Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Wirid

M. Syarifuddin • Jumat, 25 Oktober 2024 - 11:49 WIB
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel

“Apabila engkau melihat seorang hamba yang Allah tempatkan dengan wirid-wirid dan Allah kekalkan hamba itu atas wirid-wirid tersebut, disertai kemudahan dari Allah, maka janganlah engkau remehkan sesuatu yang Allah berikan kepadanya. Engkau mungkin belum melihat tanda-tanda arifin atau keelokan orang-orang yang muhibbin. Jika tidak ada pertolongan hidayah dari Allah, niscaya tidak akan ada wirid tersebut”. - Hikmah ke-65 dari Al-Hikam Al-atha’iyyah Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah.

         Oleh: H Muhammad Tambrin
         Muassis/Pendiri Ponpes Al Fatih Pelaihari Tala

Penjelasan mengenai wirid ini disampaikan oleh Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet. Berdasarkan pandangan Syekh Muhammad Said, wirid adalah amalan yang ditetapkan, baik waktu, amalan dan banyaknya, dilazimkan sebagai bentuk ketaatan, dan ibadah yang bukan fardu.

Wirid tidak sesuatu yang wajib seperti salat lima waktu. Amalan sunah yang tidak dikerjakan terus-menerus juga tidak disebut wirid. Wirid haruslah merupakan perbuatan taat yang dilakukan secara rutin dan dilazimkan, seperti Salat Qabliyah dan Ba’diyah Zuhur dua rakaat setiap hari.

Contoh lainnya adalah seseorang yang membaca surah Yasin, Al-Mulk, atau Al-Waqi’ah setiap malam antara Magrib dan Isya, dan mengerjakannya secara rutin. Ini termasuk wirid. Jika seseorang berzikir dengan jumlah yang tidak tetap, misalnya kadang seratus, kadang dua ratus, maka itu tidak dianggap wirid. Wirid harus jelas waktu dan jumlahnya, misalnya zikir seratus kali setiap hari setelah salat.

Al-Habib Abdullah Al-Alawi Al-Haddad Rahimahullah mengatakan bahwa wirid memiliki dampak besar dalam menerangi hati, dan menjaga anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Wirid tidak perlu banyak, yang penting konsisten. Rasulullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara terus-menerus meskipun sedikit”.

Berzikir seratus kali setiap hari secara konsisten lebih disukai Allah daripada zikir tidak teratur meskipun lebih banyak. Rasulullah SAW juga memberikan petunjuk: “Ambillah amalan yang kamu mampu lakukan secara terus-menerus, karena Allah tidak akan bosan memberi pahala sampai kalian bosan melakukannya”.

Misalnya, seseorang yang ingin berwirid membaca Al-Qur’an bisa menetapkan jumlah tertentu yang bisa ia lakukan setiap hari. Daripada membaca lima juz satu hari lalu berhenti, lebih baik membaca setengah juz setiap hari secara konsisten.

Sebagaimana disebutkan di atas, wirid tidak hanya terbatas pada zikir atau selawat. Membaca Al-Qur’an, tasbih, menuntut ilmu, bahkan tafakur bisa menjadi wirid. Misalnya, seseorang yang rutin bertafakur menjelang Magrib, merenungi dosa dan ibadahnya, atau seseorang yang selalu memberi makan lima orang setiap hari Jumat, ini juga termasuk wirid.

Al-Habib Abdurrahman As-Segaf pernah berkata, “Barang siapa yang tidak memiliki wirid, dia seperti kera. Dan orang yang tidak beradab adalah seperti binatang buas”.

Mengapa tidak memiliki wirid diibaratkan sebagai kera? Karena dalam sejarah umat terdahulu, orang-orang yang membangkang terhadap rasul-rasul mereka diubah menjadi kera sebagai hukuman. Kera dianggap sebagai binatang yang paling buruk. Ini bukan berarti bentuk fisik berubah, tetapi daging dan jiwa orang yang tidak berwirid menjadi jahat. Daging yang terbentuk dari makanan haram atau harta tidak halal dianggap buruk, seburuk daging kera.

Sementara itu, orang tidak beradab, yang tidak memedulikan aturan-aturan halal-haram dan sopan santun, diibaratkan seperti binatang buas. Mereka mungkin tidak berubah menjadi serigala secara fisik, tetapi perilaku mereka menjadi liar, tidak terkendali oleh adab.

Jika kita sudah berwirid tapi belum merasakan manfaatnya, mungkin ada faktor-faktor lain yang memengaruhi. Wirid yang tidak ikhlas atau tanpa kehadiran hati tidak memberikan efek yang diharapkan. Misalnya, ketika seseorang membaca surah Yasin tetapi hatinya tidak hadir, maka amalan itu tidak mencapai tujuannya. Wirid harus disertai dengan kehadiran hati dan niat yang ikhlas.

Selanjutnya, setelah hati hadir dan ikhlas, hasil wirid mungkin belum terlihat, bisa jadi karena adab tidak dijaga. Seperti ketika berzikir dengan posisi tidak hormat, misalnya duduk selonjoran, maka adab ini memengaruhi penerimaan amalan tersebut. Ulama-ulama terdahulu menyarankan agar wirid dilakukan dengan sikap rendah hati, seperti seorang hamba di hadapan Tuhannya, bukan dengan sikap sombong seperti raja.

Termasuk adab dalam menuntut ilmu juga penting. Mungkin seseorang sudah menuntut ilmu bertahun-tahun, tapi belum mendapatkan pemahaman atau kemampuan mengamalkan ilmunya, bisa jadi karena kurangnya adab kepada guru, kitab, atau kepada Allah dan Rasul-Nya.

Membuat wirid adalah langkah penting dalam penerangan hati. Ulama terdahulu telah menyusun wirid-wirid seperti Ratibul Haddad yang berisi tahlil, selawat dan istigfar, yang bisa dijadikan wirid harian.

Kemudian bila seorang hamba yang telah memiliki wirid, serta mampu melakukannya secara konsisten, tetapi orang tersebut belum dibukakan pintu makrifat oleh-Nya, maka jangan anggap remeh keadaan orang tersebut. Hanya karena belum terlihat tanda-tanda seorang arif dalam dirinya, seperti ketentraman, keluasan hati, dan ketiadaan keluhan terhadap makhluk.

Jangan pula anggap remeh keadaannya, hanya karena belum melihat keelokan cintanya kepada Allah yang tampak pada orang-orang rindu kepada-Nya dan segera mencari keridaan-Nya. Tidak boleh kita meremehkan orang seperti ini atau dengan mengucapkan, "Dia banyak wirid tapi kelakuannya seperti orang yang tidak berwirid". Hindarilah sikap tersebut.

Mengapa demikian? Karena kemampuannya berwirid sudah merupakan anugerah besar dari Allah. Jangan anggap enteng anugerah ini. Soal belum dibukakan pintu makrifat, itu bukan masalah kita, melainkan urusan Allah Taala.

Jadi, orang yang berwirid itu sudah beruntung. Meskipun kelakuannya terkadang masih jauh dari kelakuan orang arif, jangan jadikan hal tersebut alasan untuk menghinakannya.

Bagi seorang hamba yang ingin mencapai jalan makrifat kepada Allah, wirid adalah salah satu sarana penting. Wirid akan menerangi hati, dan hati yang terang akan membawa kepada makrifat kepada Allah SWT.(*)

Editor : Arief
#Tarbiyah