Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Demi Raudatul, Sahbirin Akan Muncul

M. Syarifuddin • Jumat, 11 Oktober 2024 | 11:31 WIB

 

Muhammad Syarafuddin
Muhammad Syarafuddin

WARTAWAN yang kerap meliput kegiatan Gubernur Kalimantan Selatan tahu bahwa Sahbirin Noor itu anti-mainstream. Ia berbeda dari kepala daerah kebanyakan.

         Oleh MUHAMMAD SYARAFUDDIN
         Wartawan, tinggal di Banjarmasin

Jangan terkecoh oleh laporan kekayaan ke KPK yang mencapai 24,8 miliar rupiah—Sahbirin sejatinya seorang proletar.

Sahbirin tak sungkan bermain karambol di poskamling. Mengaji di surau reyot pada malam bulan puasa. Makan malam ikan asin bersama warga di pelataran bernyamuk. Menyelam di kolong rumah penuh eceng gondok.

Ia pernah tiba-tiba muncul di sebuah acara dengan mengendarai sepeda motor matic tanpa pengawalan. Ia pernah memanggul karung beras di tengah banjir.

Outfit favorit Sahbirin adalah kaus Eiger, sarung, dan sandal jepit. Kita tidak akan pernah melihat Sahbirin mengenakan simbol-simbol borjuis seperti jam tangan Rolex.

Olahraga favorit Sahbirin adalah futsal dan karate, bukan golf.

Kami juga tidak pernah melihat Sahbirin memegang iPhone. Ia hanya memegang ponsel buluk kecil yang cuma bisa menelepon dan mengirim SMS.

Namun hari ini, semua orang bertanya-tanya, di mana gerangan Sahbirin?

Gubernur dua periode itu ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut Sahbirin meminta jatah fee 5 persen dari proyek-proyek infrastruktur di Banjarmasin dan Banjarbaru. Penetapan tersangka itu buntut operasi senyap yang menciduk anak buah Sahbirin di Dinas Pekerjaan Umum.

Jika Sahbirin mangkir dari pemanggilan KPK, namanya bakal dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO). Menjadi buronan.

Banyak yang berharap Sahbirin muncul. Menghadapi penyidik KPK dengan muka tegak. Tapi itu rasanya terlalu normatif.

Melihat karakternya, saya membayangkan, Sahbirin justru akan mengambil pilihan paling "heroik". Memilih hidup dalam pelarian.

Saat opini ini ditulis, Sahbirin mungkin sedang naik motor trail. Naik turun gunung. Keluar masuk hutan. Menjelajahi Alam Roh.

Lalu singgah di desa yang belum dijangkau internet. Desa-desa yang namanya tak pernah didengar orang kota. Desa yang pernah ia sambangi dalam turdes—program kebanggaannya.

Pejabat biasa tidak mungkin sanggup bertahan hidup di dusun terisolir. Tapi Sahbirin yang telah digembleng Menwa semasa kuliah, bisa survive hanya dengan singkong dan sayur kelakai.

Sesuai jargonnya, Sahbirin terus-menerus bergerak. Berpindah-pindah dari satu desa ke desa… ini adalah tebakan pertama.

Tebakan kedua, Sahbirin mungkin sedang bersembunyi di rumah sahabatnya, Muhammadun. Tapi rasanya musykil.

Karena Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan itu sendiri sedang menghadapi penyelidikan di Ditreskrimum Polda Kalsel. Madun dilaporkan karena dugaan mengancam membacok aktivis LSM.

Tebakan ketiga, beredar rumor, kalau Sahbirin sudah di Jakarta. Tapi tidak logis. Buat apa KPK mencekal Sahbirin dari kabur keluar negeri kalau memang sudah ditahan sejak kemarin.

Tebakan terakhir, Sahbirin berada di Batulicin. Di Tanah Bumbu, tinggal seorang keponakan powerful yang bisa memberikan perlindungan.

Pembaca, tebakan-tebakan di atas tentu hanya imajinasi liar penulis.

Tapi kalau mau serius, prediksi paling masuk akal adalah Sahbirin bersama pengacaranya sedang menyiapkan perlawanan hukum. Mengajukan gugatan praperadilan untuk menggugurkan status tersangkanya.

Kesampingkan semua tebakan di atas, sebenarnya dalam waktu dekat mau tak mau Sahbirin harus muncul.

Tidak ada pilihan. Sebab istrinya, Raudatul Jannah sedang mencalonkan diri di Pilkada 2024. Atas nama cinta, Sahbirin harus keluar.

Sebab pada debat calon gubernur yang disiarkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) nanti, jika Sahbirin masih menghilang, Raudatul akan tersudut.

Rival Sahbirin, Muhidin atau Hasnuryadi Sulaiman, tak perlu repot-repot bertanya apa program Raudatul dalam menghalau banjir. Mereka cukup bertanya, "Acil, di mana suami Pian?"

Bila itu yang terjadi, mending saya mematikan televisi. Saya tak sampai hati tetap menonton untuk mendengar jawaban terbata-bata dari Raudatul.

Editor : Arief
#Opini #SYARAFUDDIN