok ibu menjalani peran ganda sekaligus, yakni sebagai kepala keluarga dan pengayom atau pendidik keluarga. Status single parent -bercerai hidup atau bercerai meninggal- tidak melemahkan fisik dan mental, meskipun tanpa ada sosok suami. Tetap berjuang demi keluarga tanpa mengeluh dan rasa lelah menjalani kehidupan hanya bersama anak-anaknya.
Ia tetaplah ibu bagi anak-anaknya. Meski dirasa sulit, namun tetap berpijak mengarungi bahtera rumah tangga dengan keoptimisan. Tak kenal kata menyerah demi anak, segala diperjuangkan demi mengantarkan masa depan anak. Kalimat yang mudah diucap, namun tak mudah untuk dijalani oleh seseorang.
Di belakang laki-laki sukses ada peran sang motivator, yakni istri atau ibu dari anak-anaknya. Ia yang telah memberikan rasa aman dan kasih sayang kepada keluarga. Cintanya dalam keluarga tidak sebatas perasaan, tetapi berimplementasi pada pemeliharaan, perhatian, saling menghargai dan tanggung jawab.
Dengan loyalitas mengantarkan ayah dari anak-anaknya pada prestasi dan kemandirian, tiada henti mendukung kemajuan bagi pasangannya. Berkat keselarasan yang dibangun antara suami dan istri, arah perjalanan keluarga semakin jelas dan terencana. Tanpa lelah menumbuhkan nuansa harmonisasi antara pasangan hidup beserta anak-anak di rumah tangga.
Berbangga hatilah kita memiliki perempuan-perempuan hebat. Orangtua yang telah rela memperjuangkan hidupnya demi nasib kita, ikhlas dalam mengasuh dan mendidik. Pasangan hidup yang tidak bosan-bosannya memotivasi untuk perjalanan keluarga. Mereka perempuan pahlawan bagi keluarga, berjuang dengan sepenuh hati demi kondusivitas dalam keluarga.
Dari kelembutan hati dan keanggunan laku, semua itu bermuara. Di dalamnya terkandung berjuta-juta potensi menerangi keluarga. Betapa besarnya kontribusi perempuan dalam membangun sebuah peradaban. Bahwa kaum perempuan dengan eksistensi membuktikan diri bahwa kehadirannya penting bagi kehidupan dan peradaban umat manusia. Kehadiran ibu mengajarkan tetang banyak hal.
Di akhir tulisan ini saya mengutip pesan Buya Hamka, yang katanya “Cermin yang paling jujur adalah mata seorang ibu”.
Terima kasih ibu...