Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Nur, Bashirah dan Qalb

M. Syarifuddin • Jumat, 23 Agustus 2024 | 04:33 WIB
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel
H Muhammad Tambrin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kalsel

“Nur yang diberikan Allah kepada manusia, berfungsi untuk membuka. Bashirah (mata hati) kemudian memutuskan. Sementara Qalb (hati) bertugas untuk menerima atau menolak keputusan tersebut.”
-Hikmah yang ke-55 dari Al-Hikam Al-Atha’iyyah, Imam Ahmad bin Atha’illah As-Sakandari Rahimahullah.

            Oleh: H Muhammad Tambrin
            Kepala Kanwil Kemenag Kalsel

Al-Mukarram Al-Allamah Al-Arif Billah KH Muhammad Bakhiet mensyarahkan bahwa dalam diri kita Allah memberikan tiga karunia. Pertama, cahaya yang fungsinya membuka segala perkara, sehingga menjadi terang benderang. Awalnya, kita tidak tahu menjadi tahu, tidak melihat jadi melihat, tidak mendengar jadi mendengar. Kedua, bashirah yakni mata hati yang bertugas memutuskan mana baik dan mana buruk, mana diambil dan mana dibuang, mana diteruskan dan mana yang disetop. Ketiga, hati yang fungsinya adalah menerima atau menolak keputusan mati hati tadi.

Para ulama memberikan contoh, seseorang masuk ke rumah yang gelap gulita, di mana terdapat berlian, emas, uang, kalajengking, ular, dan berbagai binatang buas. Dalam keadaan gelap, kita tidak tahu mana yang berbahaya dan mana berharga. Maka Allah mendatangkan cahaya, memungkinkan kita melihat dan membedakan segala sesuatu yang ada di dalam rumah itu. Mata hati kemudian adalah memutuskan mana yang baik, seperti emas dan berlian, serta mana yang buruk, seperti kalajengking dan ular. Selanjutnya, tinggal hati yang menentukan apakah akan mengikuti atau tidak keputusan mata hati tersebut.

Demikianlah dalam kehidupan, seperti baiknya ketaatan dan buruknya kemaksiatan, kita mengetahuinya karena cahaya yang Allah berikan. Orang yang berbuat maksiat bukan karena mereka tidak tahu bahwa itu haram. Orang yang berzina, makan riba, mabuk, tahu itu semua haram, karena ada cahaya iman dalam hatinya yang memberitahu mereka. Namun, karena mata hatinya sudah tertutup dan tidak berfungsi, akhirnya mereka tidak bisa memutuskan mana baik dan mana yang buruk.

Taat kepada Allah itu perbuatan baik, seperti menuntut ilmu. Cahaya atau nur yang dititipkan Allah dalam diri kita, memberi tahu betapa banyak kebaikan menuntut ilmu.

Apa kebaikan taat? Pertama di dalam taat itu ada keridaan Allah. Keridaan ini yang paling kita cari.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: Dan keridaan Allah adalah lebih besar. (At taubah: 72)
Jika kita melakukan sebuah ketaatan seperti menuntut ilmu, maka kita mendapatkan keridaan dari Allah yang merupakan nikmat paling besar. Bahkan di surga nanti, para ahli surga akan tetap meminta keridaan Allah.

Dengan taat mendapat rida malaikat. Ketika kita melakukan ketaatan, seperti menuntut ilmu, malaikat-malaikat Allah yang jumlahnya tak terhitung akan rida kepada kita. Rida malaikat berarti mereka memintakan ampun kepada Allah untuk kita.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang meniti jalan menuntut ilmu, Allah akan memudahkan untuknya jalan menuju surga, dan sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayapnya-sayapnya karena rida dengan perbuatan penuntut ilmu.”

Semakin jauh tempat kita menuntut ilmu, semakin banyak malaikat yang menaungi kita, dan semakin banyak pula yang menghamparkan sayapnya sebagai permadani kita berjalan.

Jutaan malaikat yang tak terhitung jumlahnya selalu memintakan ampun kepada Allah untuk kita. Karena itu, dalam hadis atau perkataan ulama, orang yang menuntut ilmu diampuni dosa-dosanya karena malaikat senang dengan perbuatan tersebut.

Ketaatan juga menyenangkan Rasulullah. Jika umatnya berbuat taat kepada Allah, Rasulullah gembira. Melihat umatnya berkumpul menuntut ilmu dengan ikhlas karena Allah, Rasulullah tersenyum. Rasulullah SAW menyatakan bahwa amal umatnya diperlihatkan kepada beliau pada hari-hari tertentu, dan beliau akan gembira jika melihat umatnya taat kepada Allah.

Namun, jika melihat umatnya bermaksiat, Rasulullah akan kecewa dan bersedih. Berkumpul untuk menuntut ilmu atau melakukan ibadah lainnya yang taat kepada Allah adalah perbuatan yang menyenangkan Rasulullah SAW.

Sebuah ketaatan juga adalah bentuk rasa syukur. Kita diberi Allah kekuatan, penglihatan, pendengaran, kelapangan, keuangan, dan semua itu bersatu terkumpul pada saat ini sebagai bukti bahwa kita bersyukur kepada Allah. Dengan melakukan satu ketaatan, kita menunaikan kewajiban untuk mensyukuri nikmat Allah. Taat pun menarik berkah.

Ketika kita salat dua rakaat, berkahnya dapat dirasakan pada umur, badan, keluarga, anak-anak, harta, bahkan negara. Semua itu mendapatkan berkah karena ketaatan kepada Allah.
Taat juga penerang hati. Membaca selawat satu kali membuat hati kita terang, dan semakin sering kita taat semakin terang pula hati kita. Taat mendekatkan kita kepada surga.

Rasulullah SAW menyampaikan bahwa majelis ilmu adalah “Taman Surga.” Majelis zikir dan ilmu yang dinamakan taman ini dekat dengan rumahnya, yakni surga. Artinya, jika kita meninggal saat menuntut ilmu, kita akan masuk surga.

Taat pun menjauhkan kita dari neraka. Taat merupakan tanda husnul khatimah seseorang dan dengan taat pula, dosa-dosa kita dihapuskan oleh Allah SWT. Salat Zuhur yang dilakukan dengan baik akan menghapus dosa dari subuh hingga zuhur. Salat Asar yang dilakukan dengan baik akan menghapus dosa antara Zuhur dan Asar. Wallahu a'lam. *

Editor : Arief
#Tarbiyah