Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pohon Beringin dan Reklamasi Tambang

M. Syarifuddin • Selasa, 27 Agustus 2024 | 13:07 WIB
DIDIK TRIWIBOWO
DIDIK TRIWIBOWO

SEBAGAI informasi awal, kata pohon beringin (nama latin Ficus benjamina) yang dimaksud dalam judul tulisan ini memang benar-benar dalam artian sebenarnya. Sebagai salah satu jenis pohon dalam genus ficus yang tersebar di Asia Tenggara, secara lokal di Kalimantan Selatan dikenal sebagai pohon kariwaya.

        Oleh DIDIK TRIWIBOWO
        Mahasiswa program doktor ilmu lingkungan
        Universitas Lambung Mangkurat

Jadi kata beringin di sini tak terkait dengan lambang partai politik yang hangat dibincangkan karena "pohon beringin akhirnya kalah di tangan tukang kayu".

Di alam, pohon beringin memiliki rentang hidup yang panjang. Bisa lebih dari seabad. Memiliki diameter batang yang besar dan kokoh menjulang sampai 50 meter disertai akar udara yang memiliki kesan mistis, daun hijau rimbun, sehingga menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida secara efektif. Dan buahnya menjadi sumber makanan hewan frugivor, hewan pemakan buah dari burung sampai primata.

Bahkan buah tin yang memiliki kandungan gizi tinggi, yang menjadi salah satu nama surah dalam Al-Qur'an adalah salah satu jenis ficus yang memiliki nama latin Ficus carica.

Di lapangan, sebenarnya jarang ada tukang kayu menebang beringin untuk dimanfaatkan kayunya. Sebab kayu pohon beringin tidak cocok dijadikan mebel maupun konstruksi karena serat kayunya kurang memiliki kekuatan struktural yang baik.

Beringin juga memiliki karakteristik adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan ekstrem, misalnya lahan dengan tingkat kesuburan rendah bahkan berbatu. Sering kita melihat anakan pohon-pohon beringin yang tumbuh di sela-sela retakan tembok, dinding selokan, atau paving block. Kemampuan adaptasi tinggi beringin dan ficus lainnya sangat cocok untuk mendukung program konservasi maupun reklamasi lahan bekas tambang.

Lahan bekas tambang yang memiliki ciri-ciri miskin unsur hara dan tingkat kesuburan tanah rendah, kemampuan infiltrasi tanah rendah dan bulk density yang tinggi, maka diperlukan pemilihan jenis vegetasi yang cocok. Selain mampu tumbuh dengan baik, beringin juga dapat memberikan manfaat ekologi jangka panjang. Sistem perakaran beringin dengan akar tunjang yang kuat dan mampu menembus kerasnya tanah berbatu akan memberikan manfaat untuk menstabilkan lahan pascatambang agar tidak mudah tererosi atau longsor.

Perakaran ini juga akan meningkatkan inflitrasi/meresapkan air saat terjadi hujan, sehingga mengurangi aliran permukaan yang berlebihan yang dapat memicu banjir.

Pembibitan Beringin

Penyiapan bibit beringin untuk reklamasi dan revegetasi tambang dimulai dari kegiatan pembibitan beringin di nursery atau persemaian. Terkait persemaian ini, tidak tanggung-tanggung, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Perpres Nomor 77 Tahun 2024 tentang Percepatan Pembangunan dan Pengelolaan Fasilitas Persemaian pada Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.

Luar biasa! Seorang presiden mengeluarkan Perpres yang sangat teknis terkait persemaian. Concern beliau terkait persemaian dan pembibitan mungkin karena latar belakang pendidikan di bidang kehutanan dan sebelumnya berprofesi sebagai pengusaha mebel yang menyadari pentingnya pembibitan sebagai bagian dari keberlanjutan supply kayu untuk mebel.

Atau mungkin untuk menegaskan bagi ormas keagamaan yang akan masuk ke bisnis tambang, jangan lupa menyiapkan juga fasilitas nursery sebagai bagian dari bisnis pertambangan. Bisa juga dipandang untuk mengingatkan menambang merupakan rangkaian bisnis proses yang tidak hanya mengambil bahan galian saja, tapi juga tanggung jawabnya sampai dengan reklamasi dan pascatambang. Jadi memang menambang tidak cukup dijalankan dengan retorika dan doa.

Kembali ke proses pembibitan beringin, proses pembibitannya dapat dilakukan baik secara vegetatif maupun generatif, biasanya dilakukan keduanya. Pembibitan vegetatif dilakukan dengan cara stek atau cangkok dari pohon indukan, sementara generatif dilakukan melalui proses persemaian biji yang terdapat di dalam buah pohon beringin. Metode vegetatif memiliki keunggulan cocok untuk pembibitan skala besar reklamasi tambang yang memerlukan hasil cepat dan seragam.

Namun, untuk menjaga dan meningkatkan keberagaman genetik, metode pembibitan dengan cara generatif juga diperlukan, meskipun perlu proses yang lebih panjang. Keragaman beringin di Kalimantan Selatan sangat tinggi, sehingga baik untuk keperluan pembibitan secara vegetatif maupun generatif dapat dilakukan dengan mudah. Dengan demikian dari sisi biaya penyiapan bibit juga akan lebih murah.

Bibit yang diperoleh dari kedua metode tersebut kemudian ditumbuhkan di persemaian dengan media tanam yang sudah disiapkan yang menjamin ketersediaan unsur hara untuk memperkuat sistem perakarannya sebelum nantinya siap ditanam di lokasi reklamasi/revegetasi.

Di lokasi reklamasi sendiri sebelumnya telah diupayakan penataan lahan untuk memastikan kestabilan lahan dari semua aspek. Di antaranya pengendalian erosi dan air asam tambang dan yang penting untuk media tanam adalah lahan revegetasi telah dilapisi dengan tanah pucuk (top soil). Penanaman juga harus mempertimbangkan musim tanam yang tepat agar bibit mampu bertahan untuk hidup dan tumbuh dengan baik.

Penanaman di area reklamasi tidak hanya satu dua jenis tanaman saja, karena harus mempertimbangkan keanekaragaman jenis pohon. Secara umum diperlukan jenis-jenis tanaman cepat tumbuh (fast-growing species) seperti sengon (Paraserianthes falcataria) dan sengon buto (Albizia chinensis). Pohon sengon ini memiliki pertumbuhan cepat dan mampu tumbuh di lahan dengan kesuburan rendah. Akarnya juga mampu memperbaiki struktur tanah dan menambah nitrogen dalam tanah melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium.

Peran tanaman cepat tumbuh adalah membentuk iklim mikro dan tutupan tajuk sehingga berperan dalam mengurangi erosi lahan. Ada manfaat ekonomi untuk pohon-pohon cepat tumbuh ini, yaitu kayunya dapat dipanen untuk dimanfaatkan plywood (kayu Lapis), pulp (bubur kertas) dan keras, konstruksi dan mebel.

Sementara itu, beringin menjadi salah satu tanaman lokal yang berumur panjang, yang nantinya akan menggantikan peran tanaman-tanaman jenis fast-growing. Nah, seharusnya memang tanaman cepat tumbuh seperti pohon sengon ini yang ditebang, bukan pohon beringin yang seharusnya terus dijaga keberadaannya di alam lingkungan (termasuk di alam demokrasi).

Manfaat Jangka Panjang

Strategi reklamasi dan revegetasi dengan menggunakan pohon beringin memberikan manfaat jangka panjang yang signifikan, tidak hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi masyarakat jika direncanakan dengan baik. Salah satu konsep yang bisa diterapkan selain menjadi pilihan jenis tanaman lokal berdaur panjang, juga menjadi pilihan untuk tanaman eco-green belt. Konsep ini adalah menanam jenis beringin pada batas terluar/perimeter aktivitas tambang terbuka, sehingga membentuk pagar penghalang alami yang memisahkan area tapak operasi tambang dengan area di luar tapak tambang.

Green-belt atau sabuk hijau raksasa dari tanaman Beringin ini dapat membentuk pagar alami yang melindungi area sekitar operasi tambang dari debu maupun polusi lainnya dari aktifitas tambang selain itu menjadi rangkaian sabuk hijau yang memiliki nilai dan fungsi pencegah longsor dan erosi, hidrologi, ekologi dan estetika tinggi.

Selain penanaman pada batas terluar/perimeter terluar tambang, Beringin juga cocok menjadi eco-green belt sekeling danau pascatambang. Danau pascatambang terbentuk dari lubang bekas tambang final (final void) yang terisi dengan air permukaan maupun air tanah dari daerah tangkapan air (catchment area) di sekitarnya. Dengan sistem perakaran akar tunggang dan yang kuat dan dalam, beringin mampu menstabilkan lereng danau pascatambang sehingga terhindar dari risiko longsor dan mengurangi risiko erosi dari permukaan lereng danau pascatambang.

Secara ekologis, beringin akan membantu memulihkan kembali keanekaragaman hayati di lahan bekas tambang. Beringin ini jika tumbuh besar akan menjadi pohon konservasi yang memiliki fungsi penting dalam ekosistem. Hal ini dikenal sebagai spesies kunci atau keystone species, yaitu spesies (baik tanaman maupun hewan) yang memiliki peran signifikan dalam ekosistemnya.

Keberadaan beringin mampu mempengaruhi struktur dan fungsi ekosistem secara keseluruhan di antaranya, pertama sebagai penyedia sumber pangan bagi spesies fauna seperti serangga, burung, kelelawar maupun primata; kedua sebagai pembentuk habitat bagi berbagai spesies misalnya untuk tempat bersarang dan beristirahat karena memiliki kanopi yang lebar dan rindang; ketiga, stabilisasi ekosistem khususnya lahan baik di daerah lereng maupun dekat dengan badan air dan mampu memberikan iklim mikro yang bermanfaat bagi spesies lainnya baik flora maupun fauna, keempat jika digabungkan dengan jenis ficus lainnya seperti Ficus racemosa (pohon loa) dapat menjadi sumber pakan Bekantan, spesies endemik Kalimantan yang menjadi maskot Kalsel.

Selain itu, secara sosial ekonomi bisa dikembangkan sebagai calon untuk tanaman bonsai. Bonsai dari genus ficus sangat populer, selain beringin, juga jenis lain seperti pohon bodhi (Ficus religiosa), beringin dolar (Ficus deltoidea) karena bentuk daunnya seperti koin, atau juga dikembangkan pohon tin (Ficus carica).

Sebagai kesimpulan, beringin merupakan salah satu keystone species yang memiliki peran penting dan kritis dalam ekosistem khususnya lahan pascatambang. Keberadaannya memastikan stabilitas dan keberlanjutan ekosistem, untuk itu perlu dijaga dan dirawat, bukan ditebang.

Editor : Arief
#Opini