Pertanyaan tersebut mungkin menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena ada anggapan yang takut menjadi anak durhaka apabila menitipkan orang tua di panti jompo.
Oleh: Ni'mah
Dosen Sosiologi ULM
Namun, dalam banyak kasus tidak jarang orang tua yang tinggal bersama anaknya justru tenaganya di ekspoitasi untuk mengurus cucu dan melakukan pekerjaan rumah. Hal ini mungkin jauh dari apa yang di barangkan orang tua kita yang mana beliau ingin dimasa tuanya menikmati masa pension dengan hidup tenang, sehat dan bermain bersama cucu-cucunya.
Fenomena Ageing Population atau penuaan penduduk adalah fenomena ketika usia rata-rata penduduk suatu negara atau wilayah mengalami peningkatan. Fenomena ini terjadi ketika angka harapan hidup meningkat sedangkan tingkat kesuburan menurun.
Faktor yang membuat angka harapan hidup tinggi diantaranya ialah perbaikan fasilitas Kesehatan, perubahan pola perencanaan dan pernikahan dan urbanisasi. Berdasarkan proyeksi penduduk lansia dari tahun 2020 ada sebanyak 9,99% atau setara dengan 27,1 Juta jiwa lansia menjadi penduduk Indonesia, diprediksikan pada tahun 2030 akan meningkat menjadi 13,82 % atau setara 42 juta jiwa, hal ini sejalan dengan Usia Harapan Hidup (UHH) orang Indonesia yang rata-rata 70.9 tahun. Hal ini tentu menjadi persoalan yang serius apabula penduduk lansia lebih banyak dari pada penduduk usia produktif, karena anak apabila semakin dewasa maka ai akan semakin berdaya, sedangkan lansia menjadi tidak berdaya dengan berbagai masalah seperti Kesehatan fisik dan kognitif akibat faktor umur.
Lansia yang diharapkan ialah lansia yang sehat dan mapan secara financial dengan uang pensiun yang mereka miliki, namun dalam banyak kasus lansia mengalami penurunan Kesehatan dan mengalami kesulitan ekonomi, hal ini menjadi problematika apabila anak harus mengurus orang tua dengan kondisi seperti itu, yang terjadi adalah orang tua dianggap sebagai beban yang kerap kali mendapatkan kekerasan verbal dan tenaganya di ekpoitasi olah sang anak. Lansia memang kerap identic dengan sakit dan disabiltas sehingga dianggap sebagai anggota masyarakat yang tidak produktif dan memiliki fungsi dalam masyarakat yang akhirnya tersisihkan.
Hingga pilihan untuk menitipkan orang tua di panti jompo diambil sebagai solusi bagi orang tua. Karena panti jompo di anggap sebagai tempat yang tepat untuk orang tua dengan sarana, fasilitas, dokter dan perawat yang dapat membuat orang tua kita merasa aman dan terpantau kesehatanya. Pilihan ini terasa tepat bagi sang anak yang sibuk bekerja yang mana tidak mempuyai waktu untuk merawat orang tuannya.
Lalu sekarang, saya akan mencoba memberikan telaah dari masalah ini dari sisi pro dan kontra keputusan untuk menitipkan orang tua di panti jompo. Dari sisi yang pro rasanya benar saja jika kita menitipkan orang tua di panti jompo agar orang tua tidak merasa kesepian karena dipanti jompo mereka akan memiliki teman sebaya yang membuatnya tidak merasa sendirian dan kesepian ini bagus juga untuk psikis orang tua ditambah lagi dengan tenaga medis yang siap menjaga dan melayani para lansia, hal ini tentu membuat orang tua tidak merasa menjadi beban bagi sang anak, tidak merasa diterlantarkan dan di ekspoitasi tenaganya sehingga orang tua bisa hidup dengan tenang dan nyaman di panti jompo.
Dari sisi kontra, ada anggapan menitipkan orang tua ke panti jompo artinya membuat sang anak menjadi anak yang tidak mau mengurus orang tua yang bisa membuat sang anak bisa mendapat klaim anak yang durhaka kepada orang tua, ketakuatan menjadi anak durhaka membuat orang berpikir dua kali untuk menitipkan orang tua di panti jompo, apalagi adanya ganjaran pahala dari Tuhan bagi anak yang mau merawat orang tuanya membuat orang rela tinggal bersama orang tua dan merawatnya.
Namun dalam hal ini semua tergantung keadaan dan pertujuan dari sang orang tua dan anak apapun pilihan yang diambil, sebagai anak kita hanya ingin memberikan kehidupan yang layak untuk orang tua.
Editor : Arief