Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Dimuliakan atau Terusir

M. Syarifuddin • Jumat, 13 Desember 2024 | 04:10 WIB
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel

“Apabila engkau ingin mengetahui kedudukan/nilai engkau di sisi Allah maka tengoklah pada apa Allah menempatkan engkau.” - Hikmah ke-71 dari Al-Hikam Al-atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah.

        Oleh: H. Muhammad Tambrin
        Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa kita bisa mengetahui diri sendiri. Mengingat di dalam diri itu ada tanda-tanda. Bila kita sudah memeriksa diri, sepertinya diri kita sudah tergolong di dalam ahli iman, karena dengan Tuhan percaya, dengan Rasulullah tunduk.

“Apabila engkau ingin mengetahui, apakah diri engkau itu ahli iman yang dimuliakan oleh Allah, atau ahli iman yang terusir dan dijauhkan oleh Allah”.

Ahli iman yang dimuliakan ini artinya bisa masuk surga tanpa hisab. Sedangkan ahli iman yang terusir ini bisa saja masuk surga, tapi melalui azab sebelumnya.

Bila engkau ingin mengetahui itu maka tengoklah diri. “Apabila engkau menjunjung perintah Allah, dan menjauhi larangan Allah. Selalu bersegera kepada hal-hal diridai oleh Allah, dan mencintai orang-orang yang dicintai Allah maka berarti engkau termasuk ahli iman dimuliakan”.
Artinya kita bisa masuk surga tanpa susah dan diazab sebelumnya.

Koreksi diri selama ini, ada perintah Allah, laksanakan kata Tuhan, kita melaksanakannya atau tidak? Apabila jawabnya iya, berarti kita ahli iman yang dimuliakan Allah. Bilamana jawabnya tidak, perintah Allah ditinggalkan, larangan Allah dikerjakan, kekasih Allah tidak tahu menahu, berarti tidak termasuk ahli iman yang dimuliakan Allah.

Kalau kadang-kadang bagaimana? Terkadang perintah Tuhan bisa dikerjakan dan bisa ditinggalkan. Kalau demikian halnya bisa tidak jelas masa depannya. Bila akhir hayatnya bagus, maka selamat, dan sebaliknya.

“Jika engkau meremehkan perintah Allah dan engkau mempermudah yang dilarang Allah, dan engkau malas taat kepadanya dan engkau tidak cinta orang-orang yang dicintai Allah maka berarti engkau termasuk ahli iman juga, tetapi yang diusir/dijauhkan”.

Dikerjakan saja, akan tetapi diremehkan. Kata Tuhan salat, salat saja, akan tetapi keluar waktunya selalu saja mengqada’. Salat Zuhur ke Asar, Asar ke Magrib, dan seterusnya.
Artinya masuk surga juga nantinya, tetapi sesudah proses yang panjang, sesudah siksa, hisab dan lain sebagainya.

Apabila selama ini engkau termasuk ahli iman yang dimuliakan, maka bersyukurlah kepada Allah. “Mintalah kepada Allah selalu mendapat taufik dan dipelihara sampai akhir umur kita”.

Karena kita hari ini bisa baik, tetapi besok belum tentu baik, ditakutkan tidak dapat taufik Allah. Bulan ini bisa bagus, bulan depan kita tidak tahu bisa bagus atau tidak kalau tak ada taufik dari Allah. Kalau selama ini kita sudah bagus, maka bersyukurlah kepada Allah, dan mintalah kepada Allah akan kekalnya taufik itu, dan dipelihara sampai akhir umur kita.

Jadi, jangan juga kita sudah bagus, kemudian merasa aman. Karena aman itu bila sudah kita dalam keadaan bagus sampai akhir hayat. Menjunjung perintah Allah menjauhi larangan-Nya sampai mati itu baru bagus. Kita tidak tahu tahun-tahun nanti apakah masih seperti tahun ini baiknya. Jadi, kalau tahun ini sudah bagus, maka mintalah kepada Allah agar selalu mendapatkan taufik dan dipelihara oleh Allah sampai akhir umur kita.

“Jika selama ini termasuk orang ahli iman yang terusir, maka bersungguh-sungguhlah untuk mengubah keadaan engkau itu”.

Yang masih kadang-kadang mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan agar jangan kadang-kadang lagi. Bila perintah Allah, laksanakan. Bila Allah melarang, jauhi. Tidak ada alasan karena Allah tidak akan melarang sesuatu, melainkan itu adalah mudarat bagi kita.

Allah tidak akan melarang sesuatu yang manfaat untuk kita. Setiap yang diharamkan Allah itu pasti ada mudarat dengan diri kita walaupun kelihatannya manis. Bila untung, tetapi hakikatnya itu ada kerugian yang besar di dalamnya. Misalnya kata Tuhan jangan berbisnis yang seperti ini, jangan dilakukan walaupun banyak untungnya, karena di dalamnya akan timbul kerugian yang besar. Kata Tuhan salat dikerjakan, maka di situ pasti ada kebaikan yang kembali kepada kita.

Jadi, bagi orang ahli iman yang terusir harus bersungguh-sungguh mengubah itu, dan berdoa kepada Allah. Supaya Allah mengubahkan keadaan menjadi keadaan orang yang baik.
“Carilah perantara-perantara yang bisa mengubah keadaan kita itu kepada kebaikan”.

Editor : Arief
#Muhammad Tambrin #Tarbiyah