Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Literasi Bencana dan Peran Media

M. Syarifuddin • Rabu, 28 Agustus 2024 | 04:32 WIB
TEGUH PAMUNGKAS
TEGUH PAMUNGKAS

HARI ini berita dan informasi tentang bencana dengan cepat dapat kita peroleh. Saat hari itu terjadi bencana, selang tak berapa lama di hari itu pula informasi bisa sampai ke tempat kita. Berbagai media massa, baik media cetak, media elektronik dan media online mengangkat kebencanaan sebagai sajian utama (headline).

         Oleh TEGUH PAMUNGKAS
         Alumni ilmu komunikasi UIN Bandung

Media massa memiliki peran penting dalam menginformasikan keadaan yang tengah terjadi. Media massa bukan sekadar meneruskan informasi. Memang peran jurnalisme mengumpulkan, mengolah dan mendistribusikan informasi ke masyarakat. Namun dalam hal kebencanaan tugas media lebih dari itu, dari informasi yang ada akan memunculkan opini publik dan mendorong hadirnya suatu keputusan-keputusan, baik perorangan maupun institusi.

Kita masih ingat, di tahun 2021 banjir melanda Kalsel. Waktu itu, banjir telah melumpuhkan aktivitas warga, karena akses jalan yang terputus dan tak sedikit warga yang kehilangan tempat tinggalnya. Oleh media (Radar Banjarmasin), informasi tersebut diinformasikan ke khalayak publik melalui media cetak dan media onlinenya. Bukan hanya itu, kemarau panjanng yang mengakibatkan bencana kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di Kalsel juga tak luput dari pemberitaan.

Dan informasi kebencanaan yang terjadi di Kalsel tidak hanya menjadi headline media lokal, namun hangat pula sebagai berita nasional. Rupanya, saat itu media memberitakan dengan empati atas apa yang dialami oleh saudaranya di Kalsel. Aktivitas menghimpun berita, mencari fakta dan data, serta melaporkan peristiwa tersajikan lebih bisa menyentuh serta dirasakan oleh khalayak.

Bencana banjir, longsor, gempa bumi, dan lainnya datang tanpa kita prediksi. Seperti pada 2004 silam, Aceh porak-poranda oleh gempa bumi dan tsunami. Lebih dari 150 ribu orang meninggal dunia dan banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Bukan hanya televisi, media massa dari surat kabar dan radio banyak memberitakan bencana di Aceh. Media arus utama (mainstream) dari dalam dan luar negeri mengemas peristiwa dalam berbagai liputan.

Saat sebagai volunteer, saya bertanya pada jurnalis dari Jepang yang meliput langsung gempa dan tsunami di Aceh, "Mengapa anda dari Jepang meliput bencana dan tsunami Aceh?" Ia menjawab, "Kami meliput bencana ini untuk menginformasikan ke orang-orang Jepang, karena kondisi geografis Jepang dengan Aceh ada kesamaan."

Peran Media

Menurut Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, bahwa pers nasional berkewajiban memberikan peristiwa dan opini dengan menghormati nilai-nilai agama dan norma masyarakat yang berlaku. Dalam Pasal 3 ayat (1) dijelaskan, lembaga pers nasional memiliki empat fungsi utama, yakni informasi, hiburan, pendidikan dan kontrol sosial.

Sebagaimana kita ketahui, media massa mengulas isu-isu yang bergulir dan berkembang di masyarakat. Oleh media dipilih untuk diangkat, yang selanjutnya diolah, dikemas dan disajikan ke masyarakat dengan berbagai informasi yang layak konsumsi.

Dan Pasal 3 ayat (2) berbunyi, bahwa pers nasional dapat berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Berkaitan dengan suatu bisnis, media arus utama memilah dan memilih mana saja yang mampu menarik pembaca, pendengar dan pemirsa. Sudah barang tentu juga memperhitungkan pula dengan pengiklan, memperhatikan finansial dari segi bisnis media.

Meskipun di satu sisi sebagai pertimbangan bisnis, karena tentunya berkaitam dengan keberlangsungan media. Namun di sisi lain aspek idealisme media tidak bisa ditinggalkan, tetap mengacu fungsi media.

Melalui informasi dan pemberitaan media, negara Turki menghimpun informasi yang akhirnya tak segan-segan membantu untuk pemulihan Aceh. Turki termasuk negara yang berperan aktif membantu Indonesia dalam rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh.

Dari medialah masyarakat membaca, mendengar dan mengetahui bencana dan peristiwa lainnya terjadi. Turki dan Suriah beberapa waktu lalu sempat mengalami gempa. Lewat media orang-orang bisa merasakan empati atas musibah yang dirasakan oleh saudara-saudara kita, baik di dalam maupun di luar negeri. Banyak orang yang medoakan korban gempa di Turki dan Suriah. Orang-orang menggalang donasi yang selanjutnya melalui lembaga donasi menyampaikannya di sana.

Pemerintah Indonesia, organisasi-organisasi dan LSM telah memberangkatkan personil sebagai volunteer, membawa peralatan untuk penanganan bencana serta mengirim logistik bantuan. Bergerak menuju ke lokasi bencana Turki-Suriah dengan misi kemanusiaan.

Melalui pemberitaan yang ada, organisasi dan institusi merespons atas bencana yang datang melanda. Dengan mempelajari laporan liputan dan analisa kebencanaan yang terjadi bisa sebagai referensi dalam menentukan keputusan. Sekaligus tentunya informasi bencana yang ada sebagai pengetahuan dan menambah wawasan bagi masyarakat, sesuai dengan peran media, salah satunya berfungsi sebagai pendidikan untuk mitigasi bencana.

Dunia jurnalistik merupakan jendela dalam menumbuhkan kepedulian sesama manusia. Informasi yang disampaikan media massa sebagai literasi dalam hal kebencanaan. Di dalamnya terkandung aktivitas ajakan kepada khalayak, yang kemudian dipahami dan dimaknai, selanjutnya oleh masyarakat sebagai edukasi dalam mengasah kepekaan diri.

Editor : Arief
#Opini