"Sesungguhnya Allah menjadikan akhirat untuk tempat pembalasan bagi hamba yang mukmin. Sebab dunia ini tidak cukup untuk tempat apa yang akan diberikan kepada mereka. Dan Allah membesarkan kadar orang yang beriman, sehingga tidak diberikan balasan di negeri yang tidak kekal." -Hikmah ke-69 dari Al-Hikam Imam Ahmad Ibnu atha'illah as-sakandari
Oleh: H. Muhammad Tambrin
Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala
Mengapa Allah menjadikan negeri akhirat sebagai pembalasan bagi orang-orang yang beriman, tidak di dunia ini. Sehingga zikir, salat, menuntut ilmu, puasa, zakat, haji dan segala ibadah bila diterima oleh Allah, pahalanya akan diberikan di negeri akhirat.
Penjelasan atas pertanyaan ini disampaikan oleh Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH dalam syarah hikmah ke-69 dari kitab Al Hikam karya Imam Ahmad Ibnu Atha’illah As Sakandari ini. Ada dua alasannya.
Pertama, dunia ini tidak akan memenuhi apa yang ingin Allah berikan dari berbagai macam nikmat, baik secara nyata atau secara makna. Misal salat sunat subuh dua rakaat, diganjar dengan pahala lebih baik dari dunia dan isinya. Tentu dunia ini tidak mencukupi.
Secara nyata, dunia ini, khususnya bumi yang terlihat mata kepala kita, jaraknya sempit penjurunya. Ketika Allah memberikan balasan bagi seorang beriman kekuasaan yang setara dengan perjalanan 500 tahun atau seribu tahun. Maka sempitlah jarak dunia ini dibanding balasan mereka. Dan itu adalah balasan bagi orang yang paling rendah dari penduduk surga. Apalagi bagi orang-orang yang istimewa.
Dunia ini kurang lebih 500.000 kilometer, termasuk laut dan daratnya. Sedangkan Allah memberikan kekuasaan, kavling kepada satu orang yang beriman yang paling rendah derajatnya di surga Allah sepanjang perjalanan 1.000 tahun. Kalau dihitung kurang lebih sekitar 1,8 juta kilometer. Itu hanya satu orang, bagaimana kalau seluruh penduduk surga.
Adapun dunia secara makna, dunia ini fana dan berujung kepada binasa, berujung kepada tiada dan lagi hina. Setiap apapun yang ada di dalam dunia ini, pasti ada yang tidak baik, seperti apapun hebatnya, kecuali junjungan kita Rasulullah SAW.
Manusia seperti apa saja hebatnya, dalam perutnya ada kotoran yang jika dikeluarkan akan memalukan. Ini menunjukkan bahwa dunia itu hina, rendah.
Sedangkan nikmat penduduk surga itu perkara mulia dan sangat berharga, yang tidak patut dikirim ke dunia, tidak bisa disimpan di dunia. Seperti bidadari di akhirat menjadi pembantu-pembantu perempuan dunia yang masuk surga. Sedangkan perempuan surga itu 70 kali lipat lebih cantik daripada bidadari.
Kedua, Allah SWT ingin membesarkan nilai orang-orang beriman, sehingga tidak membalas mereka di negeri dunia yang fana. Karena bagaimanapun kokohnya bangunan dunia, pasti akan roboh. Sedangkan akhirat tidak ada lagi bangunan roboh.
Dalam sebagian akhbar disebut, jika dunia ini terbuat daripada emas, tapi akan hancur. Kalau akhirat itu dari bata tetapi abadi, niscaya orang berakal memilih yang abadi, walaupun dari bata. Ketimbang memilih emas yang binasa.
Misal kita diberi Tuhan umur 10.000 tahun setiap orang. Lalu disuruh memilih mengambil rumah dari bata tetapi boleh didiami sepanjang umur, atau mengambil rumah dari emas dan permata, tetapi hanya boleh ditempati selama 70 tahun. Sisanya menggelandang. Tentu orang yang berakal memilih rumah bata. Itu seandainya dunia ini emas dan akhirat dari bata.
Sedangkan kenyataannya, dunia ini adalah bata dan akan roboh. Sedangkan akhirat adalah emas permata dan kekal selama-selamanya. Sehingga hanya orang-orang yang ditakdirkan celaka dan susah saja yang memilih dunia.
Allah SWT berfirman: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Ali Imran [3] ayat 133).
Jadi jangan mengkhayal surga kalau masih suka berbuat yang haram, masih suka riba, rente, zina. Jika masih seperti itu, jangan mengharap surga, karena surga disediakan Allah untuk orang bertakwa.
Biar naik haji tiap tahun, umrah setiap bulan, tetapi masih suka riba, maka tiada gunanya. Menjauhi riba, itu yang lebih utama. Al-muqaddam yuqaddam, yang utama itu didahulukan.
Mengharapkan surga tapi tidak beramal itu dosa.
Menantikan syafaat Rasulullah dengan tidak menjalani sebab-sebabnya, itu tertipu. Ingin mendapat syafaat Rasulullah di akhirat, tapi selawat tidak, dengan keluarga beliau tidak tahu menahu, maka tertipu.
Berkata Rabiatul Adawiyah dalam sebuah syair, “Engkau mengharapkan selamat, tetapi tidak menjalani jalan keselamatan. Sesungguhnya kapal tidak akan mau berjalan di tempat yang kering”.
Jika ingin selamat, maka patuhi rambu-rambu. Jika ingin selamat, jalani jalan yang selamat. Dalam kehidupan, agama ini, hukum Allah adalah rambu-rambu, yang kalau kita menginginkan keselamatan, maka ikutilah rambu tersebut.(*)
Editor : Arief