Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) pernah menyampaikan bahwa minat membaca orang Indonesia itu hanya 0,001%.
Oleh EKO PRAYITNO
Guru SMAN 1 Tanta, Tabalong
ARTINYA jika ada 1.000 orang Indonesia, yang punya minat membaca bagus itu hanya satu orang saja. Bahkan Central Connecticut State University pernah membuat sebuah penelitian, yaitu dalam risetnya "World's Most Literate Nations Ranked", Indonesia pernah menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara di dunia. Sebagai sebuah negara besar tentu hal ini sangat tidak menggembirakan. Ini adalah cerminan belum berhasilnya sistem pendidikan kita selama ini dalam mendorong kualitas literasi terutama minat baca bagi para pelajar.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca orang Indonesia khusus nya dalam hal ini adalah para pelajar. Pertama, faktor internal. Faktor ini mengarah kepada kesadaran individu akan pentingnya memperoleh ilmu pengetahuan, dan pengetahuan itu bisa didapat dari buku, caranya dengan jalan membaca.
Dalam kehidupan sehari-hari kita, ambil saja contoh, kita bisa melihat bagaimana penuh sesaknya sebuah mal atau pasar, itu karena mereka menyadari tujuan mereka datang ke mal tersebut untuk apa, belanja sesuatu yang diinginkan atau sekadar having fun. Begitu juga banyaknya orang datang ke dokter bahkan sampai rela membayar berapa pun yang dokter minta, pasien melakukan hal itu adalah karena ada kesadaran pada diri mereka bahwa untuk memperoleh kesehatan harus menempuh pengobatan, lalu mereka rela antri berjam-jam untuk itu. Satu hal, mereka ingin sehat. Pertanyaanya adalah apakah kita ingin pintar, apakah kita ingin berilmu dan berpengetahuan?
Banyak di antara para pelajar bahkan mahasiswa yang menuntut ilmu bukan karena keinginannya. Mereka mendaftar ke sekolah atau kampus yang mungkin mereka sendiri tidak menginginkannya. Mengambil jurusan sampai mata pelajaran yang asing bagi mereka dan tidak ada hubungan emosional apapun dengan mereka, lalu apakah kita menginginkan mereka berhasil menguasai ilmu dengan baik, tentu tidak. Bagaimana seseorang yang tidak mengenal apa yang dicari bisa mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Yang lebih parah lagi mereka tidak mengerti tujuan apa yang sedang dilakukan tersebut.
Sebenarnya hal ini telah terbaca oleh pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu dengan diterbitkannya Kurikulum Merdeka. Secara sederhana dipahami bahwa kurikulum ini memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk berinovasi dan berkreasi tentang kurikulum. Kemudian para pelajar diberi kemerdekaan dengan pelajran -pelajaran yang mereka sukai.
Akan tetapi masalah mulai timbul, mulai dari pilihan jenis pelajaran yang ada, terbatasnya jumlah SDM dan juga sarana prasarana. Belum lagi nanti jika dihubungkan dengan jumlah jam pelajaran yang jadi acuan kinerja guru tentu akan menjadi rumit lagi. Akan tetapi dengan konsep Merdeka Belajar ini sebenarnya memberi angin segar bagi peserta didik dan sekolah, hanya saja Merdeka Belajar memang belum benar-benar bisa dikatakan sebagai merdeka dalam arti yang sebenarnya karena masih ada syarat dan ketentuan yang berlaku.
Seharusnya siapapun orangnya hendaknya memandang ilmu pengetahuan itu sebagai bahan utama sukses dalam kehidupan, sebagai nyawa kehidupan. Tanpa ilmu orang tidak akan banyak berguna di dunia maupun akhirat. Dan ilmu itu bisa didapat dengan cara membaca.
Kedua, faktor eksternal. Faktor ini sangat signifikan dalam membentuk habit atau kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari apalagi dengan masalah kebiasaan membaca. Rumah atau keluarga adalah madrasah terbaik bagi seorang anak. Rumah adalah pondasi karakter. Di dalamnya terbentuk pribadi-pribadi, di sana ada keteladanan, keharmonisan, konsistensi, spiritualisme dan segala hal pembentuk pribadi seseorang.
Dalam sebuah teori belajar sosial (Social Learning Theory) yang dikembangkan oleh Albert Bandura: teori ini menjelaskan bahwa anak-anak itu belajar melalui beberapa tahap yaitu pengamatan dan peniruan perilaku orang lain, termasuk orang tua. Hal ini semakin memperjelas posisi vitalnya orang tua dalam membentuk keteladanan dalam mencintai ilmu pengetahuan, membentuk kecintaan terhadap aktivitas membaca.
Orang tua adalah pusat perhatian setiap anaknya, bahkan bisa dikatakan anak adalah cerminan orang tuanya, meskipun itu tidak semua benar. Akan tetapi secara umum kebiasaan anak adalah hasil proses percontohan yang dilakukan oleh seorang anak. Lihatlah bagaimana orang tua yang punya hobi menyanyi cenderung mempunyai anak yang menyenangi dunia tarik suara. Seorang ustad akan senantiasa memperhatikan kualitas ibadah anak-anaknya, begitulah normalnya sebuah rumah.
Sehingga menjadi wajar apabila budaya membaca rendah adalah karena orang tua tidak memberi contoh dalam budaya itu di rumah. Ayah dan ibu setelah seharian mencari nafkah mungkin merasa sangat lelah dan disalurkan dengan bermain smartphone, seperti itu setiap hari dan menjadi pembenaran yang kuat bagi anak-anaknya dalam hal kebiasaan menghabiskan waktu istirahat atau senggangnya. Hal akan berbeda jika ayah dan ibu selalu terlihat memegang buku di hadapan anak-anaknya.
Ketiga, faktor regulasi. Diakui atau tidak, jelas regulasi yang ada belum menjangkau sampai alam bawah sadar generasi bangsa ini untuk menjadikan budaya membaca sebagai lifestyle. Finlandia sebagai salah satu negara yang mempunyai minat baca terbaik di dunia, memulainya memang dari gaya hidup. Para orang tua membacakan dongeng kepada anaknya sebelum tidur, secara tidak langsung anak akan terstimulasi mencintai buku, berakrab-akrab dengan tulisan-tulisan dan gambar. Mereka mempunyai perpustakaan yang lengkap dan mudah diakses dengan fasilitas kenyamanan yang tentu berkelas.
Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Pemerintah pusat dan daerah harus benar-benar membuat sebuah terobosan sistem Pendidikan yang menitik beratkan kepada literasi khususnya budaya membaca ini. Sudah waktunya meninggalkan cara-cara konvensional dalam meningkatkan minat baca, seperti lomba-lomba atau duta-duta yang hanya bersifat seremonial. Event dan kompetisi jelas perlu akan tetapi hendaknya yang berkesinambungan, jelas dan terukur. Sehingga event-event yang digelar oleh pemerintah dalam menggenjot budaya baca tidak berhenti sampai di sertifikat dan piala, akan tetapi bisa membudaya.
Orang yang bersekolah belum tentu terdidik, orang yang terdidik belum tentu lulusan lembaga pendidikan resmi. Karena ilmu pengetahuan bisa didapat dari membaca. Ingatlah ayat pertama dalam Al-Qur’an, "Iqra!" (*/fud)
Editor : Arief