Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Sejarah Serbuk Abate dan Aplikasinya

M. Syarifuddin • Jumat, 19 Juli 2024 | 12:30 WIB
YOHANES JOKO SUPRIYADI
YOHANES JOKO SUPRIYADI

DALAM upaya memberantas jentik atau larva nyamuk, banyak masyarakat Indonesia yang belum memahami apa itu abate dan bagaimana cara menggunakannya. Abate adalah insektisida golongan organofosfat (senyawa fosfat organik yang mengandung gugus phosphorothioate) yang efektif membunuh larva nyamuk dan insekta air lainnya.

         Oleh YOHANES JOKO SUPRIYADI
         Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), abate adalah serbuk obat pembasmi larva nyamuk. Abate cenderung stabil, terutama dalam pH 8, sehingga tidak mudah terhidrolisis dalam air.

Abate diaplikasikan dalam bentuk bubuk kristal padat yang tidak mudah larut dalam air dan cenderung stabil pada suhu ruangan. Di dalam air, abate akan bertahan beberapa hari sebelum mengalami degradasi. Dari segi kesehatan, abate dianggap tidak beracun bagi manusia kecuali dalam dosis yang sangat besar. Abate juga tidak mengubah rasa, warna, dan bau air yang ditaburi abate.

Walaupun efektif memberantas berbagai macam insekta air, abate lebih sering dikenal sebagai pembunuh larva nyamuk, terutama larva nyamuk demam berdarah (Aedes sp). Penggunaan abate untuk mengontrol larva nyamuk telah dilakukan sejak tahun 1965 dan sampai saat ini, abate merupakan satu-satunya senyawa golongan organofosfat yang digunakan untuk tujuan tersebut.

Abate dapat masuk ke dalam tubuh melalui kulit, terhirup melalui pernapasan, atau tertelan melalui mulut. Cara kerja abate adalah menghambat enzim cholinesterase baik pada vertebrata maupun invertebrata, sehingga mengganggu aktivitas saraf karena tertimbunnya acetylcholine pada ujung saraf.

Enzim cholinesterase berfungsi menghidrolisis acetylcholine menjadi cholin dan asam cuka. Jika enzim tersebut dihambat, hidrolisis acetylcholine tidak terjadi, sehingga otot akan tetap berkontraksi dalam waktu lama dan menyebabkan kekejangan. Dengan menggunakan abate, enzim cholinesterase akan diikat atau dihancurkan, sehingga terjadi kekejangan otot secara terus-menerus dan akhirnya larva nyamuk akan mati.

Abate cenderung aman dan praktis digunakan oleh masyarakat sebagai upaya memberantas perkembangan nyamuk demam berdarah. Biasanya abate dijual bebas di berbagai apotek atau dapat diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan (puskesmas).

Cara menggunakan abate harus sesuai dengan ketentuan, yaitu sebanyak 10 gram abate untuk 100 liter air. Sebagai ukuran, petugas kesehatan biasanya menggunakan sendok makan, dengan satu sendok makan peres abate (± 10 gram) dimasukkan ke dalam 100 liter air. Abate akan menempel di dinding tempat penampungan air dan mampu bertahan selama tiga bulan.

Selama tiga bulan tersebut, kita tidak perlu menyikat dinding tempat penampungan air. Abate digunakan pada tempat-tempat penampungan air yang tergenang seperti pot/jambangan bunga, selokan kecil yang airnya tergenang, dan tidak bermanfaat digunakan pada air mengalir. Abate juga tidak cocok digunakan untuk sumur.

Editor : Arief
#Opini